Ketika Kita Harus Memilih

(Kemala Tillnes)

Kita tidak akan pernah tau dengan persis what will be happen to us
sampai kita menjalaninya sendiri.

Mungkin kata kata diatas cocok sekali dengan keadaanku saat ini. Saat dimana aku mengambil sebuah keputusan yang aku anggap penting dalam hidup ini. One of my friend told me “keiy, hidup ini adalah pilihan, saat kamu iri melihat seseorang mampu melakukan sebuah hal, sebenarnya kamu juga bisa, its just a matter of choice, are you dare enough to leave your comfort zone and make a change?”

Saat itu aku terdiam, hati kecilku membenarkan apa yang ia katakan. Bahwa selama ini aku terlalu takut untuk melangkah, aku takut melepaskan semua yang aku miliki sekarang, walaupun apa yang aku miliki sekarang tidak bisa dibilang juga membuat aku puas dan bahagia. Tapi aku terlalu takut, takut akan apa yang akan aku jalani selepas aku melepaskan semua dan keluar dari zona nyamanku, kursi empuk yang selama ini membuat ku lupa berdiri. Ketakutan – ketakutan yang akhirnya membuatku tidak bergerak kemana mana, stuck di satu sisi, sementara mungkin masih banyak kesempatan lain yang menanti andai saja aku membuka diri untuk lebih berani melangkah. ketakutan yang akhirnya memberikan kabut tebal pada cermin  pikiran dan hatiku sehingga tidak mampu  lagi melihat setiap pertanda dengan jelas.

Padahal ini adalah hidupku dan kita semua adalah arsitek dari hidup kita masing masing. Iya, mungkin saja apa yang akan kita hadapi bisa berat, berliku liku, mungkin akan banyak tantangan dan hambatan yang membuat kita jatuh dan terluka, tapi…bisa juga tidak! who knows? Tapi apakah lalu dengan itu kita jadi tidak berani melangkah? Kalau dipikir mana ada manusia yang tidak pernah jatuh, tapi jatuh itu yang buat kita terus belajar. Bila kita terus takut dan akhirnya mengurung diri dalam tempurung yang gelap, sangat disayangkan bahwa kita melewatkan begitu banyak keindahan yang disajikan di depan mata kita.

Dengan memberanikan diri aku keluar dari tempurung kecilku, ku jejakkan kakiku ke tanah, ouch dingin…Aku sedikit terkejut dengan yang kurasakan di jari kakiku, sebuah sensasi, dan aku tidak sabar untuk menanti sensasi selanjutnya. Dan inilah aku…berdiri di atas kedua kakiku dan wajah menengadah ke atas, pandanganku kini bukan lagi hitam pekat, ia kini sudah berganti menjadi birunya warna langit dan semburat pelangi melintang di atasnya. Walaupun kakiku terasa sedikit ngilu dan sedikit kedinginan tanpa tempurung pelindungku dan aku kini tak punya lagi pertahanan akan musuh yang mungkin akan datang menyerang dan memangsaku, tapi ada sesuatu yang tidak pernah bisa tergantikan. Bila nanti aku memang harus mati, aku akan mati dengan tenang dan tersenyum di bawah langit paling indah.

Aku ingin belajar banyak hal, belajar untuk tertawa, belajar untuk menangis, belajar untuk mencintai, belajar untuk terluka, belajar untuk bergantung pada diri sendiri, belajar untuk memberi, belajar untuk menggapai impian. dan aku ingin terus belajar. Begitu banyak yang masih belum aku ketahui.  Dan untuk itu aku harus terus melangkah, walaupun mungkin semua melihat kakiku sudah bengkak dan terluka, tapi anehnya aku tidak merasa sakit, yang kurasakan adalah aku harus sampai ke pembelajaran terakhir, dan aku tidak sabar untuk menuju ke sana. Terus, terus dan terus melangkah.

Aku tidak tahu apa itu benar apa itu salah, aku hanya ingin mengejar kebahagiaan, selama itu tidak merugikan orang lain dan alam sekitar. Bila keputusan ini di anggap salah, aku mohon maaf, kepada langit dan bumi, setulus hati aku hanya ingin mencintai. Untuk itu aku siap menerima semua demi proses pembelajaranku.



Tertarik dengan yang ini?

  • Tidak ada tulisan terkait

Leave a comment

Your comment