temptation
(Lusia Widijaningrum)
Hari itu, Jum’at ke V, hari pantang yang telah kutetapkan, membuatku tersiksa, ingin menyerah saja! berawal dari pikiran, membayangkan kepulan asap, tentu nikmat!, kali ini saja! tentu tak mengapa. “come on! don’t give up! kata suara putih itu. Baiklah kataku, menunggu sebentar, aku akan baik-baik saja, dan hari demi hari berlalu, sampai di penghujung akhir masa pantangku, memasuki masa “tiga hari suci” tak tertanggungkan rasa ini, di hamparan “altar putih” kutumpahkan semua yang bergejolak, tubuhku tumbang, tapi jiwaku tidak, hatiku bersorak riang, mengibarkan bendera kemenangan. Sungguh lebih nikmatnya rasaku saat ini, karena telah kusalibkan keinginan itu, di jalan yang telah kupilih.
“mau lihat bintang? pesan singkat yang kukirim kepadanya! di hari Jum’at malam, jantungku berdegup lebih cepat, keinginanku untuk mengulang kembali kenangan dua puluh tahun yang lalu bersamamu di tempat itu, telah menghanguskanku, melupakan “situasi” mu yang telah jauh berbeda! Kuteriakkan pada semesta, demi melihat bintang di tempat itu, kepada malam yang diam tak memihak, kepada air yang tercurah tanpa permisi, membasahi bumi tempatku berpijak, ” telah kusalibkan keinginan tubuhku”.
Kurenungkan kembali pergumulan yang juga kau rasakan,’mati atau tersiksa? maka kataku, lebih baik mati saja, dari pada tersiksa menanggung rasa bersalah kepada orang-orang kecintaan kita. Mari kita lupakan saja, semua kenangan yang telah lama terkubur, jangan di bangkitkan lagi.
Dan di puncak itu ada suara menggema, ada kisah cinta yang terukir di sisi-bukit sebelah timur, bahwa pada suatu masa ada seorang perempuan yang telah menyalibkan keinginan tubuhnya, memilih mati untuk memberi hidup pada laki-laki yang di cintainya.
(kenangan bintang di hargo dumilah)












