siapa gurunya? gimana kelasnya? gimana kitanya?

(Margaretha Dwi Hastuti)

Beberapa hari yang lalu, seorang mahasiswa setengah merengek, datang ke meja kerjaku
“Mba Retha, mau pindah kelas….” ujarnya dengan wajah inosens.
“kenapa?…”
“temen – temen saya di kelas “x” mba…saya sendirian di kelas “y”….kelas “y” isinya kakak kelas semua…”
“terus masalahnya apa?….” jawabku sambil mengecek sistem, apakah kapasistasnya masih bisa untuk 1 mahasiswa lagi, tapi ternyata batas maksimalnya sudah terpenuhi…
Kutatap mata anak itu, menunggu jawaban…matanya berputar mencari jawaban yang tepat.
“ya gak enak mba..dosennya juga gak enak…dosennya enakkan yang di kelas “x”…” ujarnya ragu.

“wah jawaban kamu gak bagus tuh…darimana kamu tau dosennya gak enak, kan baru satu kali pertemuan….” tanyaku menantang.
“ya gak enak aja mba…temen2nya, dosennya….pindah ya mba?!?!….”

Sejenak kualihkan perhatianku dari laptop yang ada di depanku….kulihat 3 wajah mahasiswa itu satu persatu, lalu kutatap mata mahasiswa yang merengek tadi….kubuka diskusi singkat dengan kalimat :
“menurut kalian, dosen yang bagus itu yang kayak gimana sih?….”
Satu persatu mereka mendefinisikan dosen “OK” menurut versi mereka…
“yang gak galak mba….”
“yang ngajarnya gampang dimengerti mba…”
“jangan terlalu serius….”
“gak pelit nilai….”
Dan bla…bla..bla….

“oh gitu…” ujarku singkat.

“tapi pernah gak kalian mikir, bahwa sebenernya dosen yang “galak”, “pelit nilai” dan “disiplin” itu justru malah dosen yang bagus?….” tiga mahasiswa itu terbengong mendengar kalimatku.
“menurut kalian, dosen yang bercanda2, ketawa2 dan gak serius itu dosen yang bagus kan? Tapi pernah gak kalian mikir, bahwa kalian disini bayar untuk belajar…bukan untuk entertainment…kalo menurut kalian dosen yang jago entertain mahasiswa itu adalah dosen yang bagus, kalian salah….kalian justru rugi…waktu kalian terbuang untuk entertainment itu…itu bukan intinya kalian duduk di kelas kan?…….”
Ekspresi setuju mulai muncul di wajah mereka.
“Dulu, waktu saya kuliah di LPK TarQ juga gitu….ada dosen2 yang dianggap “dosen killer”…sebut aja nama Ibu Maria Lies ato Ibu Widi…jamannya saya isi KRS dulu, sebisa mungkin jangan milih kelasnya dua ibu itu deh….tapi pernah satu kali gak ada pilihan lain, saya terjebak di kelas nya Ibu Widi….kebayang deh segala “urban legend” tentang beliau…” aku memberi jeda supaya mereka bisa mencerna kalimatku
(orang2 yang sering ngobrol sama gw, pasti sadar, betapa cepetnya gw ngomong….hehehe)
“tapi nyatanya apa? Segala “urban legend” itu gak terbukti koq….emang sih Bu Widi galak, tapi kan itu biar kita belajar disiplin…disiplin itu buntutnya, ngajarin kita untuk menghargai orang lain, dan menghargai waktu….emang sih Bu Widi suka bikin kuis mendadak, tapi itu kan biar kita belajar…emang sih Bu Widi suka nunjuk2 mahasiswa secara acak untuk jawab soal, tapi kan itu biar kita fokus ke pelajaran, gak Cuma bengong di kelas….”
“Kalian percaya deh sama saya….jangan menilai dulu sebelum ngejalanin….coba aja satu semester dengan dosen yang kalian bilang tadi dosennya gak “OK”….bandingin nilai kalian, ato ilmu kalian dengan mahasiswa dari dosen yang lain….bandingin apa yang kamu dapet, dengan yang mereka dapet….bisa aja kamu dapet lebih banyak ilmu dari dosen yang menurut kamu gak OK itu…terus, apa masalahnya kalo kamu sekelas sama kakak kelas? Toh mereka gak akan ngapa2in kamu kan? Bukannya enak sekelas sama kakak kelas, kamu bisa share ilmu dengan mereka yang pengetahuannya lebih banyak dibanding kamu…lagian kamu juga belajar bergaul dengan orang yang kamu anggap gak selevel (levelnya lebih diatas). Lagian, belajar itu bukan hanya berhubungan dengan sesuatu yang ada di buku, belajar itu banyak hal….belajar bergaul, belajar mengenal karakter orang, belajar mensiasati sesuatu….belajar beradaptasi… kalo yang saya bilang hari ini gak bener, ato gak terbukti, saya traktir kamu….inget ya…hari ini, jam segini, saya bilang begini ke kamu….ntar selesai semester ini, kamu dateng ke saya…cerita ke saya….kalo ntar ternyata kelas untuk mata kuliah ini mengecewakan, saya traktir kamu….” ujarku berusaha mempersuasi. Senyum tipis terlihat di bibir mahasiswa itu…aku tau, apapun penjelasanku, dia hanya mau pindah kelas. Titik.
“gimana? Terima tantangan saya gak?…kalo saya bener, kamu gak perlu traktir saya koq….gimana?…”
“Ya udah deh…gak jadi pindah kelas…..” ujarnya masih agak terpaksa.
“OK deh…gitu donk…nanti akhir semester kita ketemu ya…” tambahku mengakhiri pembicaraan.

Malamnya, aku me rewind peristiwa yang sama….dan membawanya ke konteks yang lebih besar dari konteks kuliah…dan mahasiswa…
Aku membawanya dalam konteks kehidupan, dan menjadi refleksi pribadiku…
Seringkali kita mengaku “berserah” pada Tuhan…”terserah” Tuhan…terserah Tuhan mau mendidik dan menempa kita dengan cara bagaimana, supaya kita bisa jadi manusia yang lebih baik….tapi tanpa sadar, mungkin kita mengucapkan doa ini : “Tuhan, mungkin dengan memberi masalah, Tuhan sedang ngajarin aku sesuatu…tapi kalo bisa Tuhan…..kalo bisa sih….mbok masalahnya ya jangan berat2 banget….”
Dengan kalimat lain, mungkin bunyinya jadi seperti ini : “OK Tuhan, aku mau dididik, tapi jangan jadikan peristiwa a, b, c, d sebagai gurunya….yang lain aja Tuhan, yang lebih smooth gitu..”
Dan berbagai kalimat sejenis….dan dengan kalimat – kalimat itu, sebenernya secara gak langsung kita menolak inti pelajarannya, menolak pelajaran utamanya….sama seperti mahasiswaku tadi….menolak….

Itu menurutku…menurut kalian?!?!…

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Leave a comment

Your comment