Selamat kembali, Sahabat

(Grace Ekanegara)

Agak terkejut aku membaca pesan singkat di telepon gengam ku pagi ini, “Ketemuan dong, penting!!” Memang sudah agak lama seorang sahabat lamaku terus menerus mengirimkan pesan singkat yang mengatakan ia ingin bertemu untuk berbagi cerita. Sudah berapa tahun lewat kami tidak pernah bertemu hingga hari ini aku menerima pesan singkat itu lagi.

Keragu-raguanku untuk bertemu berdua dengannya membuatku menunda-nunda waktu untuk menjawab pesan-pesan singkatnya yang dikirimkan bertubi-tubi. Penting!! Penting!! Penting!! Sepenting apakah masalahnya sehingga aku berani melanggar janjiku dalam hati untuk bertemu dengannya? Janjiku dalam hati yang kuikrarkan ketika ia mengatakan bahwa istrinya cemburu bila ia masih berhubungan denganku, cemburu bila ia masih berbagi cerita tentang banyak hal dan juga berbagi tawa yang hanya kami berdua yang mengerti maknanya.

Sambil menimang-imang hp, aku teringat pertama kali kami berkenalan. Dulu, dulu sekali… ketika kami masih SD, kami berdua merupakan penyewa buku komik yang rajin dari taman bacaan dekat rumah. Setiap ada buku terbitan baru mulai dari Kho Ping Ho, Gundala Putra Petir hingga Si Buta Dari Goa Hantu, kami selalu berlomba-lomba untuk menjadi peminjam pertama. Pertama kali bertemu dan berkenalan adalah ketika suatu kali kami datang bersamaan dan ingin meminjam buku yang sama. Dengan gayanya yang keras kepala ia tetap mengatakan harus meminjam lebih dahulu sehingga adu mulut pun tak dapat dihindari. Sesudahnya kami jadi berteman malah patungan untuk menyewa buku-buku sehingga lebih murah membayar sewanya.

Ketika kami remaja, walaupun sekolah kami berbeda, sering kali kami berangkat atau pulang sekolah bersama-sama. Pada masa itu sahabatku ini termasuk orang kaya, untuk ke sekolah setiap hari ia biasa diantar dan dijemput oleh sopir. Tetapi ia juga sering kali menungguku di terminal bus lapangan banteng untuk pulang naik bus bersama. Pernah satu kali, Jakarta hujan lebat dan jalanan di mana-mana macet. Ketika keluar dari halaman sekolah untuk pulang, aku lihat sahabatku ini ada di seberang jalan kehujanan menanti aku keluar. Hari itu merupakan salah satu hari yang tak terlupakan dan penuh kegembiraan. Kami berhujan-hujanan beberapa jam lamanya dan berjalan kaki hingga cukup jauh karena tidak ada kendaraan umum yang kosong untuk kami tumpangi. Kapok? Jawabannya: Tidak!

Bahkan pada masa-masa itu itu pula, masa cari “gebetan”, ia selalu mengajak aku untuk “mengintip” maksudnya untuk membantu menilai gadis yang menjadi incarannya. Bahkan tak segan kami berdua pergi ke rumah sang gadis untuk mengajak gadis itu pergi dan ketika diperkenalkan, aku mengaku sebagai adiknya. Banyak pengalaman lucu yang terjadi dan membuat kami tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak ketika mengingat saat itu. Sahabatku itu juga seringkali “menyelamatkan” aku dengan berpura-pura menjadi kekasihku bila diperlukan.

Kami juga biasa berbagi banyak hal, mulai dari mimpi-mimpi hingga harapan-harapan akan masa depan.

Pernah pula pada suatu masa, kami mencoba menjadi pasangan kekasih yang ternyata tidak berjalan sukses. Terlalu lama kami bersama tanpa topeng-topeng, tidak ada lagi kejutan-kejutan karena langkah apapun akan diambil oleh salah satu dari kami, kami pasti sudah mengetahuinya, tidak ada hal yang dapat kami sembunyikan. Jadi kami sepakat untuk tinggal sebagai sahabat, tempat di mana kami dapat berbagi cerita tanpa takut menjadi diri sendiri. Hingga saat itu, saat ia menikah dan berkata bahwa istrinya cemburu. Ah, berapa lama sudah kami tidak bertemu? 10 atau lebih, 15 tahun mungkin?

Aku abaikan segala pertimbangan dan aku putuskan untuk memenuhi permintaannya. Kubalas pesan singkatnya, “Ya, hari ini di Café XX jam 3 siang.”

Di sinilah kami, duduk berhadapan dengan sedikit canggung, saling meneliti perubahan-perubahan yang terjadi. Tahun-tahun yang lewat merupakan waktu yang cukup banyak untuk melihat adanya perubahan. Tidak terlihat lagi tubuh yang ramping atau langsing, perut yang rata atau rambut yang hitam, yang ada pria dan wanita separuh baya, masih terlihat muda walaupun termakan usia dengan “kembang jambu” yang sudah mulai banyak terlihat tumbuh di kepala.

Kata pembuka sungguh merupakan hal yang mengejutkan, “Aku jatuh cinta lagi dengan yang lain.” Beberapa helaan nafas, pandangan menyelidik, senyum jenaka mulai terkembang dan mulailah segala kekakuan mencair. Kami menjadi kami yang dulu, mencoba menelaah persoalan yang dihadapi dari berbagai sisi. Mengapa begini, mengapa harus begitu. Langkah yang ini atau langkah yang itu. Kami bicara terus bicara, beragumentasi, menimbang-nimbang, berbagi perasaan-perasaan mendalam tanpa ada rasa menghakimi.

Keluar juga pertanyaan dari mulutku ketika pada akhirnya kami harus berpisah, “Why me?” Katanya, hanya aku yang dia percaya untuk menilai, memberi pendapat tanpa takut dihakimi, tanpa ada rasa keberpihakan dan dapat menunjukan dengan jelas apa yang seharusnya dilakukan serta sejuta kemungkinan lain yang dapat diterima. Kulihat sahabatku yang dulu, kutemui sinar yang sama di matanya, tulus dan percaya.

Pernah kudengar, sahabat yang berlainan jenis biasanya tidak langgeng. Banyak kendala yang kemudian akan membuat persahabatan tidak lagi menyenangkan. Ternyata yang kutemui tidaklah demikian. Kami tetap menjadi sahabat yang tulus dan dapat saling berbagi.

Tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang paling beruntung, mempunyai sahabat seperti dia, aku merasa kaya. Jabat tangan erat dan selamat kembali, Sahabat.

Baca juga

  • Kematian Hati
  • semanis kismis
  • Sebuah Kenangan Tentangmu
  • Kelinci Pembenci Wortel
  • Kapan?
  • Suatu Saat di Kuta Bali
  • sedikit saja tentang dia (berbalik sedikit saja)
  • Indonesia Merdeka?
  • 28Th Love Letter ” Untuk Seucap mimpi”
  • Every abortion is just …

Comments (1)

Angel LiAugust 6th, 2009 at 9:06 am

Wah, ini nih orang yang ngaku ga bisa nulis tp tulisannya baguuuzzzz…. Keep humble, but keep the confident too, Ci :-D

Leave a comment

Your comment