Sekilas Sinetron

(Levina Widyarsa)

Terus terang butuh waktu lama untukku mempertimbangkan untuk menulis tentang ini.

Well, terus terang aku sama sekali bukan penggemar sinetron. Dengan segala hormat kepada mereka yang hobby nongkrongin sinetron, bagiku tak banyak hal yang bisa kupelajari dari kegiatan tersebut. Pendek kata, ngga ada manfaatnya. Tapi namanya juga manusia, kadang2 aku pun bertoleransi kalau mamiku kebetulan sedang hobby dengan satu kisah (kan gak mungkin setiap penghuni rumah dapat TV masing-masing). Kadang aku memang membiarkan emosiku diaduk-aduk oleh jalan ceritanya yang mendadak jadi seru kalau sudah hampir tamat.

Belum lama ini ada satu adegan dari sebuah sinetron yang tayang di RCTI tiap jam 9 malam, yang cukup bikin gatal untuk dibahas. Satu adegan saja…membuatku mengambil resiko ‘dicerca’ dan ‘dihina’ oleh kawan2 ‘sejenis’ku yang benci sinetron.

Alkisah, pada adegan tersebut, sang tokoh utama wanita menghadapi dilema, di mana dia harus memilih di antara 2 lelaki yang sangat mencintainya. Yang satu adalah tunangannya, dan yang lain adalah pria yang dikenalnya kemudian, yang membantunya menemukan kembali kehidupannya yang hilang sewaktu dia mengalami kecelakaan.

Singkat cerita, sang wanita mendapati hatinya sudah mulai berpaling kepada pria kedua. Namun rencana pernikahan terus bergulir, dan mau tak mau ia harus jujur pada tunangannya. Maka si wanita mengambil langkah, dengan mengajak tunangannya bicara empat mata.

Dialog yang terjadi yang dapat kuingat kurang lebih seperti ini :

Wanita : Apa yang akan kamu lakukan seandainya kamu jadi aku? Tetap bersama dengan cinta pertamamu atau menghabiskan sisa hidup dengan orang yang telah mengembalikan kehidupanmu?

Pria (dengan mata berkaca-kaca) : Aku memahami sulitnya posisi kamu. Tapi kalau aku jadi kamu…aku tahu ini sangat sulit… tapi aku akan memilih berada di sisi orang yang telah mengembalikan kehidupanmu. Walaupun sebenarnya, aku pun tak ingin kehilangan kamu.

Sang tunangan mengucapkan kata2 itu sambil sekuat tenaga berupaya tersenyum dan menenangkan hati wanita kekasihnya, sambil berusaha keras menahan air matanya yang hendak jatuh. Sederhana dan begitu menyentuhku. Dari adegan tersebut, aku bisa melihat sebuah cinta sejati yang selalu memberi dan tak mengharap kembali, cinta yang tidak egois dan hanya memikirkan kebahagiaan orang yang dicintainya. Sebuah bahasa visual yang jelas dan dalam maknanya, tanpa kata2 puitis yang berlebihan dan cenderung berkesan murahan.

Oh, andaikata… andaikata para produser sinetron lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas, lebih ingin mencerdaskan hati dan pikiran masyarakat daripada meraup untung belaka, maka tak perlu banyak adegan yang diwarnai kekerasan, kata2 kasar, air mata buaya yang mungkin bisa menaikkan rating, tapi menumpulkan hati nurani. Sebuah dialog sederhana dan jujur pun telah cukup memberi pelajaran bagaimana mencintai dengan tulus.

Tertarik dengan yang ini?

  • Peduli?
  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Comments (1)

Si ToingNovember 16th, 2009 at 7:15 pm

Memang harus diakui, sebagian besar sinetron yang tayang di tv kita, kalau di rata-rata nilainya gag lebih dari 6. Tapi kadang2 ada juga nilai2 menarik yang bisa diambil. Kebetulan aku juga nonton adegan yg dibahas diatas. Emang bener, very touchy. Dengan kata2 sederhana yang gag berbunga-bunga dan bergombal-gombal, tapi daleeem banget.

Leave a comment

Your comment