Surat Cinta Orang Gila

(L. Bekti Gojagie)

Aku berkeliling di lahan makam ini sekali lagi. Suasananya memang sudah begitu berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Di depan dan samping makam sudah dipatok dengan papan yang bertuliskan bahwa secara hukum lahan ini sudah dimiliki oleh Juragan Akri dan dalam kaitannya juragan itu telah berenana untuk membangun gedung perkantoran, yang katanya akan banyak menyumbang pada perbaikan ekonomi termasuk warga sekitar sini. Tetapi rencana akuisisi lahan ini sendiri masih terus saja mendapatkan tentangan dari sana-sini. Tak henti-hentinya para ahli waris dan simpatisan-simpatisan menggelar demonstrasi dan orasi untuk menentang semua itu.

Sebagai penjaga Regol Makam, aku sendiri tidak bisa berbuat banyak. Aku merasa tidak berhak dan tidak mampu untuk bertindak mengatas-namakan mereka yang sudah terbaring di sini. Sungguh, aku sama sekali tidak mampu mendengar aspirasi mereka. Tetapi bagaimanapun aku merasa harus untuk juga ikut menyuarakan sikapku. Aku memang sudah menolak orang-orang suruhan yang datang dengan amplop tebal untuk memperoleh dukunganku dan amplop tebal lain untuk ikut membujuk para ahli waris agar tidak kalap. Buatku itu belum cukup. Tetapi, untuk ikut berdemonstrasi, aku merasa diriku tidak berselera karena pengalaman buruk di masa lalu. Saat aku masih berdagang tahu petis, sudah tiga kali daganganku dirayah para demonstran tanpa pembayaran sepeserpun. Hanya malam tadi, saat dalam kesendirian aku berjaga di regol makam ini, aku merasa seperti mendapat wangsit untuk lebih baik menulis surat saja dan dikirim langsung pada juragan Akri. Demikianlah isi suratku:

Surat Cinta kepada Yth Juragan Akri
Di Jakarta

Saya, penjaga Regol Makam Roekoen Makmoer, bersaksi bahwa para mayat yang terbaring di sini tidak pernah selama matinya berencana untuk berdemonstrasi maupun melukakan aksi-aksi lain yang berlawanan dengan hukum demi menentang maksud dan keinginan juragan Akri yang ingin menggusur nisan-nisan mereka dan mendirikan gedung di lahan ini. Dan bahwa diketemukannya banyak spanduk-spanduk dan atribut-atribut demonstrasi di sini sesungguhnya hanyalah ekspresi cinta para ahli waris mereka yang merasa keberatan dan tidak sampai hati jika symbol ketenangan dari mereka-mereka yang telah wafat ini diusik secara membabi buta. Jika orang tua dan sanak saudara anda juga terkubur di sini, akan sampai hatikah saudara untuk menggusur mereka?

Dan sebagai penjaga Regol Makam yang sudah bersama dengan mereka cukup lama, saya merasa cukup mengenali keheningan dan diam mereka. Diamnya mereka itu benar-benar diam, sama sekali itu bukan bagian dari mogok makan. Dan saya yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka tidak akan menyalahkan para bolduser, para cangkul dan sekop serta perkakas-perkakas lainnya yang akan digunakan untuk menggusur tempat ini. Tetapi tentang saudara-saudara yang telah diperintahkan dan menerima janji pembayaran serta upah untuk melakukan penggusuran ini, saya tidak berani bilang yakin bahwa diamnya para mayat berarti persetujuan atas tindakan saudara semua. Sebagai pribadi saya juga tidak mengerti karena keterbatasan saya dalam memahami apa yang ada dalam benak dan hati saudara-saudara semua. Mungkin di antara saudara sekalian ada yang mau melakukan ini semua karena tuntutan tangis anak-anak saudara yang kelaparan, tuntutan untuk segera melunasi pembayaran sekolah dan sejenisnya. Atas hal itu mungkin saya dan mereka yang terbaring di sini bisa makelum. Tetapi untuk motif-motif lain dalam benak dan hati saudara yang ternyata bersifat sekunder bahkan tersier, dan hanya melihat tawaran ini sebagai sumber penghasilan ekstra yang bisa dihambur-hamburkan, jika saja saya bisa membuat para mayat ini berbicara, mungkin saya akan mengajak mereka untuk berdiskursus dengan saudara-saudara semua.

Tetapi untuk sang juragan, para pemodal yang berkepentingan, serta para penegak hukum dan orang-orang pemerintahan yang oleh karena suap kemudian membuat keputusan yang bertentangan dengan hati nurani mereka, saya – dan mungkin para mayat di sini – walau klaim saya ini sedikit mengada-ada – berkeputusan untuk tidak lagi mempercayai adanya rasa kemanusiaan dalam hati anda semua. Bagi mereka yang sudah wafat dan terbaring di sini, saya mengambil sikap dan pemikiran bahwa anda sudah mati!

Demikian surat ini saya buat dengan harapan semoga hati nurani Juragan Akri yang mati suri bisa hidup lagi. Terimakasih atas perhatiannya. Atas kebaikan anda saya hanya bisa berjanji untuk ikut mengusulkan tempat istimewa di lahan ini untuk jasad anda jika sudah meninggal nanti sebagai simbol daripada titik temu musyawarah yang telah berhasil mendamaikan antara yang hidup dan mati. Sekali lagi terimakasih.

Hormat Saya,
Penjaga Regol Makam Roekoen Makmoer

***

“Orang gila! Kirain ini surat bilang kalau dia mau kerjasama. Ternyata isinya hanyalah omong kosong yang tidak jelas juntrungnya,” Pak  Bandi, tangan kanan non-formal Juragan Akri yang disuruh untuk membuka dan membaca surat itu gerundelan sendiri. Merasa aneh dengan ekspresi Pak Bandi, Juragan Akri menyambarnya dan membacanya. Nampaknya dia jengah juga ketika membaca bahwa kematiannya disebut-sebut. Dia merasa bahwa si penjaga regol makam itu telah berlaku kurang ajar dan bahkan mengancamnya secara halus. Untuk itu, dia akan memberikan pelajaran demi membuka mata si penjaga makam agar melek dan paham dia tengah berhadapan dengan siapa.

Juragan Akri mengambil stabilo dan menggaris warna bagian dari dua kalimat di surat itu : … Bagi mereka yang sudah wafat dan terbaring di sini, saya mengambil sikap dan pemikiran bahwa anda sudah mati… dan … ikut mengusulkan tempat istimewa di lahan ini untuk jasad anda jika sudah meninggal nanti… Kemudian dia pun menyuruh Pak Bandi untuk membuat laporan ke yang berwajib untuk memperkarakan penunggu regol makam karena telah mengancamnya secara tertulis dengan mengatakan bahwa dia harus mati. Dia menitipkan sekantong uang pada tangan kanannya itu dan menginstruksikannya untuk mereka-reka langkah apa saja yang dipandang perlu dengan dua tujuan: untuk memenjarakan penjaga regol dan atau untuk membuatnya bertekut lutut dan membantu memperlancar rencana penggusuran lahan.

Seperginya Pak Bandi, Juragan Akri nampak sedikit lega. Dia percaya bahwa penunggu regol makam, yang punya kedekatan dengan para ahli waris dan warga itu, akan segera ada dipihaknya. Penggusuran akan bisa berjalan lebih lancar, gedung cepat dibangun dan keuntungan akan segera mengalir. Hanya saja, dia nampaknya tak menyadari bahwa rencanya yang nampak begitu mudah ini akan sia-sia. Dia tidak tahu kalau sejak minggu lalu si penjaga regol makam ini mungkin telah memiliki kekebalan hukum. Seandainya dia teliti sedikit melihat ujung lembaran surat ini — yang masih bertuliskan cetakan identitas pengiriman fax dari RSJ Roekoen Makmur — mungkin dia akan mendapatkan petunjuk bahwa penjaga regol makam Roekoen Makmur ini merupakan pasien rawat jalan. Dan dia juga tidak tahu bahwa sementara dia sedang membaca surat itu, si penjaga regol makam sedang berapi-api berorasi dengan corong terbuat dari lipatan kardus bekas di depan gundukan-gundukan tanah makam dan batu nisan. Dalam kesadaran akhirnya sebelum konslet, si penjaga makam berpikir bahwa juragan Akri sudah gila karena kegemarannya menggusur-gusur makam. Dan demikian juga, pada saat kegilaannya, si penjaga makam pun tetap saja memahami juragan Akri sebagai orang gila. [Bekti Gojagie]

Tertarik dengan yang ini?

  • Love’s Melody
  • Mimpi Berhadiah
  • Leaving on a Jet Plane
  • Pohon
  • Kasmaran
  • Getar cinta
  • indah Kau pertemukan kami
  • Kidung Rindu
  • merajai mimpi III
  • merajai mimpi II

Comments (1)

LiniJanuary 8th, 2010 at 4:08 pm

welkam bek, Bek!
;)

Leave a comment

Your comment