DEAR SUNDAY- PART 3

(Irene Wibowo)

Sunday, 20 Januari 2008 , pk 21.09

Dear Sunday,
Oh menyebalkan! Bukannya senang-senang dihari minggu, malah menyebalkan! Ada saja yang membuatku benci.
Bagus sekali! Sudah jam 9 malam?? ARggg….kenapa aku tidak bisa menyukai saudaramu, Sunday?? Yang berarti Monday, Tuesday, dan seterusnya.
Mendengar namanya saja sudah membuatku lelah. Bagaimana ya membuat mereka terlihat menyenangkan dimataku?
Aku jadi teringat, senin minggu lalu, adalah hari menyebalkan buatku. Kau tahu mengapa? Ketika aku di kantor, ada orang yang bikin aku marah. Kau tahu siapa dia? Hari namanya. Dari namanya saja sudah membuatku sebal. ( maaf bukan menjelekkan nama depanmu juga, Sunday. Dia beda denganmu.


Kau tahu? Dia menyuruhku mengerjakan tugasnya karena dia mau meeting dan katanya hari itu deadlinenya. Gila aja dia! Dia piker aku ga punya pekerjaan lain apa? Jelas aku marah dan aku bentak dia. Emmm, tidak secara langsung sih. Soalnya aku paling ga bisa marah di depan orang. Ya, udah aku kerjakan saja.
Terus dihari berikutnya setiap kali dia ngajak bicara aku, aku pasang muka paling bête yang aku milikin. Biar dia tahu rasa! Aku banyak diemin dia. Hmm, dosa juga si ya, sun! Tapi sebel. Dia bukan bos, udah main perintah, dan dia orang ga disiplin! Aku benci orang yang ga disiplin. PLUS dia suka LEDEKIN aku! OMG! Memang aku bertubuh kecil, terus kenapa? Dia pikir aku ga punya otak apa?
Dan hari ini, dia menelpon aku hanya menyuruh aku untuk datang besok pagi lebih awal! Biasanya aku bisa tidur sampai jam 9 pagi, dan besok dia menyuruh aku datang jam 7 pagi? Siapa dia!
Sudahlah Sunday. Aku sebel bicarakan dia. Kayaknya hari ini harus berakhir dulu. Padahal aku belum menceritakan apapun padamu hari-hari berikutnya.
Em, nanti saja aku pasti lanjutkan lagi.
Love Emma.

Tertarik dengan yang ini?

  • MIENEVIERE part 3 (tamat)
  • MIENEVIERE part 2
  • Mieneviere (part 1)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya #8_Piring Makan Jingga
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#7)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#6)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#5)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#4)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#3)
  • Kisah Nyah Ndut dan Pudel Hitamnya (#2)

Leave a comment

Your comment