SUPER PAIDI

(L. Bekti Gojagie)

Walau tidak selihai Leila Khaled dari Palestina, tidak sekampiun Eli Cohen dari Israel dan tidak selegendaris Margaretha Zelle – alias Matahari – intel cewek londo yang gemar blusak-blusuk dan pernah hidup di Indonesia, Lik Paidi ternyata telah dikenal cukup luas di kalangan kaum intelijen kawasan Asia Tenggara saat ini, khususnya dalam bidang petelik-sandian. Walau tidak punya afiliasi induk maupun bukan anggota dari unit resmi intelijen, diam-diam dia laris direkrut dalam operasi-operasi rahasia tingkat satu dan dua baik di dalam negeri maupun kawasan. Nama Paidi sendiri memang jarang disebut karena dia selalu memakai kode sandi SP3 dalam operasinya dan memakai identitas Pandu Daluadi sebagai cover-nya. Kabarnya, dia ini mumpuni, bahkan cukup sebanding jika dibandingkan dengan Allan Pope, agen CIA yang pernah menyelup dan beroperasi di Indonesia timur tahun 50-an. Dan yang jelas, dia bukanlah semacam intelijen rekaan ala sinetron Indonesia yang sering menepuk dada dan mengumumkan keras-keras bahwa dirinya adalah seorang intel. Dia memegang kode etik kerahasiaan baik-baik. Bahkan, tetangga-tetangganya tidak ada yang tahu. Mereka tahunya Lik Paidi ini hanyalah makelar barang antik yang sering keluyuran sana sini tidak ada juntrungnya.

Tentang dia, beberapa agen dari jalur resmi yang belum lama mengenalnya tak berhenti bertanya-tanya dan bahkan menyelidiki asal-usulnya. “Jangan-jangan dia ini penyusup atau agen ganda,” begitu umumnya pikiran mereka. “Dia ini juga seorang assassin,” kata yang lainnya. Atau, kalau tidak, mereka mempertanyakan kemampuannya, jati dirinya siapa, rekrutmen mana, didikan mana, handler-nya siapa, dan seterusnya. Dan sejauh ini Lik Paidi masih aman-aman saja hidup di jalan yang penuh bara api. Bagaimanapun, Lik Paidi memang memiliki semua kualifikasi yang dibutuhkan oleh intel kampiun; nyali yang tinggi, kecerdikan, daya ingat yang kuat, logika komunikasi sosial yang andal,  kreatifitas yang tinggi, dan ambisi keberhasilan yang didukung penguasaan emosi. Selain dari didikan dan pelatihan yang dirahasiakan, ini juga merupakan bakat alamnya yang diwariskan oleh eyang buyutnya yang merupakan telik sandi atau mata-mata yang disegani sejak jaman Aryo Penangsang. Dan sebagai pewaris disiplin jaman klasik, dia juga berkesempatan untuk bersinggungan dengan dunia supra. Dia pun mengembangkan hal ini dengan mempelajari literatur-litetur kuno asing yang masih sedikit tersisa dari jaman kaum alkemis.

“Berhati-hatilah jika tidak ingin menjadi santapan timah panas,” katanya suatu saat pada seorang intel yunior yang ditugasi menjadi umpan dalam suatu operasi khusus di perbatasan. “Entah di jalur formal atau tidak, ketaatan pada komando dan kode etik itu wajib. Kita ini harus bisa seperti cawat. Jangan mengumbar diri sembarangan.” Dan begitulah. Hidupnya seperti menari di atas bara api. Dia tahu banyak hal yang orang-orang pada umumnya tidak boleh tahu. Keculasan-keculasan pejabat, pebisnis karbitan hingga politisi adalah sarapan paginya. Aib banyak tokoh-tokoh pujaan yang top markotop adalah makan siangnya. Affairs dan persekongkolan bawah tanah antar banyak kekuatan adalah makan malamnya.

“Super Paidi” begitu dia dulu selalu mendoktrin dirinya untuk terus berlatih dan berlatih. Tetapi era kebanggaan diri dan aktualisasi itu kini sudah di rembang petang bebarengan dengan usianya yang semakin menua. Super Paidi kini tengah mengalami krisis. Hal yang semula begitu menantang dan mengasyikkan itu kini berubah menjadi melelahkan. Kesadarannya kelelahan untuk berkompromi antara dirinya yang kini nampak nyata terbelah dua. Dia bisa saja menyebutkan bahwa ini adalah profesi, tetapi profesi yang dijalaninya selama ini telah bergeser mulai mendominasi keseluruhan dirinya. Bahkan dia sendiri bingung untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Paidi itu siapa? Super Paidi atau Paidi makelar yang punya anak isteri yang selama ini tidak begitu diperhatikan? Sementara untuk berhenti dari rel ini juga tidaklah mudah. Dia harus bisa melenyapkan dirinya dan tidak terlacak.

“Ya Tuhan, tolonglah aku yang buta pada kebesaran kasihMu ini.” Dheerrrr..Jedheeer!! Halilintar menyambar seperti meneriakkan kekagetannya. Super Paidi yang selama ini selalu optimis dan berbangga dengan sepak terjang dan fungsi profesinya tiba-tiba saja mengaduh meminta tolong pada Sang Empunya jagad raya. Dan kini seperti pintu gerbang yang telah di buka, kenangan-kenangan dan kerinduan sejak masa kecil pada berbagai bentuk kedamaian dan ketentraman jiwa – baik yang tidak kesampaian maupun yang dengan sengaja ditepisnya – kini mengalir deras mengusiknya. Dan pertempuran pun pecah di padang kurusetra hatinya. “Terus atau berhenti sama sekali!” hanya itu pilihannya, tidak bisa setengah-setengah. Jika terus, dia harus kembali menutup gerbang itu dan itu tidak mudah. Jika berhenti dia pun harus berhenti sepenuhnya. Dan perang Barathayuda dalam diri itu berlangsung cukup lama. Berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-bulan sebelum akhirnya penyakit tua mulai menghinggapinya dan membuatnya tak berdaya terbaring di tempat tidur sebuah rumah sakit. Dan baru ketika fisiknya melemah, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti total dari pekerjaannya dan menghilangkan diri.

***

Selasa, 20 Desember
Jam 1 Siang.

Tetangga-tetangga dan warga desa berbondong-bondong melayat jenazah Lik Paidi makelar yang meninggal di rumah sakit pagi-pagi. Tidak ada kejelasan pasti tentang penyebab kematiannya. Pihak rumah sakit hanya menyatakan bahwa dia meninggal dunia karena komplikasi dan karena infeksi virus tertentu yang karenanya pihak rumah sakit telah terlebih dulu memandikan dan memasukkan jasad Lik Paidi dalam peti dan mengirimnya dalam kondisi demikian guna mencegah kemungkinan menularnya virus itu.. Sementara, isteri dan anaknya masih terus menangis karena terakhir bertemu keadaannya sudah baik dan semakin sehat.

Selasa, 20 Desember|
Jam 3 Siang

Para pelayat sudah kembali dari tempat pemakaman. Seorang perempuan muda berkacama hitam dan lelaki setengah tua bermuka tirus, yang sewaktu melayat mengaku sebagai kenalan Lik Paidi dan kebetulan bertemu saat menengok saudara di rumah sakit, menelpon. “Tyrex sudah punah, tinggal kudanil saja yang berkeliaran.”

Rabu 21 Desember
Jam 10 Pagi

Isteri Lik Paidi yang sederhana itu pingsan. Belum juga masa duka cita lewat, dia terkejut karena suaminya yang jarang di rumah karena makelaran keliling itu ternyata juga meninggalkan warisan uang sejumlah 4.8 milyar.
Rabu 21 Desember
Jam 10.10 Pagi

Anak Lik Paidi pingsan ketika melihat ibunya pingsan.

Rabu 21 Desember|
Jam 12 Malam

Seorang laki-laki berumur nampak sedang berdiam hening di halaman sebuah pondok sederhana di atas sebuah perbukitan. Dia adalah laki-laki yang karena terbatasnya pilihan akhirnya memilih untuk meninggalkan pekerjaan yang semula sangat dibanggakannya dan juga meninggalkan isteri dan anaknya, yang oleh karena pekerjaan, kurang begitu diperhatikannya walaupun sebenarnya hatinya begitu merindukan mereka. Dia adalah seorang yang tengah memulai perjalanan barunya sesudah kematiannya diberitakan kemarin hari. [Bekti Gojagie]

Tertarik dengan yang ini?

  • Galau
  • Mantan pacar
  • Serial Tina : “ajari aku jatuh cinta lagi , Rik.”
  • potongan novel (dalam rencana), mudah – mudahan siap
  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Batas Kasih 1
  • A SCARY LOVE STORY
  • Ketika keinginanku bukan kehendakNya
  • AKU LUPA KELAMINKU
  • Petualangan Arktika

Comments (4)

RonnyJanuary 9th, 2010 at 7:32 am

sangat jenius…….seolah ini adalah kisah nyata (atau jgn2 memang ini kisah nyata ???)

fekhiJanuary 9th, 2010 at 8:41 am

lah warisannya piye mas??? :p

adiJuly 27th, 2010 at 10:33 am

mertuo kan kayo

adiJuly 27th, 2010 at 10:35 am

ada kalanya antara konsep hidup berubah dengan keadaan yang selalu berubah juga

Leave a comment

Your comment