ICU room
(Lusia Widijaningrum)
Dari ruang berbatas kaca ini, aku menuliskan untukmu, semua yang belum sempat terucap kemaren siang.
Mungkin kau masih mengira aku ini perempuan super kuat, tapi tidak! karena saat ini aku terbaring lemah di ruang ICU dengan oksigen yang di transfer melalui dua lubang kecil di hidungku.
Mengingat kembali, kejadian kemarin siang, setelah percakapan kita selesai, mendadak aku sesak nafas, dan tak kuat menahan kesedihan di dadaku , aku terjatuh untuk yang kedua kali, kali ini lebih menyakitkanku di banding kejatuhanku 23 th lalu.
Jarum dari infus yang di transfer ke nadi di kakiku, tidak sesakit tusukan nyeri yang bertubi-di dalam dada ini. Mungkin kau masih mengira aku bisa menerima pembicaraan kemarin tanpa ciderai, kalau aku tak menelphunmu atau sms, itu karena hasil kerja cepat otakku yang memerintahkan kepada tangan untuk men-delete namamu dari contact list di phone cell ku. Karena kalau tidak, tentu aku sudah mengirimkan pesan singkat dan tak dapat menahan gejolak untuk sekedar mendengarkan suaramu.
Saat bangun pagi ini, aku masih menangis, membuahkan kesadaran bahwa hatiku masih berfungsi, aku tak sekuat yang kau kira, keinginanmu untuk menemaniku sampai tua bagai pil pahit yang terasa di kerongkonganku, menimbulkan rasa nyeri yang menyesakkan dadaku, bercampur dengan obat-obat yang di antar perawat.
Berada di dalam ruang berbatas kaca ini, membuatku merenungkan kembali ketololan ku karena mencintaimu setelah kau meninggalkanku 23 th yang lalu dan masih sampai saat ini. Jam kunjungan dokter, meluncur begitu saja pertanyaan tolol bahwa aku ingin ‘cuci otak’, dokter itu tersenyum, dan mengatakan di RS ini tidak tersedia alat semacam itu, kemudian dia menuliskan sebuah alamat RS yang terletak di’ Chapel st. ( kuputuskan untuk pergi kesana setelah dokter mengijinkanku pulang nanti).
Ku mulai membuat catatan penting di agendaku hal-hal yang akan ku lakukan sebelum pergi ke Chapel, st.
1. Mendekor ulang ruangan di hatiku dengan melepaskan lukisan yang kita buat bersama
2. Membakar semua catatan di kertas-kertas putih yang kita tuliskan bersama
3. Menghapus file ‘ soul mate” di flash disc, cerita cinta kita.
memang baru rencana, tapi sudah membuatku bernafas lega, dan nyeri didada berkurang 30 %.
Ini hari kedua, kujalani dengan susah payah, membiasakan diri dan mengatakan everything will be fine without you, mataku mencari alamat RS yang di referensikan dokter itu, tapi tak kutemukan, bertanya lagi kepada orang yang berpapasan denganku, dia menggeleng dan mengangkat bahu, aku mulai merasakan sesak nafas lagi, berdiri di depan pintu yang tertutup rapat, ku bunyikan bel ( dag dig dug….) berharap berada di tempat yang benar. Pintu di bukakan oleh Wanita berkerudung putih, mempersilahkanku masuk.
Suster itu meninggalkanku, untuk berdoa, setelah menjalani sesi tanya jawab pra-operasi. Kunyalakan sebatang lilin, nyala apinya membentuk tarian, mengiringi jatuhnya air mataku, ‘ Tuhan, beri aku kekuatan dalam menjalani keputusan ini.
Masuk ke ruang ‘operasi’, di bimbing dengan dua orang suster, kumantapkan langkah kakiku, di dalam ruangan itu, aku di temui seorang ‘dokter’ yang lanjut usia, dengan lembaran kertas bertulisan hasil tanya jawab tadi, ‘dokter’ itu memberi instruksi premedikasi dengan dosis valium 10 mg dan injeksi pada lumbalku (punggung), dalam hitungan obat itu bekerja, ku sampaikan permintaan terakhirku padamu : Bila suatu hari nanti kita bertemu, sebutkan saja namamu, dan jangan ceritakan masa lalu kita, karena akan sia-sialah usahaku hari ini, juga jangan tawarkan cintamu lagi padaku, karena aku tak mau jatuh yang ke-3 kali.
June 20, 2010
( Men-delete, semua tentangmu)












