This Is How I love You

(Levina Widyarsa)

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"

(“Aku ingin” by Sapardi Djoko Damono)

To my friends in Atelier T(W)O… it takes only a month to have your names written in my heart…

Sekitar bulan November 2007, seorang sahabat memperkenalkan aku pada sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono. Sebuah puisi pendek yang cukup mencuri perhatianku pada keindahan kata2nya. Tak pernah terpikir olehku untuk memahami puisi itu, sampai suatu saat yang tak pernah kusangka akan terjadi.

Bulan April 2008, seorang teman yang baru kukenal tiba2 ‘menyentil’ memoriku akan kalimat2 indah puisi “Aku ingin” dengan menanyakan arti puisi tersebut. Sayangnya, aku masih hanya terpesona, tapi tak mengerti. Dalam hati aku berjanji akan memberitahunya begitu aku mengerti. Dan akupun tetap menjalani hari2ku, dengan janji yang makin lama makin tersembunyi oleh tumpukan berkas peristiwa kehidupan. Sampai suatu ketika terjadi peristiwa yang memaksaku ‘mengunyah’ baris demi baris puisi tersebut, dan memenuhi janjiku…

Tanggal 5 Mei 2008 tengah malam (atau pk 00.00 tgl 6 Mei 2008 ?? whatever…), sebuah ‘kejutan’ telah membuat sebuah bagian diriku berubah dan takkan pernah sama lagi. Sebuah kejadian yang meninggalkan luka dan menyisakan rasa sakit yang mendalam, telah menanamkan jejaknya pada peziarahanku. Pada detik2 ketika aku melangkah membawa pulang yang tersisa dari diriku, detik2 dimana aku seperti prajurit yang kehabisan napas dan kalah perang, aku masih percaya bahwa aku akan sembuh dan akan mampu berlari lagi, hanya tak tahu kapan atau berapa banyak waktu yang kubutuhkan untuk bisa bangkit lagi.

Dari fase “tidak percaya”, fase “tidak terima”, proses “menerima kenyataan” yang menyiksa, akhirnya dengan dukungan orang2 tercinta perlahan-lahan aku mulai berdamai dengan diriku, menerima dan mensyukuri peristiwa yang lalu sebagai bagian dari hidupku. Dua hari setelahnya, aku mulai belajar kembali menegakkan kepala menatap masa depan. Segala yang terjadi dibelakangku mulai terasa mengabur seperti mimpi, dan aku pun belajar tersenyum lagi.

Namun, Tuhan tak pernah mengijinkanku lari. Pertemuan di Dufan dengan teman2 ternyata jadi agenda yang menyiksa dan menakutkan, memicu pergumulan di dalam hatiku. Haruskah aku bertemu teman2ku ? Mampukah aku bertemu dengan mereka dengan harga diri yang sudah terinjak hancur ? Semua ini terasa tak adil bagiku. Teman2ku masih boleh hidup dengan mimpinya, sementara mimpiku hancur berantakan dalam semalam. Aku merasa malu dan tak berharga. Jauh lebih mudah bagiku untuk menghilang dan tak muncul lagi. Teman2ku yang kusayangi kini adalah bagian dari lukaku, bagian dari sesuatu yang menyakitiku dan ingin kulupakan. Dengan adanya luka di hatiku, relasiku dengan mereka takkan pernah sama lagi. Berhubungan dengan mereka berarti membuka luka lama, dan membiarkan diriku hidup di bawah bayang2 kejadian masa lalu yang menyakitkan. Bertemu mereka berarti bertemu kembali dengan kenyataan yang selama ini ingin kuanggap sebagai mimpi buruk yang tak pernah terjadi. Ingin rasanya membiarkan mereka berlalu bersama mimpi buruk di belakangku dan melangkah maju tanpa pernah menengok ke belakang lagi.

Pada saat2 pergumulan inilah, puisi itu datang lagi dalam pikiranku, membuatku mempertanyakan maksud kata2nya dan maksud kemunculannya dalam pikiranku. Mencintai dengan sederhana… seperti yang tidak sempat dikatakan kayu kepada api yang menjadikannya abu, yang membuatnya kehilangan eksistensinya sebagai kayu. Atau awan yang kehilangan wujudnya oleh karena kehadiran hujan. Ketika kita memilih untuk mencintai, saat itulah eksistensi kita dipertaruhkan. Sekali kita memilih cinta, kita harus siap mengorbankan eksistensi kita. Yang berarti kita harus siap melepaskan ego, keinginan pribadi, harga diri.

Mencintai tidaklah mungkin tanpa memberi. Dan memberi selalu adalah pengorbanan. Pengorbanan tidak lagi mengingat “siapa aku?”, “apa yang seharusnya kudapatkan?”, tetapi “apa yang seharusnya dia dapatkan?”. Sesederhana itulah cinta. Kayu bukan lagi kayu. Tapi sebelum menjadi abu, pengorbanannya telah memberikan kehangatan. Awan bukan lagi awan. Tapi sebelum tiada, pemberiannya telah memuaskan dahaga.

Jawabannya menjadi sangat jelas bagiku. Antara harga diri dan cinta, aku memilih yang sederhana. Teman2ku yang telah membimbing dan mendampingiku selama satu bulan ini berhak mendapatkan lebih dari sekedar salam perpisahan lewat SMS. Sekalipun itu berarti aku harus melucuti semua egoku yang ingin dipuji dan dihargai , berhadapan dengan rasa sakit dan malu, dan tampil apa adanya diriku saat ini yang tidak punya apa2 untuk dibanggakan. Aku memilih untuk hadir di hadapan mereka, membawa diriku yang tak lagi sama, yang rapuh dan belum sepenuhnya pulih, demi rasa sayangku pada mereka. Karena akhirnya, daripada melindungi mukaku, aku lebih ingin menatap dan mendengar cerita mereka langsung dari mulut mereka, melihat langsung kebahagiaan mereka, yang ternyata jauh lebih penting daripada sekedar memikirkan diriku sendiri.

Guys… this is how I love you. Mudah2an aku masih dapat memberi warna bagi kalian dengan ketiadaanku ini.

PS. Tulisan ini aku dedikasikan buat manusia2 luarbiasa di dunia ini yang telah rela kehilangan eksistensi mereka secara total demi cintanya padaku :
Papi dan Mamiku (I love u always…)

Baca juga

  • #40MariBerbagi- terima Kasih 4
  • beo yang pandai menggonggong
  • Menikmati Hidup (2)
  • Ayo Taklukkan Gadget-mu!
  • Being Single
  • Mogok
  • Psikologi Manula (3)
  • Ajari Aku (Kebaikan)
  • Aku Hanya Mencintaimu
  • Gereja Sion Dan Kawasan Kota Tua Disekitarnya

Leave a comment

Your comment