JANUARI

( Irene Wibowo )

Aku tidak akan bisa menuliskan ini, bila bukan aku yang merasakannya. Januari yang dingin seakan menghangat. Ian namanya, dia hadir di hari yang tidak pernah aku duga. Memang aku merindukan kehadiran seseorang dalam hidupku. Dan dia hadir, tepat di saat aku menangis di tengah taman kota yang padat dan sibuk ini. Dia duduk di sampingku, menawarkan sehelai saputangan untuk menghapus mataku. Kemudian dia berkata, “ langit sudah tersenyum, mengapa kau tetap menangis?” Terdengar gombal, saat itu aku mengangkat kepalaku untuk melihatnya, dia tersenyum. Senyum yang tidak pernah bisa aku lupakan.
*****
1 tahun kemudian, 24 Desember 2010, Pk 17.20
“ Emma, dimana kamu?” teriak ian di tengah keramaian kota.
“ Kenapa kamu telepon aku?” jawabku marah di telepon. Ya, ini sudah ketiga kalinya aku memarahi dia, karena dia menelpon aku hampir 3 jam sekali untuk mencari tahu dimana aku berada.
“Aku…ak…”
“ 3 kali aku sudah katakan aku sedang berada di sekolah. Hari ini ada pentas Natal, dan murid-muridku akan bermain drama. Mengapa kamu tidak langsung kesini saja?” kataku menjelaskannya.
“ Em, aku akan tiba disana 15 menit lagi. Kamu jangan kemana-mana ya. Sampai nanti.”
*****
Sejam kemudian, 24 Desember 2010, Pk 18.30
“ Emma, apa yang sedang kamu lakukan? Pertunjukkan akan segera dimulai, ayo masuk!” ajak Lia.
Dia selalu membuat aku khawatir. Hari ini dia tidak seperti biasanya. Dia sudah terlalu sering berbuat seperti itu, tapi tidak membuatku sekhawatir ini. Selama hampir 14 bulan bersama Ian, seakan setiap hari menjadi hari yang tidak terduga.
Pernah suatu kali, di hari jadi kita, dia membuatku sangat khawatir dengan tidak menghubungiku sama sekali. Dan ternyata di tengah malam, dia menelponku, dan dia membawakan aku satu buket bunga mawar putih dengan kue coklat yang di hias indah. Ternyata, dia melupakan hari jadi kita, ketika aku bertanya pada hari itu bagaimana kita akan merayakannya. Dan hari itu, memang kita bertengkar seperti anak kecil. Dia menyesal dan memberikan kejutan yang sangat tidak terduga. Aku tidak pernah mengira, Ian yang biasa seperti anak kecil, saat itu dia menunjukkan sayangnya dan terlihat dewasa.
Sudah 12 kali aku melihat kebelakang, menantikan kehadiran dia, sejak pertunjukkan dimulai. Tapi dia tidak kunjung datang. Saat ini, murid-muridku, dengan balutan kostum yang unik dan lucu, sedang memainkan peristiwa kelahiran Tuhan Yesus. Mereka sangat lucu. Aku menyukai anak kecil, itulah mengapa aku mengajar di sekolah. Memang bukan cita-cita yang aku inginkan. Sejak dulu, mimpiku adalah menjadi penulis puisi. Tapi semua berubah, impianku menjadi penulis puisi, sekarang hanya sekedar hobi saja.
“ Apakah Ian sudah hadir?” tanya Lia berbisik di saat lampu dimatikan.
“ Belum. Aku tidak bisa menghubunginya,” balasku berbisik.
“ Baiklah. Aku sudah melihat kamu berkali-kali seperti ini. Ian membohongimu,” kata Lia penuh percaya diri.
Tidak, Ian tidak membohongiku. Dia selalu hadir, bila dia katakan akan hadir. Ya, memang harus diakui, belakangan ini, dia cukup sering mengucapkan janji palsu. Entah apa yang sedang dia kerjakan. Selalu saja terlambat, atau tidak datang sama sekali. Dan akhirya kami selalu bertengkar.
Kemana dia? Pikirku. Cukup lelah bila aku harus bertengkar lagi dengannya. Pertunjukkan akhirnya selesai. Aku berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Aku sangat bangga dengan murid-murid kecilku ini. Kemudian aku mendapatkan telpon dari ibu ian, dan kemudian kepalaku pusing, pandanganku kabur, aku terjatuh.
*****
Sehari sebelumnya, 23 Desember 2010, Pk 08.00
“ Emma,” panggil Ian ditelpon.
“ Ia, aku dengar. Kenapa?” tanyaku.
“ Aku di depan rumahmu. Keluarlah!” kata Ian.
“ Masuk saja. Ada mamaku dibawah.” Balasku.
“ TIdak, aku akan menunggumu hingga kau keluar. Okay!”
Tut…tut… tut…
Baru jam 8 pagi. Kenapa dia tiba-tiba datang sepagi ini? Aku segera membereskan diri. Dan kemudian turun kebawah dan membukakan pintu untuk Ian. Namun, tidak ada siapa-siapa diluar sana. Aku memencet nomor Ian. Tidak bisa dihubungi. Permainan apa ini? Aku akan memarahinya nanti. Dia membuatku jengkel.
Siang harinya, ketika aku sedang melatih murid-muridku, Ian menelponku dan menyatakan penyesalannya karena tidak bisa menemuiku tadi pagi. Katanya, aku terlalu lama, dan ia harus segera berangkat kekantor karena ada panggilan penting dari kantornya. Begitulah Ian, sibuk dan selalu sibuk dengan kantornya. Ada hal yang disembunyikan olehnya. Aku tahu itu, dan dia tidak mau membicarakannya. Sudah lebih dari 5 kali ia bersikap aneh dari biasanya. Dan selalu berakhir dengan pertengkaran, kemudian dia menyesal dan menjemputku usai murid-muridku pulang dengan membawa bunga.
Entahlah, apakah hari ini dia akan berbuat hal yang sama? Aku tidak yakin akan hal itu. Dia memang suka membuatku pusing dan khawatir, bahkan membuatku sebal. Apalagi akhir-akhir ini.
*****
23 Desember 2010, Pk 19.00
“ Ian, kenapa kamu disini?” tanyaku kaget ketika membuka pintu rumah, dan dia sedang duduk diruang tamuku bersama kakakku.
“ Aku membawakanmu ini,” jawabnya sambil memberikan bunga mawar putih.
“ Terima kasih.”
“ Aku sudah minta ijin pada mamamu dan kakakmu. Kita pergi makan sekarang ya.”
“ Hah? Tapi aku harus tidur cepat. Besok ada pertunjukkan. Kau tahukan?” tolakku dengan penuh penyesalan.
“ Aku tahu. Maafkan aku. Mungkin kita bisa ngobrol disini. Bagaimana?” tanyanya kembali.
Entah kenapa, hari ini melelahkan buat aku. Jujur, aku agak kesal dengannya. Aku sedikit muak dengan sikapnya belakangan ini. Aku sudah terlalu lelah untuk marah ataupun bicara dengannya. Aku menolaknya dengan berbagai alasan.
Anehnya, dia mengerti dan menerima penolakkanku. Dia mencium pipiku kemudian pamit pulang. Dia berjanji, besok akan menghubungiku dan datang ke pertunjukkan itu. Aku melihat wajahnya bersedih.
Ketika aku selesai mandi, aku membaca pesan dari Ian.
From : Ian
Maafkan aku , sayang. Aku sudah membuatmu sedih belakangan ini.
Jangan pikirkan apa yang akan aku bicarakan! Aku tidak mau membuatmu khawatir.
Aku sayang padamu. Nitez. Jangan lupa berdoa. Love Ian. ^^

Jarang dia menuliskan pesan untuk mengatakan hal ini. Apalagi mengucapkan sayang melalui pesan di handphone. Dia pernah bilang, lebih enak mengatakannya langsung. Dan ini aku mendapat pesan darinya seperti bukan dari dia. Aneh, pikirku.
*****
24 Desember 2010, PK 07.00
“ Emma, kamu sudah bangun?” tanya Ian di telpon.
“ em..hmm…jam berapa sekaran?” jawabku setengah sadar.
“ Bangunlah Emma! Kamu harus berangkat bukan? Hari ini gladi bersih pertunjukkan muridmu bukan?” setengah teriak Ian menyadarkanku. Keaneha apalagi ini? Pikirku. Serasa ini semua hanya mimpi.
24 Desember 2010, pk 13.00
“ emma!”
“ Ia. Ada apa Ian? Aku sudah di sekolah. Anak-anak sedang berlatih sekarang. Kamu dimana?” tanyaku.
“ Aku dikantor. Tidak, aku hanya ingin menelponmu. Sebenarnya aku ingin bicara dengamu. Em, emma..” ujar Ian ragu.
“ Ian.”
“ Em, nanti saja. Aku tidak ingin membuatmu khawatir. Sudah lama aku tidak bertemu denganmu.”
“ Kita baru bertemu kemarin. Ingat?” tanyaku aneh padanya.
“ Ia, aku lupa. Maafkan aku. NAnti aku telpon lagi. Sayang kamu Emma.”
Telpon kembali dimatikannya. Ini hal teraneh. Apa yang terjadi padanya? Dia tidak mau membuatku khawatir. Tapi sudah membuatku khawatir. Aku memencet re-dial nomornya di handphoneku, dan menelponnya kembali.
“ Oke Ian, dengar! Kamu sudah membuatku khawatir. Oke, terserah bila kau tidak mau bicara. Jujur, aku muak kau seakan menipu aku. Kamu mau putus denganku? Terserah. Aku mau pergi sekarang! Terima kasih!” kataku marah sambil menutup telepon.
Tidak lama kemudian handphoneku berbunyi terus. Ian terus menelponku. Anggap saja aku sedang menghindar darinya. Aku muak dengannya. Baik sekarang aku harus fokus dengan pertunjukkan murid-muridku, bukan dengan Ian.
Kenapa Ian berubah? Sejak hari jadi kita, dia menjadi Ian yang tidak aku kenal. Ian yang tidak membuatku menemukan kejutan darinya. Ian yang tidak aku mengerti. Ian yang menyembunyikan sesuatu. Apakah ia memiliki wanita lain? Atau dia ingin mengatakan bahwa dia sudah tidak bisa lagi bersama denganku? Sudahlah. Semoga dia mengerti perasaanku dan cepat mengatakan padaku apa yang terjadi padanya.
*****
24 Desember 2010, Pk 21.00
“ Emma…Emma…Emmaa…..” teriak Lia membangunkanku.
“ Em, dimana aku?” tanyaku setengah membuka mataku. Apa yang terjadi? Pikirku.
“ Kau diruang kesehatan. Kau pingsan setelah mendapat telpon. Dari siapa tadi?” tanya Lia khawatir.
Telpon? Ibu Ian,apa yang dikatakannya? TIDAK! Ian..Ian…
“ Aku harus pergi!” teriakku setengah menangis.
“ Kemana?” tanya Lia.
“ Ian…Ian….Ibu Ian menelpon. Katanya Ian sekarat! Ian di rumah sakit!”
Lia berbaik hati menemaniku kerumah sakit. Sepanjang perjalanan aku terus berpikir, apa yang terjadi padanya? Mengapa Ian sekarat? Aku sungguh tidak mengerti. Ian yang aku kenal, seorang pria yang kuat,yang selalu berkata bila ia ingin mengatakan sesuatu. Tidak, ini bukan Ian. Memang,aku kesal dari kemarin dengannya hingga tadi aku memarahinya dan mengatakan putus denganya. Tapi aku sayang dengannya. Itu hanya emosi.
“ Emma, kau baik-baik saja?” tanya Lia khawatir sambil mengulurkan tissue padaku.
“ Aku baik-baik saja. Terima kasih.”
*****
Sesampainya di rumah sakit, semua terdiam. Ibunya menangis dalam pelukan ayahnya. Kakak Ian, Jenny, menangis. Semua terlihat aneh. Aku mendatangi mereka. Jujur, aku khawatir. Ketika ibu Ian melihat aku, dia memelukku. Ya, memang keluarga Ian sangat baik padaku. Keluarga Ian sangat harmonis, seperti keluarga yang aku dambakan. Tapi Ian selalu mengatakan, keluargaku juga merupakan keluarga yang terbaik. Katanya, jangan lihat keadaan dan jangan bandingkan keadaan itu, bersyukurlah kau tetap di sayang keluargamu. Kata-kata itu yang selalu aku ingat, pada malam aku bertemu dengannya di taman dekat gereja itu.
“ Ian…Ian..” kata ibu Ian tak jelas karena isak tangisnya.
“ Mari masuk, Emma,” ajak ayahnya.
Melihat Ibu Ian menangis, hatiku tak kuasa menahan tangis. Membuatku makin khawatir. Apa yang terjadi padanya?
Ketika aku masuk, aku melihat Ian terbaring lemah, tapi masih bisa tersenyum. Dia terlihat baru selesai operasi. Apa yang terjadi dengannya? Mengapa dia di operasi?
“ Ian, kenapa kamu?” tanyaku khawatir.
“ Emma.. kamu sudah datang… Maafkan aku…” kata Ian pelan.
“Ada apa ini?” tanyaku menangis. Aku tidak bisa melihatnya. Ini bukan Ian yang aku kenal. Apa yang disembunyikannya? Sakit apa dia? Aku ingin marah. Aku ingin marah karena dia tidak memberitahuku penyakitku.”
“ Emma…aku sayang padamu… Jujur…aku tidak bisa katakan padamu… Emma, bisakah kau mengambil buku kecil berwarna hijau itu? Bacalah dan maafkan aku,” balasnya pelan. Kemudian ia memejamkan matanya. Tidak, kenapa dia memejamkan matanya? Tidak boleh!
“ Dia tertidur. Jangan khawatir!” ujar ayahnya sambil menyerahkan buku kecil yang dikatakan Ian.
Aku benci dengan kata “ Jangan Khawatir!” Cukup membuatku muak. Kemudian, tanpa berkata apapun, ayahnya meninggalkan aku di kamar bersama ian. Ian tertidur, dia terlihat lelah dan sakit. Ya, aku melihat dia sakit. Lalu, aku membuka buku itu, dan membacanya.
Dear Emma,
Maafkan aku. Aku hanya bisa menuliskannya padamu. Jujur, aku tidak bisa berkata apapun setiap kali melihatmu. Maaf aku membuatmu khawatir, kau pasti benci ketika aku bilang “ jangan khawatir”. Ya, aku hanya ingin melihatmu tetap senyum, tapi justru sikapku membuatmu malah kehilangan senyummu beberapa bulan belakangan ini. Aku yakin itu pasti karena aku.
Maafkan aku Emma. Hanya saja aku terpikirkan, aku tidak ingin menambah bebanmu. Aku hanya ingin berbagi denganmu. Saat pertama aku bertemu kamu, aku tahu ini terdengar gombal, tapi aku sungguh, sejak saat itu, aku tidak ingin membuatmu menangis. Tapi justru aku malah menambah tangisanmu. Apalagi beberapa bulan ini.
Jujur, beberapa bulan ini terasa berat buat aku. Aku di diognosa dokter hanya akan bisa hidup 3 bulan lagi. Aku terkena tumor ganas yang menyerang tubuhku. Dan terlambat untuk diangkat. Makanya, beberapa bulan ini, aku diam dan menyembunyikannya darimu. Aku tak kuasa melihatmu merawatku.
Ketika kau baca ini, semoga tidak terlambat, kau pasti menangis. Aku sayang padamu. Dan ucapanmu hari ini, membuatku makin takut bila kau tidak jujur padamu. Lewat cara ini, sayang, aku bisa katakan.
Aku mau kau tetap tersenyum. Keluargamu, dia adalah hartamu. Jangan benci mereka! Dan keluargaku, adalah harta karunmu, cintai mereka, meski aku tidak ada. Mereka tidak pernah membencimu, seperti yang kau pikirkan itu. Jangan berpikir seperti itu lagi. Aku tidak menyesal, aku bisa bertemu denganmu. Maafkan aku. Sudah berapa kali aku katakan? Aku tahu kau tidak suka ada kata yang terus terulang.
Sayang kamu.
*****
10 Febuari 2011, PK 09.00
“Januari, dua tahun lalu, aku bertemu dengannya. Ini menjadi, hari di tahun kedua kita jadian. Ian, aku tidak tahu apa yang harus aku ucapkan. Aku mencintaimu.”
Dear Emma,
Sudah dua tahun, dan kita telah merayakan hari jadi kita. Terima kasih karena kau memberikan hari-hari indah selama beberapa bulan ini. Kedengarannya akan sedih, tapi aku tidak mau kau sedih. Bagiku, kau sudah cukup sedih dengan hidupmu. Dan terima kasih sekali lagi. Tersenyumlah. Aku hanya ingin kau tersenyum. Aku akan merindukanmu.
Ingatlah, kau bisa jadi penulis. Puisimu sangat bagus. Kau hanya takut. Seperti katamu, kau tidak mau, padahal bisa. Buatlah itu menjadi kemauanmu. Aku ingin membaca tulisanmu, di bukumu nanti, ketika sudah terjual. Aku yakin akan banyak jumlahnya. Oh ya, aku membuatkanmu satu. Semoga ini terbaik untukmu.
Januari,
Dingin menjadi hangat.
Tangisnya menenggelamkan kecantikannya.
Aku hanya ingin ia tersenyum.
Terdengar biasa saja,
tapi aku akan menjadikannya istimewa.
Karena senyumnya istimewa.
Karena tangisnya menarik.
Terima kasih Januari,
telah mempertemukan aku padanya.

Judul puisi ini adalah Januari, saat aku bertemu denganmu. Maaf terdengar gombal ^^ jangan benci aku ya. Oh bukan, jangan lupakan aku ya…
Love Ian.
*****
IN MEMORIAN
REST IN PEACE
SEBASTIAN RIONAD
21 JANUARI 1984- 10 FEBUARI 2011
*****
Dia meninggalkan senyum, air mata.
Dia tidak terduga.
Ya, TUHANku yang tidak terduga,
mempertemukan senyum yang tidak terduga,
membukakan mataku pada hal yang tidak terduga,
akan kasih,
pada keluarga,
pada teman,
dan pada diri sendiri.
Terima kasih Januari.
*****

Tertarik dengan yang ini?

  • cerpen:Aku Bersamamu,Mba!
  • Labya berilah Ratio waktu
  • Hapeku Tuhanku?
  • Taman Sore
  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Sebuah Rumah
  • HADIRMU..
  • Badut Kentut
  • SEPOTONG JANJI DI WARNA ABU – ABU
  • DASI

Leave a comment

Your comment