Kacang mongso ninggal lanjaran
(Lusia Widijaningrum)
Peribahasa di atas begitu dalam kumaknai, sesaat setelah khotbah misa pagi di sebuah gereja yang semua serba sederhana, baik bangunan gedung dan seisinya . Suasana pedesaan, bebunyian angin di dedaunan, kicauan burung membawa aroma kesejukkan.
Misa pagi dalam bahasa jawa, membuatku harus ekstra menyimak, untuk dapat menangkap makna dari kalimat perkalimatnya,
terjemahan bebas yang ku maknai dengan segala keterbatasan kemampuanku dalam menangkap arti dari peribahasa itu:
di aplikasikan dalam sebuah keluarga, bahwa segala tingkah laku orangtua, dalam berbahasa, bertindak, amat pekat di perhatikan dan akan ditiru oleh sang anak, sejak dia mulai bisa memahami bahasa yang paling sederhana dari yang dapat ditangkap seiring usianya.
Menjabat sebagai orang tua , tidaklah mudah, pikirku, karena banyak yang harus di damaikan terlebih dahulu dari dalam diri ‘orang tua’ baik disadari ataupun tidak, sifat anak yang tinggal melekat di dalam kehidupannya tetap ada, meski kadang ‘tidur’ dan sewaktu juga akan ‘bangun’. Kesadaran yang terus menerus di upayakan akan menjadikan kita sebagai contoh yang baik.
Lapar dan haus juga lelah dan berbeban berat menumbuhkan kerinduan untuk bersatu di ruang-ruang waktu yang semakin hari mengingatkanku akan arti sebuah perjumpaan yang sakral dengan Sang Pemberi.
Kesederhanaan yang di tawarkan dalam menjalani hidup, di tengah maraknya kemajuan peradapan jaman? adalah sebuah ‘tantangan’ yang menarik , menyimak lebih dalam berkiblat kepada ‘ keluarga nazaret’ lebih menunjuk kepada sikap hidup yang dibangun dari dalam hati, tentu saja berpusat pada pikiran sebagai sebuah awal.
Pastur menutup khotbahnya : marilah kita berdoa, memohon kepada Tuhan, agar kita dapat hidup dengan membangun kesederhanaan, dan juga memohon agar anak-anak kita menjadi terbuka hatinya dan tergerak bersama-sama di dalam keluarga sehingga menjadi contoh yang baik bagi lingkungan di mana kita tinggal.
Morangan, Juli 2010











