Mencari Jati Diri part 2
Tak heran, sejak kecil, pertanyaan2 terkait dengan “eksistensi manusia” sudah berkutat di pemikiran bocah saya. “Saya lahir dari bapak ibu, bapak ibu lahir dari orang tuanya, orang2 tua bapak ibu dari orang-orang tuanya dst dst, dan lalu ketika mereka mati lalu kemana? Jika manusia ini diciptakan Tuhan, lalu Tuhan diciptakan oleh siapa? Tuhannya Tuhan?”
Hal itu semua menjelma menjadi ‘mozaik-mozaik’ yang nantinya akan bertemu ‘pada waktunya’.
Pertanyaan-pertanyaan absurd itu terus ada dalam diri saya, sesuai masa pertumbuhan saya, tidak pernah hilang, tidak terhapus oleh logika-logika relasis tentang yang kasad indrawi, tapi setidaknya sebagian dari hal-hal ini bias bertemu dalam lini pragmatis. Hidup ini tidaklah melulu untuk suatu kemapanan hidup, apalagi dalam konsepsi materi, tetapi dunia ini juga adalah realitas bagi tubuh materi, yang kebutuhannya harus dipenuhi, hidup ini juga bukanlah juga semata ruang pembuktian, dan sebagainya dan seterusnya.
Lalu pencarian jati diri saya bagaimana? Saya cenderung mengatakan bahwa saya ini tidak mencari, saya tidak mencari dalam hidup ini, tidak mencari jati diri saya, tidak mencari tujuan hidup saya, tapi saya lebih suka mengatakan saya menjalani hidup ini. Dalam basa jawa ‘saya nglakoni – dengan syarat laku – tentunya, yang aktif sebagai lakon tetapi tetap menyisikan ruang hening untuk bias setidaknya meraba arahnya ‘lelakon’. Jadi, saya memaknai bahwa jati diri ditemukan dalam bertemunya mozaik-mozaik nilai yang masuk dalam hati saya, pemikiran-pemikiran dan konsep-konsep2 yang masuk dalam pemikiran saya, yang terbingkai dalam ‘datangnya kesadaran akal budi saya’, lewat berbagai konfirmasi2 yang boleh saya alami, baik secara empiris maupun pragmatis, tanpa terlepas benang merah dengan sisi idealis saya.
(L. Bekti Gojagie)












