Sahabat Sejiwa
SAHABAT SEJIWA
Disebuah kursi pesawat udara yang kutumpangi dalam suatu penerbangan panjang, aku membolak balikan tubuhku. Aku mencoba untuk tidur sejenak dan menenangkan pikiranku. Bahkan aku sudah menelan pil Antimo dengan pengharapan agar aku dapat jatuh tertidur selama perjalanan ini. Kegelisahan yang menyergapku ternyata lebih kuat . Ya, aku gelisah mereka-reka seperti apa pertemuan yang akan terjadi nanti. Tentang apa yang akan kukatakan ketika kita bertemu, perasaan-perasaan yang kira-kira akan bergejolak hingga pikiran yang bertanya adakah ia masih seperti dulu. Adakah kami masih mempunyai perasaan-perasaan seperti dulu.
Sesungguhnya adiknyalah yang pertama kali menjadi temanku. Kami menjadi baik dan akhirnya keluargaku dan keluarganya pun saling berkenalan. Aku juga sudah tidak ingat bagaimana mulanya aku menjadi lebih akrab dengan kakak perempuannya ini. Mugkin karena aku tidak mempunyai kakak sehingga bila bersamanya aku merasa disayang atau karena sifat kami sama sehingga omongan kami nyambung bahkan kata-kata seringkali tidak lagi kami perlukan untuk mengutarakan pikiran-pikiran kami. Tapi itu sudah lama sekali.
Hampir tigapuluh tahun sudah ia mengikuti suaminya pergi dan tinggal dibelahan dunia yang lain, di negara lain. Selama kurun waktu itu kami hanya bertemu tiga kali dan setahun dua kali bercakap-cakap lewat telepon. Biasanya pada hari ulang tahun salah satu dari kami. Cerita yang diutarakan hanyalah cerita-cerita ringan seputar keluarga. Apa dan siapa yang sakit, promosi, pensiun atau kesibukan dalam pekerjaan yang banyak menyita waktu. Tidak ada kata-kata atau cerita yang melibatkan emosi, semua terkesan datar dan biasa-biasa saja. Seakan-akan kami menjadi dua orang kenalan yang sedang berbagi informasi dan berusaha saling menjajaki satu sama lain. Akh . . . .
Serasa aku terus menghitung tiap detik yang dilalui dalam kegelisahan pikiranku hingga akhirnya pesawat mendarat dengan mulus. Dengan perasaan tidak menentu aku turut mengantri dalam antrian panjang untuk melalui pemeriksaan yang ketat hingga akhirnya semua urusan dokumen terselesaikan.
Aku menyalakan telepon genggamku dan segera kulihat pesan singkatnya bahwa ia akan datang sedikit terlambat karena ada pertemuan mendadak dikantornya. Dia juga memintaku menunggu di luar pintu kedatangan nomor 2 agar ia tidak perlu lagi memarkir mobil.
Kudorong kereta yang berisi koper kecilku keluar pintu kedatangan nomor 2 seperti yang diinstruksikan. Dan brrr . . .segera angin dingin menerpa wajahku. Untung aku sudah mempersiapkan diri dengan memakai mantel cukup tebal. Dalam udara dingin aku membiarkan pikiranku terus sibuk bertanya kira-kira apa yang akan terjadi nanti.
Cukup lama aku duduk menunggu ketika tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna coklat metalik gelap mendekat. Dari jendela mobil yang terbuka terdengar teriakan dengan suara khasnya :”kelamaan nunggu ya, udah jadi es batu belum??? . . .” Bruk, bruk terdengar pintu mobil tergesa dibuka. Segera ia berdiri dihadapanku dengan senyum merekah lalu kami berpelukan. Celoteh riang ciri khasnya segera memenuhi telinga, perlahan tapi pasti melambungkan kegembiraan dalam jiwa.
Dalam perjalanan selama empatpuluh lima menit dari airport menuju kerumahnya kami saling bertukar berita. Sesekali saling mengolok tentang tubuh yang kelihatan tambah montok, rambut yang sudah mulai menipis, mata yang tambah lamur dan masih banyak lagi. Masih dalam batas-batas penjajakan. Perlahan tapi pasti rasa hangat mulai menjalar dihati.
Baru setelah beberapa hari bersama-sama, ikatan-ikatan yang tak terlihat diantara kami mulai bermunculan. Ikatan-ikatan yang juga tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata bahkan barangkali tidak sepenuhnya kami sadari. Hal-hal kecil yang membuat kami selalu merasa nyaman bila bersama. Misalnya ketika kami pergi berbelanja hampir setiap kali kami memilih barang yang sama. Bila memilih pakaian salah satu dari kami selalu berkata dengan yakin, elo pilih yang hijaukan? Dan dugaan itu 90% benar. Atau bahkan ketika kami mempunyai pikiran-pikiran iseng mengenai seseorang yang kami temui dijalan, kami cukup saling melempar pandang dan pastinya diikuti dengan suara tawa kami bersamaan. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Sttt, . . . . bahkan ia juga mempunyai baju tidur yang sama seperti yang aku bawa, padahal kami tidak janjian ketika membelinya. Suatu kebetulan-kebetulan yang manis.
Seorang teman pernah bertanya dengan heran mengapa aku suka sekali pergi ke negara tempat tinggal sahabatku itu. Bahkan bila kemudian aku berkunjung kesana aku lebih suka menghabiskan waktuku dirumahnya. Menurut hemat temanku itu mestinya aku dapat mengisi waktu dengan pergi mengunjungi tempat-tempat yang memang belum pernah aku kunjungi dan bukan menghabiskan waktu dirumah saja. Jarang ada kesempatan seperti itu katanya beragumentasi.
Mungkin memang benar seharusnya itu yang aku lakukan, tapi aku lebih suka menghabiskan waktuku bersamanya dan menikmati kebersamaan kami. Untukku menunggu saat sahabatku pulang dari kantor setiap hari merupakan kegembiraan tersendiri karena setelahnya kami dapat menonton tv bersama, mengomentari ini itu, mempersiapkan bahan makan malam bersama, bahkan sekedar duduk bersebelahan tanpa kata-kata. Aku masih suka tidur bergelung disisinya diatas sofa ketika kami nonton tv. Bahkan pernah pula kami berdua tertidur di sofa sementara tv masih menyala, tak tahu lagi apa yang kami bicarakan atau kami tonton hehehe . . . Dia juga masih cerewet mengatur kesehatanku seperti dulu.
Ketika kami bersama, kata-kata menjadi tidak ada artinya bila dibandingkan perasaan yang melingkupi, mengetahui bahwa kita ada bersama. Sahabatku dan aku membagikan cerita kehidupan yang kami lalui dengan cara kami sendiri. Lembah gelap, jalan curam, tikungan tajam yang pernah dilalui tidak membutuhkan cerita lengkap dalam ungkapan penuh kata-kata dan derai air mata. Tatapan mata berkabut, elusan lembut dikepala, tepukan ringan pada bahu sudah sanggup mengangkat beban yang ada dan membagikan rasa, aku mengerti. Kalau mau lebih diperhatikan lagi, kami lebih banyak berkomunikasi lewat perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran kami.
Perasaan dicintai tanpa syarat, diterima apa adanya dan dimengerti membuat hati terasa teduh dan hangat sehingga yang lain menjadi kurang menarik lagi. Perasaan-perasaan yang kemudian menjadi ikatan-ikatan yang tak terlihat tapi ada. Mungkin itu yang membuat aku betah berlama-lama didekatnya. Mungkin juga itu yang dinamakan sahabat sejiwa.
Akh, aku jadi tidak sabar menunggu kesempatan untuk dapat meluangkan waktu bersama sahabatku itu lagi. Duduk bersama dalam diam memperhatikan daun-daun pohon yang berguguran dan tupai yang belarian kian kemari. Menikmati angin dingin yang membelai wajah. Ditemani sebuah buku dan segelas kopi panas yang masih mengepul.
Namun untuk sementara ini aku harus puas dengan memeluk engkau dalam hatiku, penuh dengan ucapan syukur karena aku punya engkau. Dan karena menyadari bahwa jarak dan waktu tidak mengubah perasaan-perasaan yang ada. Dan aku juga tahu walaupun engkau jauh disana engkau juga mempunyai dan turut merasakan perasaan yang sama.
Happy Valentine Sahabat Sejiwaku . . . . . .












