Balada Kesepian

(Ika Devita S)

Kehidupanku sederhana saja. Aku masih lajang. Bukan berarti aku tidak mau beristri. Rumah yang ditinggalkan almarhum orang tuaku juga tidak terlalu buruk. Aku hanya belum menemukan gadis yang sanggup membuka kunci hatiku. Gadis yang banyak kutemui adalah mereka yang haus perhatian. Almarhum ibuku pernah berkata, “Nak, jangan cari istri yang cantik. Cari saja yang taat beribadah. Walaupun pendiam tapi dia setia”

Akupun menuruti kata-kata ibuku. Suatu hari aku dapatkan seorang gadis yang santun. Dia taat beribadah. Tidak pernah dilupakannya saat-saat berdoa. Semua kewajiban pun dia lakukan. Dia tidak pernah membantah. Anaknya penurut. Suatu hari saat aku ingin menjadikan dia istriku, dia menolak. Ayahnya tidak setuju. Aku merasa gagal. Aku kecewa. Mengapa tidak dari awal saja aku dekati ayahnya!

Aku tahu, hidup di seberang terminal sangat sulit. Keramaian yang tidak pernah berhenti. Kegaduhan saat para penumpang mudik. Semua kadang kala membuat aku ingin pindah. Tapi aku kembali mengingat bagaimana ayah dan ibuku berjuang untuk mendapatkan rumah ini. Bagaimana setiap tetes keringat mereka begitu berarti. Tidak akan aku jual rumah ini. Aku akan tetap tinggal meski penumpang-penumpang bus itu begitu gaduh. Kadang anak mereka menangis, kadang rokok mereka dilempar sembarangan di depan rumahku. Kadang…

Ah, isi mobilku sudah penuh. Aku harus kembali mengisi kantongku. Pekerjaan ini memang berat tetapi demi sebutir nasi, mau tidak mau ini harus dilakukan. Apa, namaku? Tidak perlu kau tahu, karena kau juga akan melupakanku. Aku harus segera beranjak. Kita akan lanjutkan percakapan kita di lain waktu. Hmm..Kamu boleh panggil aku seperti mereka memanggilku saat menepuk pundakku. Mereka biasa meneriakkan, “Kiri pak!”

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Comments (2)

G. Lini HanafiahMay 16th, 2010 at 7:23 am

soale kalo bilang, “kanan, pak!”
nanti dijawab, “ini bukan transjakarta, bu!”

Indra AfrizaMay 16th, 2010 at 10:36 pm

ini pasti mobilnya pake teknologi voice recognition, kalo mo brenti cukup dgn teriak aja.. ckckckck.. canggih nian..

Leave a comment

Your comment