Cinta segi_TIGA
(Lusia Widijaningrum)
Disela waktu ‘menunggu’ kereta datang:
‘ hallo sayang…., baru semalam kita bertemu, dan sekarang aku sudah rindu……’
percakapan ini menggelitikku, dan membuatku envy, di tengah keramaian orang, aku merasa sendiri,
tidak ada sesorang yang merindukanku, di kehidupan yang telah kupilih saat kuputuskan untuk tidak terlibat dengan ‘mahluk’
yang bernama Cinta. Yang terasa indah saat’ penasaran’ itu masih ada, tapi ketika lewat masanya semua menjadi biasa.
Mataku berpindah ke sepasang remaja yang saling merapat, mengaitkan jemari, mengacuhkan keramaian, menganggap sepi sekitar,
dunia serasa milik berdua, yang di benak, hanya ada kekasihnya, lain tidak! Cinta memang meninabobokkan, kesedihan ini meluncur
seberapa sanggupkah ‘cinta’ kalian akan menyelematkan di saat terjadi angin ribut ? saat persoalan hidup bergantiian datang, masihkah dapat
mengingat kata-kata manis,’ gunungpun akan ku daki, lautanpun ku seberangi demi mendapatkan dirimu…? bagaimana dengan kalimat yang ini:
walau hujan, badai aku akan tetap disampingmu….? seberapa sanggup ‘cinta’ menyelamatkan?
senyumku mengembang mengingat cerita sebuah film berjudul Lisence to married yang patut di tonton , di sela MPP ( masa persiapan perkawinan)
karena Kesetiaan teruji di tengah persoalan yang mampu dilewati dengan tetap bergenggaman tangan.
Ku berjalan mendekat ke arah laki-laki paruh baya yang memainkan Saxophone , memperdengarkan lagu I will always love you , dengan penuh penghayatan, menggerakkan hati orang yang lewat dengan ucapan kasih, meletakkan lembar demi lembar uang di dalam keranjang, kuperhatikan lebih seksama, hatiku dipenuhi keharuan ‘Cinta Buta’ nya laki-laki itu, matanya tak bisa melihat, tapi hatinya bicara lewat alunan lagu, yang menggerakkan hati banyak orang yang melewatinya, dia mengamen dengan keindahan cintanya, tidak dapat melihat wajah si’penderma’, ( ahhh.. Tuhan, Engkau punya banyak cara dalam mencinta).
Lampu kereta nampak, orang-orang beranjak berdiri mendekat, menunggu pintunya terbuka, dengan sekali pandang ,ku menuju bangku kosong di dekat tiang, duduk dan kembali mengamati, orang-orang ( Robot ! aku membatin, kerasnya kehidupan telah mengubah orang menjadi robot, terprogram). Suara di intercom itupun adalah kalimat yang terprogram otomatis, memberitahukan kepada para penumpang yang ingin transit pindah kereta di 42′nd stasiun, dingin! entah apa yang menggerakkan mereka, suara dari interkom itukah..? atau program di tubuh mereka? , beberapa orang beranjak merapat mendekati pintu, ( lumayan, agak berkurang- kepadatan di dalam kereta di jam pulang kantor), ku menampak a couple laki-laki dan wanita , masuk ke gerbong dengan berbimbingan, menilik usianya kira-kira akhir 70 an tahun, satu lagi pemandangan pembelajaran dari cinta, dari cara mereka memandang, i can tell , mereka telah mampu melewati peliknya persoalan kehidupan, dengan cinta. Tak ada bangku kosong! aku berdiri menggamit lengan nenek itu, ‘ please, you can have my seat, dijawab olehnya, ‘ no, thank you, dengan senyum dan pandagannya mengarah kembalii ke pasangannya, mengertilah aku arti sebuah janji setia : di dalam untung dan malang, telah terhayati dengan sempurna oleh nya. Pikiranku dipenuhi dengan keingintahuan mengenai ‘rahasia cinta’ mereka, antara ingin bertanya dan tidak, membuatku berdiri di samping mereka, dan meluncur begitu saja keinginantahuku tak terbendung lagi, dari percakapan singkat ku mengetahui sebuah rahasia cinta kuat mereka adalah Cinta segi_TIGA yaitu menempatkan Tuhan sebagai pusat cinta mereka, dan mengijinkan Tuhan membiaskannya kembali ke dalam kehidupan cinta mereka. Suara announcement dari pengeras itu mengingatkan pemberhentian berikutnya adalah ’82 st’ , ku ucapkan terimakasih kepada pasangan tua yang telah berbagi rahasia cinta mereka.
Berjalan menuju ke apartement, aku merenungkan kembali Cinta segi_TIGA pasangan itu, begitu menyentuh hatiku, dan berharap di suatu waktu akan ada seseorang yang mau ku ajak menjalani kehidupan dengan Cinta seperti itu.
( Untuk ke dua sahabatku :Selamat Ulang tahun Perkawinan yang ke 20)












