Dan siang itu…

(Maria Marselina)

Tersentuh aku siang itu ketika membaca status seorang sahabat di situs jejaring sosial. Bukan kebiasaanku untuk beriba-iba atas penderitaan orang, karena aku bantu atau tidak mereka, orang-orang papa itu, toh akan tetap dapat melanjutkan hidupnya. Bukankah Tuhan punya rencana yang baik dan indah bagi masing-masing kita?? Itu pun kalau Tuhan memang sungguh ada, dan aku percaya mereka meyakini itu.
Lagi pula, aku tidak tahu bantuan macam apa yang bisa sungguh dapat merubah kehidupan mereka, karena kalau aku bantu dalam bentuk dana, paling hanya bisa menutup biaya makan mereka 1-2 minggu, atau mungkin sebulan kalau mereka super irit.
Belum lagi tingkat kebenaran atas penderitaan yang semakin sulit di ketahui.
Coba tengok saja pengemis yang biasa beredar di KRL jakarta-bogor, ini sungguhan… ada seorang Ibu yang mengemis di kereta sambil menggendong anaknya yang cacat karena tidak memiliki tangan dan kaki yang utuh. Suatu siang tidak sengaja aku lihat Ibu itu di televisi, sedang di wawancara di dalam rumahnya dan kondisi rumahnya..?? Bagus!!
Tembok yang diplester semen dan di cat rapi, lantai keramik putih, seputih gigi yang menghiasi senyum mereka, fyiiiuuhh….

Tapi membaca status sahabatku, sepertinya ada sesuatu yang lain.. entah kenapa, mungkin malaikat sedang merasuki pikiranku.. tapi cerita singkatnya telah menghadirkan suatu adegan film melankolis yang sungguh dramatis.

Anak itu bukan pengemis walaupun dia pernah mengamen di perempatan jalan, yang dia inginkan saat itu hanya kematian. Tumor ganas yang tumbuh di lehernya telah membunuh kehidupannya secara perlahan. Benjolan itu semakin membesar hingga menarik sebagian otot wajahnya. Binar mata anak-anaknya rusak dan tidak lagi berfungsi baik. Tapi dia tidak menangis apalagi mengeluh karena dia tahu tangisan dan keluhan tidak menjadikan segalanya menjadi lebih baik, bahkan hanya menambah beban dan luka hati keluarganya. Hanya terdengar sedikit erangan dan rintihan menahan sakit ketika ia mencoba menggerakan lehernya.

Dan siang itu, setelah sekian tahun lewat, sahabatku mengunjungi keluarganya dan dilihatnya anak itu… tergeletak lemah dilantai rumah yang jauh dari alakadarnya, berebut tempat dengan tumpukan kardus dan sampah yang dikumpulkan orang tuanya dengan jerih payah untuk sekedar dapat menyuapi 8 mulut yang menganga setiap hari.
Dan sudah pasti, tidak ada lagi sisa untuk sakitnya.

Dan siang itu, ditengah kebusukan rumah dan sakitnya, dia masih bisa mengembangkan senyum istimewanya menyambut sahabatku sambil mencoba menutupi gundukan daging yang tumbuh dilehernya. Dia terlihat bahagia. Mungkin kunjungan itu mengingatkannya kembali akan masa lalu ketika ia masih bisa berlari, tertawa, bernyanyi, berlenggak lenggok menari, sambil memeluk mimpi masa depannya. Beberapa pelajaran tambahan yang diberikan sahabatku baginya dulu dan anak-anak lainnya telah membuatnya berani mendekap mimpi. Tapi kunjungan itu seolah menjadi keputusan akhir yang memastikannya untuk berhenti bermimpi hidup.

Siang itu, dalam kalimat status sederhana sahabatku, bisa kurasakan ada kedukaan yang mendalam disana yang melibatkan gadis kecil tak berdosa, yang seolah mencoba untuk mengais mujizat dan belas kasihan untuk suatu kesembuhan.
Pernahkah kau rasakan saat Tuhan hadir mengetuk dan menyapa hatimu??
Dan kusadari, gadis itu telah menghadirkan Tuhan yang sebelumnya kuragukan ada. Dalam lukanya dia memberi pelajaran hidup betapa kita bukan siapa-siapa.

Dan siang itu, aku dan sahabatku sepakat untuk mengerahkan teman-teman di situs pertemanan tersebut untuk membantu malaikat kecil yang sedang berjibaku dengan maut.
Dan baru kusadari ada banyak malaikat di luar sana. Malaikat lain yang bersedia membiayai pengobatan dan sekolahnya.

Dan siang itu, ketika kabar sukacita dibawa untuk diberitakan, malaikat kecil itu sudah pergi menemui kebahagiaan kekalnya sendiri.

10 aug’09

Baca juga

  • Catatan Cinta
  • Being Mom: Imajinasi
  • StOp ” Menunda”
  • Kawasan Belanja Blok M
  • #31haringeblog – Prolog
  • High Heels VS Flat shoes
  • Apa Kabar?
  • Berjuanglah, Oma Coz We Love You
  • selembar janji
  • Tarian Tengah Malam

Leave a comment

Your comment