Masih Ada Sejumput Kasih di Progo
(Grace Natali)
Minggu, 27 Juni 2010
Kereta Progo jurusan Jogjakarta-Jakarta berlari kencang menembus kepekatan malam. Angin kencang berhembus di sela-sela jendela kereta ekonomi ini. Masing-masing penumpang telah duduk manis di bangkunya. Sembari sesekali membenarkan letak duduknya di bangku yang keras. Masih 11 jam lagi sebelum kereta mencapai stasiun Senen, Jakarta.
Tiba di stasiun Janti, naiklah ibu setengah baya ke dalam gerbong delapan. Terbungkuk-bungkuk ia membimbing putra kecilnya melewati lorong gerbong. Ia kehabisan tiket duduk. Namun, ia tak tega membuat putranya berdiri sepanjang malam untuk mencapai Jakarta. Memikirkannya saja membuat hatinya miris.
Matanya nanar mencari-cari tempat duduk yang sekiranya masih kosong. Jemari kurusnya tak henti-hentinya memainkan jari kecil anaknya. Ia tak mau menyerah. Tempat duduk harus ia dapatkan. Ke kiri ke kanan ia melihat, namun nihil. Semua bangku telah terisi penuh. Tak satu pun penumpang memedulikannya. Bahkan tatapan aneh ia dapatkan dari mereka. Seakan-akan semua penumpang hanya peduli pada diri masing-masing.
Bahu kurusnya hanya bisa terkulai lemas. Terbayang di benaknya berbelas-belas jam lagi ia dan buah hatinya harus berdiri. Ia pasrah. Bocah kecil kumal di depannya dipandanginya dalam. Matanya yang hitam pucat itu seakan-akan mengatakan, “Sabar, ya Nak.”
Bocah berusia delapan tahun itu terdiam dan menenggak ludah. Ia lelah tapi tak tahu harus berbuat apa. Mengeluh pun percuma. Lebih baik berdiam diri. Kiranya itu bisa meringankan beban sang ibu.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menyandarkan diri di pinggiran bangku salah satu penumpang. Sekiranya itu bisa mengurangi sedikit rasa lelah mereka. Mata wanita berbaju kuning itu sudah basah. Ditutupnya kedua kelopak matanya agar bulir air mata itu tak dilihat oleh sang anak. “Aku tak boleh menangis,” ucapnya dalam hati.
Wanita itu terhenyak. Benarkah ia mendengar seseorang memanggil? Siapa? Ataukah itu hanya halusinasinya belaka?
Lagi-lagi suara yang sama kembali bergema di telinganya. Ya, kali ini dia yakin ada yang memanggilnya. Atau lebih tepatnya panggilan itu untuknya. Ujung matanya menangkap sesosok lelaki tambun berusia 40-an berbalut kaos putih yang sedang tersenyum.Wajahnya nampak ramah. Tangan kanan lelaki itu melambai kepadanya.
“Bu, duduk di sini saja,” kata lelaki itu sembari menepuk-nepuk kursi yang ada di hadapannya.
Keriput di dahi wanita itu bertambah. Bingung bercampur kaget memenuhi batinnya. Siapa gerangan pria itu? Mengapa pula ia mau berbagi kursi dengannya?
Enggan menerima, ia pun menggelengkan kepala.”Ndak, Pak. Makasih. saya berdiri saja.”
“Eh, jangan gitu,” sergah lelaki itu, “perjalanannya masih jauh sekali. Kasihan kan kalau anak ibu dan ibu harus berdiri terlalu lama. Nanti gimana anaknya mau tidur? Repot kan? Apalagi setelah ini pasti semakin banyak orang yang naik.”
Wanita itu hanya bisa terpana. Ia berganti-ganti memandang sang anak dan lelaki baik hati itu. Genggaman sang anak menguat di tangannya. Tampaknya, ia memang harus segera mengambil keputusan..
Kaki-kaki yang lelah itu pun bergeser ke bangku yang telah disediakan. Ternyata di sana sudah duduk seorang anak lelaki kecil berusia 5 tahun. “Ini anak saya,” jelasnya lagi. Di sebelah lelaki itu, ada pula seorang anak yang usianya lebih tua dibanding anak yang akan menjadi teman sebangkunya.
“Kami sebenarnya akan pergi ke Jakarta.” Bapak itu membuka pembicaraan. Dibiarkannya si Ibu kebingungan dan emandangnya dengan ekspresi bertanya-tanya. “Saya lalu memesan bangku lebih ini agar saya dan kedua anak ini bisa lebih nyaman dalam perjalanan. Lagipula, kan mereka juga butuh tidur. Hahaha…,” gurau lelaki bertubuh tambun itu lagi. Tangannya mengelus-elus puncak kepala putranya yang sedang memperhatikan penghuni baru di kursi mereka.
“Lalu,” si Ibu yang sedari tadi haya diam mulai memberanikan diri untuk membuka suara, “kenapa? Kenapa Bapak mau membantu saya dan anak saya?” Tangan keriput itu mulai melinting-linting pakaian kuning kumalnya. Bibir bawahnya tak luput dari gigitan kecil giginya.
Pria itu hanya tersenyum. “Perlukah hal itu dijawab?” Tegas dan jelas. Membuat relung hati wanita kurus itu bergetar.
“Perlukah?” tanyanya dalam hati. Ia memberanikan diri untuk mengangguk.
“Karena saya juga seperti ibu. Kita adalah orang tua. Masakkan orang tua tega membiarkan anaknya berdiri selama lebih dari 11 jam untuk sampai ke tempat tujuan. Apalagi Ibu adalah seorang wanita. Tegakah hati saya untuk membiarkan perempuan dan anaknya berdiri sementara saya dan kedua anak saya enak tidur dengan bangku yang lebih ini?”
Wanita itu hanya bisa berkaca-kaca. Dalam hati ia menangis lirih. Sungguhkah hal ini benar terjadi? Masih adakah orang baik di dunia ini?
Kereta Progo masih terus membelah udara malam yang dingin. Namun, sekarang berbeda. Ia dan anaknya tak harus melewati perjalanan panjang itu sambil berdiri menahan berat tubuh masing-masing. Kini sang anak bisa tertidur nyenyak di pangkuannya.
Seiring turun naik dengkur bocah dalam dekapannya, sang ibu hanya memanjatkan syukur yang teramat sangat. Biarpun banyak orang berkata tak ada lagi orang yang peduli dengan kesulitan orang kecil, ternyata masih ada sedikit orang yang memiliki hati. Hati untuknya dan anaknya.
Ya, kerasnya tempat duduk kereta tak membuat semua penumpangnya memiliki hati yang sama kerasnya. Justru di sini, di kereta ekonomi bernama Progo, masih tersisa sejumput kasih untuk orang-orang sepertinya…
Sumber gambar: http://i683.photobucket.com/albums/vv197/Ambulakral/Locoargo3.jpg













