Anak-anak
(Maria Marselina)
Anak-anak
Suatu hari saya diajak keponakan yang baru berusia 6 th memasuki sebuah toserba yang sudah sangat dikenalnya. Ditunjukannya beberapa barang yang disukainya, seperti botol minum bergambar princess warna merah muda, serta sekumpulan boneka Barbie yang tertata rapi di etalase.
Kemudian saya tanyakan mana yang dia ingin beli saat itu tapi seolah tak mendengar dia berlalu sambil mengajak saya keluar toko tanpa ada yang dimintanya.
Sebagai orang yang lebih dewasa, dalam hal ini dewasa dari segi umur, saya mencoba memahami apa yang dipikirkannya. Ada beberapa kemungkinan dalam hal ini:
- Dia menyukai tanpa berniat memiliki,
- Dia menyukai dengan harapan suatu hari nanti akan dibelikan,
- Dia menyukai tapi sungkan untuk minta dibelikan, atau
- Dia menyukai tapi takut harganya terlalu mahal.
Dan jujur, ternyata tidak mudah untuk bisa berpikir seperti anak-anak walaupun kita sudah melewati masa itu. Tapi dari sedikit pengalaman itu dengan beberapa alternatif pikiran yang coba saya terka dari seorang anak umur 6 tahun ada satu hal yang bisa saya pelajari, yaitu bahwa di saat kita kesulitan memahami mereka, mereka sudah lebih dulu memamahami kita yang lebih dewasa dengan tidak memaksakan kesenangan mereka.
Minggu ini dalam suatu khotbah pagi saya diingatkan kembali tentang betapa banyak hal yang bisa kita pelajari dari anak-anak.
Ketika seorang anak disakiti oleh temannya, biasanya anak tersebut akan menangis dan melaporkan kejadian tersebut kepada orangtuanya. Dan lain waktu ketika teman yang pernah menyakitinya tersebut mengajaknya bermain, dengan senang hati anak tersebut menerimanya dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada orangtuanya. Dan sebagai orangtua, kita seringkali berkata, ”jangan! Nanti kamu dinakali lagi.”
Disini kita bisa melihat betapa seorang anak sangat pemaaf dan seolah tak peduli dengan masa lalu yang pernah menyakitinya namun orangtua lebih suka menyimpan dendam dan prasangka buruk.
Hal lain yang bisa kita pelajari dari anak-anak, yaitu bahwa mereka tidak khawatir akan masa depannya. Mereka fokus pada apa yang mereka lakukan saat ini. Ketika bermain, mereka akan bermain dengan sepenuh hati, ketika belajar mereka akan belajar dengan sepenuh hati dengan caranya, karena mereka adalah pembelajar yang sangat baik.
Anthony de Mello dalam salah satu bukunya pernah berkata,”Jika seorang anak melakukan kesalahan, jangan salahkan dia, tapi tanyakanlah pada diri kita dulu apakah kita merupakan penyebab kesalahan?”
Tapi yang menarik adalah bahwa bagi orang dewasa istilah ’anak-anak’ ternyata tidak lebih sebagai bahan untuk mencemooh.
Kita pasti ingat ketika (Alm) Gus Dur menyebut anggota DPR seperti taman kanak-kanak. Dan kita tahu juga bagaimana marahnya anggota dewan yang terhormat saat itu hingga akhirnya Gus Dur pun lengser dari jabatan Presidennya. Kita mungkin masih ingat juga ketika Taufik Kiemas menyebut SBY seperti ’Jenderal yang ke-kanak-kanak-an’. Kita pun begitu, seringkali marah ketika orang lain menyebut kita kekanak-kanakan.
Mengapa harus anak-anak..?? Apa yang salah dengan anak-anak..?? Mengapa kita menggunakan istilah ’anak-anak’ untuk merendahkan dan direndahkan..?? Yakinkah bahwa kita yang sudah lebih dewasa ini sudah memiliki sikap yang lebih baik dari anak-anak..??
Salah seorang Nabi besar mengatakan bahwa sesungguhnya anak-anaklah yang empunya kerajaan surga. Karena dalam diri anak-anak ada kemurnian, ketulusan dan kejujuran untuk mencintai dan memaafkan. Ini adalah hal dasar yang sudah semakin sulit ditemui dalam diri orang dewasa.
Jadi, yuuuk…. mari kita belajar dari anak-anak.
Thanks to Rm. Dri J
Bogor. 3 januari 2010
Tertarik dengan yang ini?












yukkkkkkkkk
hehehe…