Birthday Reminder

(Lusia Widijaningrum)

Sudah tiga hari ini, tiap membuka e-mail , pengingat itu membuat perasaanku jadi ‘nano-nano’,

mungkin karena kebiasaan yang sudah terbentuk di dalam keluargaku,   ulang tahun, di jadikan hari  spesial, nasi kuning, ataupun tiupan lilin di roti tart, dan kejutan manis dari bingkisan yang di bungkus rapi,  menjadi makanan penutup, pendek kata, tangis bahagia karena sentuhan haru  yang tak di kira sebelumnya, makin membuat kami yang ikut merayakan ikutan mewek. Siapa yang tahan di sentuh oleh ketulusan rasa kasih…?

Pengingat yang terus-menerus mengiang di deretan otak kanan dan kiriku, membuatku harus menunggu bunyi tokek,

menghitung suaranya saja, genap…? ganjil…? uff! kepercayaan yang tak ingin kuimani ini telah meracuni pikiranku , dalam mengambil keputusan.

Gilaaaaaa! tradisi ini   telah membelengguku , menimbulkan kebersalahan rasa , ahhhh, bersyukurlah Hedi yang tiap kuiingatkan hari ulang tahunnya, dengan sinis dia katakan,’ romantis yang tak perlu-perlunya,  bahkan mengingat hari ulang tahunnya sendiri tak ada dalam agenda hidupnya.  Begitukah..? tapi aku tak berani bertaruh kejujuran, karena pengetahuan telah mengajarkanku untuk menghargai proses, bahkan untuk membatin pun aku tak berani, jadi apapun itu adalah caranya, dan ku punya cara sendiri.

Berkaitan dengan menghargai caramu ,   makin membuatku bermain ‘ andaikan’ , kalau saja aku bukan pengingat hari ulang tahun orang- yang kuanggap penting dalam hidupku, kalau saja aku  bisa menjadi seperti Hedi! kalau saja memberi bukan menjadi kebahagiaanku, sekarang permainan ‘andaikan’,  makin menyesatkan hatiku,   Makin bingung !

Mulailah aku mengambil kertas dan pena, membelah tengahnya dengan garis, untuk memisahkan 2 hal yang kini tengah membingungkanku, memasukkan fakta data  sebagai  bahan  pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bagian Mengucapkan dan Tidak.

Fakta 1: Bahwa kau ingin memutuskan tali silaturahmi denganku, karena di rumahmu telah terjadi kebakaran lokal, yang belum mampu kau atasi, karena panas yang di timbulkan api ‘masa lalu’  dan letupannya masih sering muncul sesekali.

Respon: Aku menghargai keputusanmu, meskipun tetap tidak mengerti. Dimana salahku…? selain dari ‘masa lalu’ ? yang karena oleh suatu hal ditarik kembali ke saat ini ?

Fakta 2: Bahwa aku mengingat ulang tahun orang-orang yang masuk hitungan ‘berarti’ dalam dihidupku.

bahwa baik dulu, kini ataupun esok, kebiasaan  ini  seperti benang yang tergulung di cones nya, seperti tombol mekanis, yang memunculkan deretan nama yang berulang tahun, tak terpengaruh situasi  dan kondisinya.  Karena dengan mengingatnya pun aku sudah senang, apalagi kalau mereka tau aku masih mengingatnya, saat memberi ucapan dan doa .

Fakta 3 : Percikan api dari rumahmu, menyulut kabel-listrik di rumahku,  beberapa bagian masih harus di perbaikki karena terbakar, akibat arus pendek. Beberapa elektronik masih di repair,  aku kesal karena tak mendapatkan kepastian berita  mengapa ? dan aku juga kesal dengan gangguan line telphun dari providermu,  apa yang salah?  mengapa sulit ketika hanya ingin berbagi…? masa lalu menjadi kambing hitam yang lezat saat  di panggang di atas bara kenangan.

Respon dari pikiranku: tak boleh ada yang memporakkan hidupku,  termasuk benang yang kau pakai saat menarik ‘masa lalu ke dalam kehidupan kita saat ini,  ku sikapi sebagai bagian dari kau mendapatkan kembali eksistensimu.

Respon dari hatiku : mengatakan bahwa  keputusanmu tentunya di dasari oleh sebuah tujuan yang lebih mulia. Tak boleh ada yang membuatku mengubah kebiasaan yang membahagiakanku.

Keputusanku:  Ku ucapkan Selamat Ulang Tahun,  berdasarkan fakta 2,  tanpa harus kau tau ataupun mengerti bahwa ku mengingatnya,  ku kirimkan lewat doa  semoga kau berhasil memadamkan api di rumahmu, dan berhasil mendapatkan kembali eksistensimu, kuyakini bahwa dirimu tak menjadi terluka setelah memakan daging kambing panggang.

Jogja 4 Agustus 2010

Tertarik dengan yang ini?

  • Gadis Itu Aku
  • Masalah sepele
  • Belajar menghargai …
  • Ide Mampet?
  • I’m in a bad mood
  • Kenapa ya?
  • My Life is never the same
  • Yuk Nulis!
  • Sedang Bosan Menunggu
  • Berakhir Bahagia

Leave a comment

Your comment