LIfe Always Changes

(Kemala Tillnes)

Life always changes. Do you agree with me?
Like a wheel of fortune image on my tarot card, I never know what is my next destination in life. Sometimes people pretend, they do not like changes, they think everything was happen in their life was so good, so comfortable, so why we have to change? But it is a natural process and life is a creation.

Apakah kita akan memaksakan diri agar dunia berada dalam posisi yang sama setiap saatnya? Memang kadang sulit untuk bangkit dari kursi panas, kita tidak siap menerima karena terkadang perubahan itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tapi disadari atau tidak, di inginkan atau tidak, perubahan akan terus terjadi pada kita,. Seluruh kehidupan terus mencari bentuknya, lalu apa yang terjadi pada mereka yang tetap memaksa menahan laju perubahan? kita semua pasti mengerti jawabannya, sama seperti kita memancang sebuah tonggak sementara kekuatan besar berusaha merobohkannya, kita mungkin bisa mempertahankan tonggak itu, tapi dengan luka dan sakit di sekujur tubuh.

Kita selalu ketakutan, kita selalu was -was. Alih – alih menjalankan hidup kita dengan bebas, kita bagaikan sesuatu yang mengintai di tengah kegelapan, mengawasi dan menjaga jangan sampai perubahan datang dan mengambil semua yang kita rasa baik bagi hidup kita.

Seorang temanku pernah berkata. “Kei, melihatlah seperti cara tuhan melihat.” Saat itu aku tidak mengerti, sulit sekali untuk mengerti. karena manusia terbatas akan akal, dan akal manusia dominan akan hal apa yang baik bagi diri dari sudut pandang sebagai seorang manusia. melihatlah seperti cara tuhan melihat, IA tidak pernah menghakimi, tidak pernah menilai.

Kadang kita sebagai manusia merasa, mengapa hidup kita menderita, mengapa kita harus melewati hari hari yang setiap hari rasanya memikul beban yang tidak ada habis – habisnya. Kadang mungkin banyak yang menyalahkan dan menganggap bahwa ia menerima sebuah ketidakadilan. Tapi benarkan bahwa penderitaan yang terlihat dari kacamata seorang manusia itu benar – benar sebuah penderitaan? bagaimana bila sudut pandang kita sebagai manusia mengaburkan arti yang sebenarnya dari sesuatu yang terlihat seperti penderitaan.

Dunia ini ibarat sebuah cermin yang berkabut, kita bisa melihat cerminnya tapi kita tak mampu melihat bayangan di cermin tersebut karena kabut yang menutupi. tapi bukan berarti bayangannya tidak ada, tapi kita saja yang tidak mampu melihatnya. saat kabut hilang, kita dengan jelas akan mengerti semua hal. Saat itu tiba kita telah menjadi seorang manusia dengan akal yang tercerahkan.

Lalu bagaimana menyikapi setiap perubahan yang terjadi? Sadarilah, bahwa dunia tidak bisa berjalan seperti apa yang kita kehendaki saja, karena semua memiliki keterkaitan, kita tidak bisa memaksa seseorang menjadi seperti yang kita inginkan, kita begitu khawatir begitu melihat orang yang kita cintai tiba tiba berubah sikap dari hari sebelumnya. Ketika ia terlihat begitu gembira kita khawatir, jangan jangan dia bertemu orang lain dan jatuh cinta. Saat dia menjadi pendiam dan tidak banyak bicara, kita cemas, jangan jangan dia sudah bosan dan akan meninggalkanku. Itu hanyalah satu contoh kecil, bahwa kita tidak tahan melihat sesuatu berubah, kita memasang pakem dan standart sendiri. dan akhirnya yang ada hanyalah rasa sedih dan keterasingan.

Belajar merelakan dan membiarkan perubahan datang adalah sebuah langkah bijaksana. Kita mencoba melihat dari sisi yang tidak bisa kita lihat. Apa yang terbaik buat kita belum tentu apa yang kita inginkan, tapi yang terbaik buat kita adalah apa yang paling benar yang kita rasakan di hati kita

mengutip kata bijak Susana Tamaro, “saat kau bingung, tidak tahu harus berbuat apa, duduklah sejenak, rasakan hati..saat hati bicara, bangkitlah dan pergilah kemana hatimu membawamu.”

belajar mengikuti kata hati, itu yang sedang aku coba lakukan.

semoga setiap orang mendapatkan kebahagiaan yang sejati…:)

Tertarik dengan yang ini?

  • Kemana Larinya Inspirasi?
  • Elastis Seperti Karet Gelang
  • Ah, Tuhan…
  • Menulis dan Terus Menulis
  • Ruin is a Gift.
  • Buta
  • Gak Enak
  • Bertahanlah Satu Hari Lagi
  • Laporan Pandangan Mata Hati : Jakarta Menangis
  • TODAY

Leave a comment

Your comment