Jangan berantem dong…

(Liana Matasik Karini)

Masalah antara Indonesia-Malaysia yang lagi “hangat” belakangan ini menggelitik hati gue. Ini cuma luahan hati gue doang lho tanpa ada unsur politik ataupun berpihak ke pihak manapun.

Gue cuma seorang Indonesia yang bangga dan cinta tanah airnya, yang kebetulan jatuh cinta pada seorang Malaysia dan belakangan menyumbangkan 3 anak cakep dari rahim gue untuk menambah populasi orang Malaysia. Sebagai seorang Ibu ato Mommy-nya Babang, Dedek dan Bibi, gue ajarin anak2 gue apa yang gue tau. Dari anak2 gue dalam kandungan, mereka dengar mommy-nya ngomong bahasa Indonesia dan nyanyiin lagu2 kayak Bintang Kecil, Balonku, Lihat Kebunku, Naik2 ke Puncak Gunung, Cicak2 di Dinding, Pada Hari Minggu, Pelangi2, Bila Kusudah Besar Nanti, dll. Dari mereka bayi, mereka pakai sabun, sampo, hair lotion Switzal, minyak telon Konicare yang setau gue cuma ada di Indonesia semata karena mommy suka wanginya. Satu2nya lagu yang anak gue lancar nyanyiinnya adalah Cicak2 di Dinding (bisa sampai berduet nyanyiinnya si Babang ma Dedek, malah bisa trio ama keponakan gue yang di Jakarta). Makanan favorit mereka kue cucur. Kalau makan maunya pakai kecap (kecap kental manisnya Indonesia).

Pernah suami gue ngetes anak gue…eh maksud gue anak kita, yang paling besar yang waktu itu baru sekolah beberapa bulan (waktu itu umur 3 tahun), “Babang, where’s your nose?” Babang nunjuk dengan benar, begitu juga dengan eyes, ears, mouth, hair, hand and legs. Trus suami gue ngetes anak kedua kita yang belum sekolah (waktu itu umur 2 tahun), “Dedek, where’s your nose?” Setelah beberapa pertanyaan, suami gue bilang, “How come she got it all wrong?” Dari jauh gue teriak, “Yang, she’s Indonesian!” Dengan narik nafas panjang suami gue ngetes lagi, “Dek, mana hidungnya?” Sampai ke mata, telinga, mulut, rambut, tangan dan kaki semua ditunjuk dengan benar sambil bilang, “Nih!” Dengan mata sipitnya, suami gue ngelirik tajam ke gue, “Alamak Indonesian pula!”

Itulah yang gue tau dan itulah yang gue turunkan ke anak2 gue dan mudah2an juga akan diturunkan ke generasi berikutnya. Trus kalau anak gue nyanyi Cicak2 di Dinding, emang dia maling ya? Kalo ada yang berani bilang anak gue maling, gue makan lo!

Udah hampir 6 tahun gue di tinggal di Johor, Malaysia dan dari hasil pantauan gue dan sedikit pengetahuan sejarah yang diturunkan dari suami gue, orang2 Melayu di Malaysia nenek moyangnya memang dari Indonesia. Kebanyakan orang Melayu yang gue tanya orang mana, jawabnya ada yang Riau, Minangkabau, Tanjung Pinang, Madura, Aceh, Dumai, Jawa, Bugis, Makasar, Menado, dll kampung di Indonesia. Mereka bukan TKI lho tapi penduduk sini yang udah menetap sejak beberapa generasi. Kurang jelas yang asli Melayu itu dari mana tapi terutama yang beragama Islam (mau dia itu asalnya dari Bugis, Jawa, Minangkabau, dll) semuanya dikategorikan sebagai orang Melayu yang akan mendapat privileges (hak2 khusus) tersendiri dibanding penduduk yang ber-ras Cina dan India (dua ras terbesar di Malaysia selain Melayu yang mayoritas).

Kalau gue ditanya gue orang mana, jawaban gue orang Toraja-Batak walaupun seumur-umur baru sekali ke Toraja dan gak pernah ke Medan. Memang leluhur gue berasal dan dikubur di sana koq, benar dong gue bilang gue orang Toraja-Batak. Sama juga ama mereka penduduk Malaysia yang jawab dia orang Jawa ato Busgis dll karna leluhur mereka memang berasal dari sana.

Begitu juga dengan budaya, tradisi, bahasa atau apapun yang diajarkan generasi di atasnya ke generasi sekarang di Malaysia, semua adalah apa yang generasi tua itu tau, sama seperti gue. Sama juga seperti misalnya orang Cina, biar sejauh mana nenek moyangnya merantau segala bahasa, tradisi, budaya dibawa dan diajarkan ke generasi di bawahnya. Negara Cina gak marah budayanya ada semua di Taiwan. Orang Portugis gak marah tariannya jadi salah satu tarian budaya di Melaka, Malaysia (orang Portugis pernah mengusai Melaka). Orang Inggris gak marah budayanya ada semua di Australia. Orang Indonesia gak marah budayanya dibawa ke Suriname…hehehe kayaknya marahnya cuma ama orang Malaysia.

Jangankan penduduknya, 8 kesultanan di Malaysia yang dipertahankan sampai sekarang adalah keturunan dari kerajaan di Sumatera yang di Indonesia sendiri sudah punah. Seorang raja dari kerajaan di Sumatera yang berbasis Islam yang melarikan diri karena dikalahkan oleh kerajaan yang berbasis Hindu sampai ke Singapura. Buat yang belum tau, Singapura itu dulu adalah bagian dari Malaysia yang akhirnya dilepas, dalam kemiskinan dan tanpa memiliki apa2, karna ada pertikaian tanpa akhir yang menuntut persamaan hak. Satu kesultanan lagi yang di Johor berasal dari Bugis.

Pernah gue baca status beberapa temen di fb yang bilang gini, ayo kita serang, perang aja… Gue mau bilang, yaa jangan dong. Waktu kota Sodom dan Gomora mau dimusnahkan Tuhan, Abraham bisa tawar-menawar untuk menyelamatkan kota itu apabila ada segelintir orang baik di kota itu dan gue khan orang yang sangat baik, jadi peace dong deh.

Ada lagi yang bilang, pake ngaku2 serumpun… Gue mau bilang, suka gak suka ya gimana memang orang sini dari Indonesia yang merantau dan terdampar di tanah ini, jadi mayoritas dan memegang pemerintahan lagi (orang Melayu). Penduduk yang benar2 asli ada, mereka kaum minoritas, kalau di Semenanjung Malaysia (Peninsular Malaysia atau Malaysia bagian barat) namanya Orang Asli (kulit hitam, rambut keriting, wajah Asia kayak orang Indonesia gitu deh). Kalau di Sabah dan Sarawak (Malaysia bagian timur) “orang aslinya” adalah orang Dayak.

Trus ada lagi, mana pemerintahnya gak mau minta maaf lagi… Gue mau bilang, gue aja yang minta maaf, gimana??

Yang lain lagi, gak terima lagu Indonesia Raya dilecehkan… Gue mau bilang, GUE JUGA GAK TERIMA! Tapi siapa pelakunya? Coba kita tenang dan pikirin kemungkinan2 yang mungkin ada. Mungkin gak ya kalau yang mlesetin orang Indonesia sendiri karna yang hafal lagu kramat itu ya bangsa Indonesia sendiri. Soal bahasa yang dipakai, mungkin juga orang Indonesia yang udah jadi orang sini dan jadi usil kali. Ini khan cuma mungkin.

Hampir selesai nih luahan hati gue. Suwer gue bukan belain negara orang karna gak ada untungnya juga buat gue! Anak2 gue juga gak punya peluang buat bakal jadi Perdana Menteri di sini karna bukan Muslim, bukan Melayu, mommy-nya warga negara asing pula…habis deh!

Kalau Donald Trump bilang, It’s nothing personal, It’s just business. Gue bilang, It’s just personal, none of your business hahaha…gak ada hubungannya yak??

Johor, 3 Sept 2009

- Catatan seorang mommy yang berharap tempat dimana anak2nya tinggal selalu aman. Jangan berantem dong…lagian buanyak banget orang Indonesia (legal maupun ilegal) yang cari makan di sini lho, yang jadi pembantu rumah tangga, pembantu kedai, kuli bangunan. Belum lagi banyak produk Indonesia yang jadi “go international”, dari sinetron Bawang Merah Bawang Putih sampai Intan, obat2an dari paramex sampai adem sari, rokok dari gudang garam sampai jisamsoe, sampai teh botol favorit anak gue. Memang ada beberapa pencari nafkah yang kurang beruntung misalnya disiksa majikan tapi buanyak juga yang harus di-grooming sedikit kelakuannya, seperti jangan main kabur aja ama laki2 Myanmar yang gak tentu asal usulnya (ada tuh pembantu kedai makan langganan gue), jangan bangun rumah gue asal2an (waktu gue renovasi rumah pakai kontraktor2 Indonesia), atau jangan main sms aja bilang mau kawin ama laki2 kenalannya di Malaysia sedangkan gue udah perpanjang dan bayar semua ijin kerjanya ama ongkos pesawat balik ke sini (pembantu gue tuh!)…curcol boleh dong hehehe. -

Tertarik dengan yang ini?

  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Facebook…ckckck…boleh juga…
  • agendakan langkahmu
  • MALAM MINGGU
  • God is good (2)
  • Story of my dog
  • TEMAN SEBANGKU (sebuah cerita pendek)
  • Be with my family
  • The day you were born

Comments (1)

EkaryanaOctober 3rd, 2009 at 12:01 pm

kayaknya marahnya cuma ama orang Malaysia [paragraf ke 7 baris terakhir] itu cuplikan yg bikin tanda tanya.
Iya ya kenapa ya ?
Atau coba tengok lagi teori “aksi – reaksi”
Setuju bgt apapun kejadiannya… janganlah “berantem” ..jangan degh
gak berantem aza, baru kena gempa kita dah sengsara dan miskin

Leave a comment

Your comment