Kembali
(Lusia Widijaningrum)
Iya…! ku menunggu. Iya…! ku mulai terganggu,
pada setiap pikiran yang hadir di langit-langit tak beratap.
Bilakah ini jadi mauku?
Menunas dari sisa-sisa akar….?
Bilakah ini jadi maumu?
Mengguratkan tinta di seratnya daun menguning, luruh……?
Siapa yang tertawa…?
Digelaknya malam, kau hanguskan tunas dengan api keangkuhan!
bintang jatuh di ujung ranting, kau jadikan tongkat, pergi menjauh…….,
Siapa yang beri Luka…?
meluluhlantakkan hati, mengutuki hari tanpa kata,
pergi menepuk dada, ‘ aku…! lelaki punya hati………..’.
Lusia












