Aku belajar arti “PELAYANAN”

(Grace Ekanegara)

“Pelayanan”. Satu kata yang mempunyai banyak makna. Satu kata yang membuat aku selalu bertanya dan tidak ku mengerti maknanya. Kata yang sering kali aku dengar diucapkan oleh teman-temanku dengan kegembiraan yang meluap-luap. Cerita-cerita mereka hanya membuatku terperangah dan semakin terjerumus dalam ketidak mengertianku.

Suatu kali kata yang sama terlontar dari teman yang baru aku temui, menohok tepat dijantungku, ketika mereka bercerita banyaknya “pelayanan” yang telah mereka lakukan, banyaknya pelajaran yang mereka dapat bahkan banyaknya Tuhan berbicara pada mereka melalui peristiwa-peristiwa yang dialami. Aku merasa tidak berarti bila dibandingkan dengan mereka yang telah melakukan “pelayanan” kemana-mana, punya disiplin doa luar biasa dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi. Sedangkan aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Tidak ku lakukan pelayanan seperti apa yang mereka ceritakan.

Aku ingin belajar agar menjadi lebih baik – mengalami hidup yang diubahkan seperti mereka. Aku ingin lebih mengerti arti pelayanan dan dengan pengharapan kalau seandainya bisa dan mungkin, aku juga ingin mengalami perjumpaan dengan Tuhan seperti yang mereka ceritakan.

Aku tidak punya kemampuan untuk melakukan “pelayanan” seperti teman-temanku, yang aku punya hanya keinginan untuk memberikan kegembiraan bagi orang-orang yang akan ku temui. Aku tidak mengerti perkataan yang mereka bicarakan tentang “pelayanan”, yang aku tahu bagaimana sebisa mungkin orang-orang disekitar ku akan terhibur dengan hal-hal kecil yang aku lakukan.

Jadi dengan bekal keinginan dan kemampuan minim itu aku mengikuti perjalanan pelayanan kasih.

Pembelajaran pertama ku dimulai segera pada saat kami berkumpul untuk berangkat. Aku yang sulit untuk segera akrab dengan orang yang baru aku kenal mulai menempatkan diri ku sebagai pengamat. Ada teman yang belum pernah ku jumpai tetapi telah memperoleh cap galak dalam pikiranku. Ternyata setelah kami bertemu dan berinteraksi selama menunggu, teman itu bukanlah seperti apa yang aku pikirkan. Cap yang aku berikan padanya perlahan-lahan menguap.

Aku belajar bahwa apa yang dipikirkan sering kali berbeda dengan kenyataan. Aku mestinya bisa lebih membuka hati dalam keadaan apapun.

Pembelajaran berikutnya ketika aku mencoba untuk membuat teman ku bersuka cita karena hasrat hatinya untuk memberi dengan penuh kasih terpenuhi. Ternyata hasil kerja ku nilainya nol besar. Walaupun tujuan ku jelas, ternyata sikap tegasku membuat orang lain menjadi takut. Membuat orang lain merasa tidak nyaman berada didekatku, membuat hatinya menjadi luka. Ini aku ketahui karena diucapkan berkali-kali olehnya betapa ia menjadi takut, betapa bedanya dia dan aku. Yang paling membuat ku tertegun ketika dikatakannya pula bahwa aku harus diketusin baru bisa mengerti kalau ada orang yang sakit hati karena perkataanku.

Secara aku yang bodoh ini, karena aku tidak mempunyai pikiran sedikitpun untuk melukai hati, untuk membuat takut, untuk mengambil alih, untuk tidak berperasaan dan sejuta hal-hal semacam itu lainnya, perkataannya agak menggoncangkan jiwaku.

Aku lebih belajar menerima bahwa setiap orang memang unik dan berbeda dan memang perbedaan itu ada untuk –bila mana mungkin- saling melengkapi.

Pembelajaran lain lagi. Tiba-tiba ntah datangnya dari mana, aku mendengar kata iri hati, kata yang menurutku, karena diucapkan dengan berapi-api dan mata yang mungkin tidak sengaja tertuju padaku, telah membuat jiwaku kembali tergoncang. Padahal apa yang dikatakannya itu, terlintas dalam otak ku yang kecil ini pun tidak.

Aku belajar bahwa bila aku terus berpikiran positif maka aku akan dapat mengendalikan diriku dari emosi yang dapat membunuh jiwa.

Pembelajaran lagi. Ketika semua dalam keadaan lelah tetapi masih harus menyelesaikan pekerjaan, maka keinginan untuk segera menyelesaikan perkerjaan juga bertambah. Akibatnya ketidak sabaran memuncak, nada suara dalam menjawab akan naik satu oktaf lebih tinggi. Kata-kata yang tidak terkontrol dapat terlontar dengan mudah.

Aku belajar dalam keadaan lelah, emosi bisa tidak terkendali, tetapi dengan mengingat yang paling penting adalah tujuan utama yang harus menjadi prioritas maka perasaan adalah urutan terakhir. .

Pembelajaran terus belanjut. Setiap orang punya keinginan untuk memuaskan dirinya. Ada yang dapat menahan diri, ada pula yang merasa segala keinginannya harus terpenuhi. Pertimbangan bahwa ukuran pelayanan menempati persentase tertinggi bila dibandingkan dengan bersenang-senang, tidak terpikirkan atau tertanam dengan kuat dalam pikiran. Sehingga “Aku” memenangkan presentase terbanyak.

Aku belajar seharusnya aku harus lebih dapat menahan diri untuk memuaskan hati dan menjadikan itu suatu persembahan kasih dalam perjalanan ini.

Dan aku berjumpa dengan Tuhan melalui malaikat penolong. Ketika aku mulai merasa terganggu karena nilai-nilai negative yang mulai mempengaruhi jiwa, malaikat penolongku bekerja melalui sosok seorang teman yang baru ku kenal. Ia dengan gayanya yang lucu memberi semangat, dimatanya aku orang yang berbeda. Ia mengingatkan ku kembali tujuan dasar kami bersama-sama, melayani dengan kasih. Ia mengajariku tanpa menggurui untuk menikmati setiap keadaan dengan suka cita.

Aku belajar bahwa Tuhan seringkali menampakkan Diri-Nya melalui orang-orang disekeliling bahkan seringkali orang-orang yang tak terduga.

Ketika ku renungkan ternyata benar apa yang teman-temanku katakan tentang pelayanan. Banyak pelajaran yang didapat ketika melakukan pelayanan. Dan semua peristiwa yang terjadi tidak menjadi masalah berarti ketika aku mengandalkan Dia yang telah memilihku untuk melakukan perjalanan pelayanan ini.

“Pelayanan” menurut versi ku adalah keberanian mengosongkan diri untuk memberi lebih banyak walaupun terluka.

Baca juga

  • what the most fun song u ever sing?
  • Makna Hari Buruh (untukku)
  • Dering DariNya
  • Aborsi berarti Membunuh…
  • Tentang hari ini…
  • KELANA 2009-07-28 09:28:00
  • Aku Hanya
  • Babak terakhir
  • Ketika AL4Y Bicara Dengan Manusia Normal |5 Menit Baca=1 Jam NGAKAK (ini loh yg namanya AL4Y )
  • Berbagi Kasih Di Panti Asuhan

Leave a comment

Your comment