Konferensi Pers
(Lusia Widijaningrum)
Panggung di buka
Di tanah lapang itu pengadilan adat di gelar, seorang perempuan berdiri di pusat lingkaran, dengan muka tertunduk menghormat ke bumi, bungkam!
Berada di tengah-kerumunan orang-orang yang berdiri tak tenang, aroma kemarahan berbaur di udara, tak sabar ingin mendengar pengakuan dari perempuan itu, satu kata yang diucapkan, 10 lemparan batu, hukum harus di tegakkan, perempuan yang ketahuan berzina harus dirajam.
Pendakwa bicara :
Saudara-saudara sebagaimana kita ketahui, bahwa hukum di negeri ini harus di tegakkan, jangan sampai negeri ini di cemari oleh perbuatan hina. Perempuan ini telah ketahuan berbuat zina. Berdasarkan keterangan dari para saksi ahli tidak ada hal yang dapat meringankan dia, apalagi yang dapat membebaskan dia dari hukuman.
siapakah perempuan itu ? aku bertanya ingin tau, kepada laki-laki yang berdiri di sampingku, laki-laki itu balik bertanya: darimanakah saudara? karena sampai tidak mengetahui ketenaran perempuan itu. Apa kah yang dia lakukan sampai menimbulkan kemarahan penduduk di sini? laki -laki paruh baya itu menyerigai: dia bekerja sebagai penghibur.
Masih dengan rasa penasaran aku berpindah tempat, dan kembali bertanya : siapakah perempuan itu? kenalkah ibu dengannya? dan di jawabnya dengan isak tangis, dengan terbata dia menjawab, tentu saja aku mengenalnya sejak lahir, dia anak perempuanku. Ganti aku yang tertegun. Maaf…! kataku, dan berlalu pergi. Bagaimana dapat ku hiburkan hati ibu itu, sedang aku tak tau apa-apa, satu cerita yang terdengar telinga kiri, lain dengan yang di dengar oleh telinga kanan. ( Ah…Guru, apa yang harus aku lakukan? ku amati dengan lebih jelas sambil berharap agar perempuan di pusat lingkaran itu bicara, membela dirinya, ucapkan sepatah kata, tegakkan kepala, tapi dia tetap dg posisi semula, tak bergeming dari sikap menghormat ke bumi! matahari mulai naik melewati pohon. Menunggu perempuan itu memecah kebisuan membuatku mengambil keputusan untuk meninggalkan arena pengadilan itu.
‘Tunggu! jangan pergi, tolong aku, suara itu cukup jelas ku dengar, aku menoleh mencari siapa pemilik suara itu? tak ada siapa-siapa, selain dari kerumunan orang-orang yang makin merapat dan mulai meriuh memaki dan mengatakan bahasa yang tak sedap di dengar, pendosa! pendosa! semakin galau lah aku, halusinasi! pikirku, aku kembali membalikkan badan bersiap meneruskan perjalananku, dan….jangan pergi…..selamatkan aku! untuk kedua kalinya aku membalikkan badan, mencari siapa pemilik suara itu, ( Guru apa yang harus aku lakukan?) aku mulai memjamkan mataku, berkonsentrasi, dan mulailah dialog tanpa suara itu:
Bicaralah aku mendengarkan….,
Laki-laki itu , begitu saja masuk kerumahku tanpa diundang, dia mendekapku, aku menolak nya, ku katakan, maaf aku tidak bisa menuruti keinginannya, muka laki-laki itu menyerigai, dan mulai berteriak ke arah luar pintu, Pendosa! pendosa, aku menangkap pendosa!
Apa yang saudara lakukan di rumahnya? ku arahkan pandanganku ke arah si pendakwa. semua mata tertuju padanya. Pagi hari….? apakah saudara memata-matainya? dan si pendakwa, bicara bergumam, kepalanya menoleh ke kanan-ke kiri, mencari bantuan. Aku berjalan mendekat ke arah perempuan itu, ibu tolong perlihatkan kepada mereka, semua mata melihat ke arah punggung wanita itu. Pada baju yang terkoyak, pada luka bekas gambar kekerasan.
Satu demi satu orang-orang pergi sambil bergumam…., aku menarik nafas lega, tak terpikirkan kenekatanku bisa saja berbalik petaka tuduhan baru ke arahku, betapa sulitnya melihat persoalan dengan jelas di saat pikiran sudah di penuhi dengan gambaran-gambaran yang di yakini benar.
Betapa sulit mendengarkan suara nurani di saat telinga hanya ingin mendengar yang ingin didengar.
Mengatasnamakan dan bersembunyi di balik hukum, Hukum untuk manusia atau manusia untuk hukum? perihnya perempuan itu…., diamnya perempuan itu….., dia hanya ingin kembali ke baik, dia hanya ingin melalui pintu yang sempit itu, untuk memenuhi undanganMu, dalam diamnya, dalam hormatnya ke pada Bumi tempat di mana Kau inginkan menjadi seperti di tempat Mu berada.
Yogyakarta,1 Juli 2010












