TUGAS

(Irene Wibowo)

Selama hidup di dunia ini, saya merasa tugas saya tidak pernah selesai. Dari mulai menjajakan kaki di sekolah dasar hingga sampai searang duduk di bangku kuliah. Tugas tidak pernah usai. Tidak hanya tugas tanggung jawab sebagai murid tetapi juga tugas sebagai anak, sahabat, dan “manusia”

Perjalanan yang penuh misteri harus saya lalui. Dihadapkan pada pilihan. Degupan jantung kian berdetak menanti harapan. Rasa sakit dalam luka di dada terasa untuk kesekian kalinya. Amarah memanas ketika jantung tak lagi dapat menahan detakannya. Siap untuk jatuh , siap untuk ditangkap. Mudah berkata, sulit mengerjakannya. Berdiam dalam lubang mimpi dan terus berdoa untuk bisa berjalan.

Ya, bermacam-macam tugas harus saya kerjakan. Satu hari terselesaikan dari satu tugas, akan ada tugas lain yang menanti. Ada kala tugas itu simpel namun terlihat sulit. Namun ada juga tugas yang sulit tapi cukup simpel untuk dikerjakan. Semua tugas yang harus dikerjakan hanya berpusat pada satu pikiran dalam pilihan. Antara bisa untuk dikerjakan dan mau, maka selesailah tugasnya atau tidak bisa dan tidak mau dikerjakan, maka akan menumpuklah pekerjaan itu.

Tugas yang tersulit adalah menunggu dalam kesabaran dan ketenangan selama mengerjakan tugas-tugas yang ada. Mengalahkan rasa malas dan gundah. Bahwa Menitikkan harapan pada tugas yang akan diselesaikan dan percaya bahwa tugas itu akan membawa pada satu jalan terang akan mimpi yang tergambar dalam setiap lekuk waktu.Menunggu untuk dicintai daripada mencintai, menunggu untuk mendapatkan daripada menerima. Bahwa ada harapan nyata di balik harapan yang terlihat kosong.

Tugas yang simpel adalah ketika melihatnya, mengerjakannya dan memikirkannya dengan senyum. Bahwa tugas itu tidak sesulit yang dibayangkan, namun tetap serius dalam mengerjakannya.

Tugas yang paling mudah adalah berdoa. Untuk satu obrolan nyata dengan sang ilahi. Untuk kekuatan yang terbesar dalam hidup. Untuk tameng melawan mimpi buruk dalam berjalan dilembah kekelaman. Untuk pegangan ketika hampir terjatuh. Untuk mengenal untuk apa saya diciptakan di dunia ini.

Tugas untuk memilih pada satu jawaban yang tidak pasti akan menjadi harapan bahwa saya masih bisa hidup untuk tersenyum di dunia ini.

Tugas untuk melihat pada satu kejadian yang tidak terduga akan menjadi sentuhan hati bahwa Dia ada disamping kita untuk menjadi terang bagi tangisan kita. Dan bahwa kita tidak dibutakan dengan keindahan sekejab akan cinta yang terindah dalam dunia ini.

Tugas untuk mendengar pada satu suara yang berkata, ” I’ll be there for you. Always. And never forget You. Believe in me. I will give you the best in your life.”

Tugas untuk memudahkan perbuatan yang terlihat tidak mudah. Bahwa ketika sudah ada tugas, lakukan saja tanpa melihat tingkat kesulitannya.

Tugas untuk merasakan bahwa ketika mengerjakannya dengan penuh kepercayaan, hasilnya adalah yang terbaik meski tidak terlalu sesuai harapan.

Tugas untuk menanti harapan yang pasti di tengah ketidakpastian. Bahwa pasti akan ada hal yang melebihi harapan. Memang terkadang terlalu sering berharap namun tidak terjadi, tapi dibalik semuanya adalah indah pada waktunya.

Tugas untuk berjalan saat badai menerjang bahwa ada satu pegangan kuat untuk bisa tetap berjalan bagaimanapun keadaan tubuh dan perasaan kita.

Tugas untuk menjadi anak, sahabat, dan orang tua ketika berada di dalam waktu yang akan membentuk sebuah lingkaran baru.

Tugas untuk berbagi disaat saya melihat bahwa saya tidak akan bahagia dengan apa yang saya miliki.

Tugas untuk mengejar mimpi bukan berlari dari mimpi yang ada. Bahwa dalam kesakitan mengejar mimpi, ada goresan senyum yang disiapkan untuk hidup kita.

Tugas untuk tetap berdiri meskipun nyatanya terasa sakit dan melelahkan.

Tugas untuk belajar mencintai daripada berharap akan rasanya dicintai oleh beribu orang di dunia ini. Bahwa ketika mencintai beribu orang di dunia ini akan lebih indah daripada dicintai oleh beribu orang di dunia ini.

Tugas untuk membagikan sukacita bukan dukacita kepada banyak orang.

Tugas untuk rendah hati ketika mendapatkan lebih bukan menyombongkannya atau memamerkannya. Karena apa yang didapat di dunia ini tidak ada yang kekal bahkan terkesan menyakitkan.

Tugas untuk menyayangi dunia ini bukan untuk merusaknya.

Tugas untuk percaya bahwa ada satu orang sempurna yang menjadikan dunia indah dalam ketidak sempurnaan dan perbedaan yang ada.

Tugas untuk melihat, merasakan, mencari, dan berpegang hanya pada DIA yang menjadikan saya ada dalam dunia ini.

Tugas ini dan tugas lainnya, saya rasa tidak hanya ditujukan pada saya saja. Tapi ditujukan pada semua orang yang ada di dunia ini. Bahwa sadarilah tugas yang ada, terlihat sulit ketika kita tidak menyadari adanya tugas ini. Tapi terlihat mudah ketika kita tahu bahwa inilah tugas kita dan kita tidak pernah sendiri.

You’re not alone, I’m in here for you. There’s a place, in your heart and i know is a Love.
Heal the world, make a better place. We’re the world, we’re the children. ( tribute by Michael , thanks for your song thats make a new inspiration for this world. ^^)

UKURAN KESUKSESAN BUKANLAH KETIKA KITA HIDUP, MELAINKAN KETIKA KITA TELAH MENINGGALKAN DUNIA YANG FANA INI.( dari renungan berjudul LEAVING A LEGACY)

PS : bisikan hati di siang hari ^^

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Leave a comment

Your comment