CUNG BALONTHET!

Cung balonthet

Sangu gedang kemepet

Ora entek diepret-epret.

Itu adalah tembang dolanan bocah dari masa lampau yang terakhir kali ku dengar ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Waktu itu aku diolok-olok karena berak di celana merah yang gombrong menutup setengah lutut. Mereka menyanyi sambil idal-idul dan jejingkrakkan dengan paduan suara mereka yang parau nan cempreng yang menandai mulai tumbuh membesarnya jakun alias apelnya Mbah Adam yang mirip tembolok. Remah-remah ingredient berakan yang melekat di celana itulah yang dianalogikan sebagai pisang yang matang dan terpenyet.

Tetapi tak dinyana obrolan tentang Cung Balonthet kembali mencuat pas pulang kampung akhir tahun lalu, saat kami — baik yang mencung-balonthetkan maupun yang dicung-balonthetkan — telah pada membuncit perut dan berewokan sekujur badan.

:”Bajindul kalian semua. Tidak senonoh mengungkap aib pantat puluhan tahun silam di depan publik!” umpatku setengah kesal. Tetapi mereka justru semangkin terkekeh kegirangan. “Tetapi konon hidup ini kan banyak diwarnai dengan kejadian repetitif berpola. Saat kecil kita berak di celana, berulang pula kejadiannya saat kita dewasa,” Silvester Gombloh yang dulu pernah dua kali diculik karena suka nggambleh dan menconthong pedas sembarangan tentang pemerintah itu sungguh tidak pernah kapok. Parmin Gagak yang hitam legam, yang dulu cungkring dan menjadi langganan di-bullying serta disiksa secara verbal, tertawa tergelak. Mungkin karena dendam kesumat bawah sadar dari masa lalu, Parmin – yang sekarang adalah eksekutif officer di salah satu manufaktur kayu — sejak kali pertama bertemu terus saja dia mengolok-olokku. “Min Parmin, mbok iyao njeplak itu jangan lebar-lebar, jadi eksekutif pun mulutmu tetap ber-aroma dedes luwak!” umpatku. Tetapi dia semakin tergelak dan baru terdiam saat Anto Satpam memasukkan daun mangga kering ke mulutnya. “Bweh..bweh… setan alas kamu Nto!” Parmin gebres-gebres. Kali ini Anto yang kegirangan.

Begitulah. Ketika tiba waktunya ngumpul semua telanjang kembali menjadi teman tanpa terganggu embel-embel atribut strata dan kepangkatan. Semua menjadi cung balonthet lagi, menjadi anak-anak yang kemampo setengah matang.

“Mbloh, kamu ini juga cung balonthet. Dulu demo sana-sini dan dengan lantang menentang kebijakan ini itu. Tetapi sekarang kamu malah menjadi gagu tersumbat kerah safarimu,” sergahku. Dia tidak tersinggung, tetapi malah kembali tertawa dan mengiyakan. “Ya seperti tadi yang ku bilang to. Kita ini tidak terhindarkan dari aib berak di celana. Ini kan sudah merupakan concupiscence,” jawabnya. “Makanan apa pula itu konkupisen?” tanya Anto yang alergi akut pada istilah-istilah mbulet akademis. “Ya kecenderungan untuk berak di celana itu Nto!” sahut Silvester Gombloh menyederhanakan penjelasannya. “Seperti kerjaan Parmin yang sering jadi tukang tadah kayu ilegal itu! Biar sak tekruk dan bejibun untungnya!” kali ini dia menembak Parmin. Parmin hanya bisa misuh-misuh. “Atau kayak kamu yang sering ngunthet mengutil beras jimpitan siskamling!” dan Anto pun dapat gilirannya. “Wooo.. tapir edan! Trenggiling tambun!” Anto juga misuh-misuh. Berak adalah berak tak peduli sepuluh jimpit beras maupun ribuan kubik kayu wong de fakto seorang ibu yang mengambil buah coklat karena lapar saja bisa terancam bui, sementara pengkasus besar seperti dalam kasus bank Century punya ajian belut pelicin untuk terus meliuk-liuk menghindar. Jadi marfum saja kalau Anto merasa cemas sebab bisa-bisa dia babak belur nan benjol-benjol dibonusi bogem mentah pemuda kampung jika ketahuan.

Cung balonthet

Sangu gedang kemepet

Ora entek diepret-epret.

Setelah mereka pergi aku mesam-mesem sendirian dan mengiyakan bahwa sesungguhnya aku pun juga masih cung balonthet yang tidak terlepas dari concupiscence. Cung balonthet yang masih sering berak di celana sendiri dan juga di pekarangan teman dan tetangga. Perbuatan yang – walau sering kali sepertinya tanpa kesengajaan – tetap saja tidak mengenakkan dan mengganggu baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Rasanya jadi malu sendiri.

Ditemani senyum kecut sekecut asam muda yang dituangi cuka aku mengepak pakaianku untuk bersiap-siap kembali ke perantauan dengan semangat dan harapan baru untuk meminimalisir kecung-balonthetanku. Selamat tahun baru! [spuk]

Tertarik dengan yang ini?

  • Serial Traveling on Vacation.. Ngelayap Ke Jogja. (part 4)
  • Serial Traveling on Vacation.. Ngelayap Ke Jogja. ( Part 3 )
  • Serial Traveling on Vacation.. Ngelayap Ke Jogja. ( Part 2 )
  • Serial Traveling on Vacation.. Ngelayap Ke Jogja. ( Part I )
  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • Selamat Menikmati Tahun Baru 2011!
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI

Leave a comment

Your comment