Sebuah Percakapan

(Irene Wibowo)

Seruku padaNya, ditengah sebuah keheningan.

“ Inilah aku. Bapa ini adalah aku. “

Dalam gelapanya waktu, Kau kian berkata

“ Tenanglah anakKU. Kau tak perlu takut lagi. “

Tangisku,

Bapa aku harus berbuat apa. Dan mengapa aku. “


Dalam ketenangan,

” Aku tahu yang terbaik untukMu anakku. “

Hari telah berlalu,

Bagaimana ini Bapa? “

Semenit waktu,

Aku mengerti anakku. Lihatlah aku.

Ketika kau menangis, Aku kan memelukmu.

Ketika kau terlepas dariKu, Aku kan mencarimu

Ketika kau takut, Aku kan memberikanmu ketenangan untukmu.

Percayalah padaku. “

Kekhawatiran merasuk hidupku,

Bapa aku tak tahan lagi. Panggilah aku segera. ‘”

JanjiMu, layaknya fajar, di pagi hari,

Belum saatnya anakKu Tak perlu kau khawatir lagi.

Aku takkan meninggalkanmu seorang diri.

Aku kan tetap di sini bersamamu.

Aku mengasihiMu.

Aku kan mengirimkan malaikatku untukmu.

Tibalah hari baru.

Bapa. Inikah diriMU? Kau tahu segalanya tentang aku?

Tetapi  mengapa harus aku? ”

Sebuah jawaban yang kan mengubahnya.

“ Belumkah Kau mengerti juga anakKu?

Kau adalah istimewa.

Karena itulah aku mengijinkan seorang dirimu,

berada di dalamnya.

Kisah tentangmu telah tertulis dengan baik.

Kasihku yang sempurna kan membawakan

sebuah kebahagiaan untuk hidupmu.

Jadi percayalah padaku. “

Sungguhkah,

“ Terima kasih Bapa. Aku kan berjalan bersamaMu.”

Kan mengerti,

Aku takkan meninggalkanMu.

Bukan rancangan yang membuatmu menangis setiap hari yang KU berikan.

Namun rancangan yang kan membuatmu tersenyum di setiap tangisanmu.

Terima kasih karma kau telah membiarkanku masuk dalam kehidupanmu.

Aku mengasihimu anakku. “

Senyuman menjadi nyata.

Terlukis

Dan tertulis.

Tersusun dengan indah.

Karena kasihNya yang tak tergantikan.

Tertarik dengan yang ini?

  • Cerita bernama “AKU”
  • Renungan Paskah- Pilihan
  • we are the reason
  • Pesan di kertas kuning kecil
  • Tangga – another story
  • Belajar dari Toko  Buku
  • Saat Menjadi Aku
  • #40MariBerbagi – Buka Topeng, Beri Senyum
  • #40MariBerbagi -Terlalu Sayang
  • Menatap Jalan

Leave a comment

Your comment