Satu Yang Belum Bisa Lepas
(Levina Widyarsa)
Pada suatu siang, di antara hari libur lebaranku di kampung halaman, mami mengajakku menemaninya menyetrika pakaian di loteng rumah kami. sambil mengobrol, tiba-tiba mami teringat sesuatu. Sesuatu yang ingin beliau lakukan bersamaku, kalau aku pulang ke rumah. Mami berlari ke dalam kamar, kemudian keluar lagi dengan 2 buah bungkusan plastik. Dibukanya kedua bungkusan plastik itu di hadapanku, yang ternyata isinya dalah baju-baju bekas pakai aku dan adikku ketika masih kecil, serta ada juga baju-baju bekas papi dan mami.
“Bantu mami memilih baju bekas yang masih bisa dipakai ya. Mami mau sumbangkan sebagian ke panti.” ujarnya seraya menyebut sebuah nama Yayasan yang cukup terkenal di kota kami.
Satu per satu baju-baju itu mulai kami pisahkan. Kupandangi baju-baju bekas yang berserakan di depanku. Ada rok jeans ku yang mungil, celana pendek adikku waktu masih SD, piyama papi yang sudah lama tidak dipakai, daster mungil warna pink yang dulu sering kupakai, yang kini sedikit menguning dimakan waktu. Ada rasa sayang yang bergetar di hatiku. Begitu banyak memori-memori seperti foto yang buram berseliweran di otakku. Ada rasa bahagia dan sedih muncul bersamaan membuat mataku mulai terasa hangat. Ada rasa bahagia membayangkan anak lain nantinya juga akan mengukir memori-memori manis dalam hidup mereka dengan memakai bajuku. Aku tersenyum sendiri membayangkan aku seperti meneruskan sebuah ‘tongkat estafet kehidupan’ kepada mereka.
Ketika mami membuka bungkusan yang kedua, aku semakin terpana. Mami meraih sebuah baju bayi mungil warna kuning. Di dalamnya kulihat banyak baju bayi dengan model serupa tetapi berbeda warna, celana rajut dan topi bayi rajut berwarna pink, dan topi-topi mungil dengan berbagai model dan warna, lengkap dengan tali pengikatnya.
Mami berkata, “Baju-baju ini sudah dipakai kamu dan adikmu, lho.”
Kupandangi baju-baju mungil itu dengan sedikit takjub. Sulit rasanya percaya bahwa 26 tahun yang lalu aku pernah sekecil ini. Kami berdua tenggelam dalam kenangan kami masing-masing. Tiba-tiba mami berkata, “Ah, yang ini jangan dulu ya,” seraya memasukkan kembali baju-baju itu ke dalam plastik. Air mataku menetes dalam hening. Kuakui tak satu pun dari kami rela melepaskan baju-baju bayi itu. Ada kenangan yang begitu pribadi antara aku dan mami yang terukir bersama baju-baju mungil itu. Kenangan ketika mata kami saling bertemu saat aku menyusu dalam gendongan mami, ketika mami membersihkan kotoran dan muntahanku, ketika mami menyeka mulutku yang belepotan bubur, kenangan yang tak mampu diingat oleh otakku namun langsung tertanam di hatiku. Kenangan ini begitu personal dan eksklusif hanya antara aku dan mami, sehingga dengan sangat menyesal kami masih belum mampu menyerahkan ‘tongkat estafet kehidupan’ yang satu ini.
Lamunanku terpecah ketika mami memanggilku untuk minum juice. Yah, kurasa tak satupun dari kami sanggup meneruskan apa yang kami kerjakan saat ini. Sambil melangkah menuruni tangga, aku berpikir, mungkin suatu saat nanti…tapi tidak saat ini.













semangat terus gan. tak dukung abis