Nafas Sang Cinta

(Lusia Widijaningrum)

Ini adalah sebuah cerita tentang  anak manusia, yang menemukan arti akan hakekatnya dalam mencinta.  Bukan cinta diri yang di puja, ketika hati hanya punya satu tujuan, yaitu: memikirkan, merasakan dan melakukan, kepada yang di cinta, yang ada di benak, hanyalah yang di cintai, di setiap aktifitas dalam hidup semua di lakukan untuk cinta. Nafasnya untuk cinta. Sampai kepada kedalaman makna saat Tuhan bicara tentang Hukum yang Utama : Untuk mencintaiNya dan sesama.

Anak manusia awalnya tak mengerti, apa itu Cinta ? sampai suatu hari dalam hidupnya bertemu dengan seseorang yang membuat hatinya bergetar, dan semua yang di lihat oleh mata, di rasa lebih indah dari sebelumnya.  Hari-harinya menjadi penuh nyanyian, menebar senyum, bicara pada semesta, belajar pada semesta.  Meyakinkan diri, memantas diri, untuk menjadi yang terbaik, memberi yang terbaik, kepada dia yang telah membuat hatinya bergetar. Sampai Sang Guru bicara, mengertikah kamu sekarang? itulah Cinta.  Sampai Anak manusia terbuka mata hatinya, begitulah seharusnya menempatkan Tuhan dalam hidupnya, mencintai Tuhan dalam hidupnya.  Dalam percakapannya anak manusia bicara: ‘Terima kasih Tuhan, kau berikan dia untuk membuatku belajar memahami betapa lebihnya CintaMu, betapa lebihnya pengertianMu, betapa lebihnya perhatianMu, betapa lebihnya indahMu.

Anak Manusia di gulung mendung, pagi itu tak di lihatnya, dia yang di cinta, pikirannya galau, yang terjadi tak sesuai dengan yang di rencanakan, seketika hidupnya berubah menjadi keluhan,mulutnya mengidungkan ratapan, tangisan pecah di udara, tak ada lagi keindahan. Sampai Sang Guru bicara tentang sebuah keyakinan dan menaruh harapan, tentang mengolah makanan yang bernama kepahitan menjadi enak di makan. Dalam percakapannya anak manusia bicara: ‘ Terimakasih Tuhan telah berikan aku kesedihan, membuatku belajar  betapa lebihnya sedihMu , saat yang Kau cintai, menolakMu dan pergi menjauh.

Suatu pemahaman baru di terima : mencintai dengan konsekuensi terluka”.  Anak manusia kembali bicara kepada semesta, mengidungkan aku percaya betapa lebihnya CintaNya Tuhan, yang hanya punya satu tujuan untuk memberikan Cinta tanpa batas.

Suara Sang Guru kembali terdengar,” anakku, cintamu harus bisa membuat orang yang kau cintai  hidup dan bertumbuh, memberinya kebebasan untuk memilih dalam hidupnya.

Maka mengertilah dia, masih jauh dari sempurna, saat hatinya masih di liputi kemarahan, kebencian, dan keinginan untuk menyakiti.

Anak manusia makin bertekun di dalam pengajaran Sang Guru, mengarahkan hidupnya untuk belajar pada Sang Pemberi Cinta .

bahwa di akhir alinea tertulis : apa yang kau pikirkan, yang kau ucapkan, dan yang kau lakukan, nafasilah dengan cintaNya.

06-06-2010,

Tertarik dengan yang ini?

  • Cerita bernama “AKU”
  • Renungan Paskah- Pilihan
  • we are the reason
  • Pesan di kertas kuning kecil
  • Tangga – another story
  • Belajar dari Toko  Buku
  • Saat Menjadi Aku
  • #40MariBerbagi – Buka Topeng, Beri Senyum
  • #40MariBerbagi -Terlalu Sayang
  • Menatap Jalan

Leave a comment

Your comment