Don’t judge de book from de cover..

(Maria Marselina)

“idiiih…, siapa niih..?? foto profilnya udah kayak preman jahanam gini..”, gerutu Lini ketika membuka fesbuknya.

”beuuh..dasar abegeh, bahasa statusnya gak jelas gini… males deeh, kepala gue udah muter-muter tetep aja gue gak ngerti.., kenapa gak nge-add kaum sebangsanya aja sehh..??” kemudian ditelusurinya lagi profil laki-laki yang memintanya untuk menjadi teman mayanya. Sambil duduk berselonjor di teras depan, ditemani kicauan burung yang tidak sempat lagi dinikmati, Lini asyik menekan tombol-tombol kecil telepon genggamnya.

”Selamat pagi Mbak Lini.”

” eh, slamat pagi Mang,” sahut Lini tanpa mengubah posisi tubuhnya, tanpa melihat orang yang mengajaknya bicara.

Mang Yus, tukang kebun di rumah Lini tidak ingin mengganggu Lini lebih jauh, dia hanya tersenyum melihat gadis yang sekarang sudah dewasa itu asyik dengan dunianya. Diambilnya gunting pohon dan di potongnya dahan-dahan yang menggangu bentuk harmonis dari tanaman itu sendiri.

”Sedang apdet status di pesbuk ya, Mbak?” sapanya lagi sambil tersenyum kecil melirik ke arah Lini.

Sontak saja Lini berhenti dari aktivitasnya, ketakjuban menguasai kepalanya. Gilaa.. kok si Mamang bisa tau fesbuk segala..??? tuiiing…tuiiing… sirene ambulan mengaum mengitari kepalanya.

”haaahh..??! kok Mang Iyus tau fesbuk..??” kali ini dengan mata yang sungguh-sungguh menatap dengan bulat ke arah Mang Yus alias melotot.

Mang Iyus tertawa melihat respon Lini, kelugasannya dalam berbicara dan terlebih spontanitasnya dalam bereaksi tidak berubah sejak dulu.

”yah tau lah Mbak, Mamang sesekali masih suka baca koran juga kok, walaupun pinjam koran Bapak. Jadi sedikit-sedikit Mamang tau juga berita dunia, yaa… termasuk pesbuk itu.”

Lini hanya manggut-manggut salut mendengar penjelasan tukang kebunnya.

”Yang menciptakan pesbuk itu hebat ya, Mbak.” tambah Mang Iyus lagi sambil tetap mengerjakan tugasnya.

”Iya Mang. Fesbuk telah menyatukan dunia. Gak ada lagi batasan negara, semua orang bisa berhubungan dengan biaya yang sangat murah. Dunia seolah-olah seperti terangkum di dalamnya,” jawab Lini yang tidak lagi berkutat dengan telepon genggamnya. Keheranan masih menyelimuti dirinya. Dia berkata sambil melihat ke arah Mang Yus, berharap dapat masuk ke kepala Mang Iyus sehingga tidak perlu lagi menerka apa-apa lagi yang diketahui orang tua itu.

”Iya Mbak, merangkum dunia tapi sekaligus memisahkan kita dari dunia,” terangnya. Di ambilnya dahan-dahan yang terpotong dan dimasukannya ke dalam bak sampah yang ada di dekat pagar. Mang Yus berjalan kembali masuk dan menghampiri Lini.

”Maksudnya apa Mang?”.

”Maksud Mamang, kebanyakan orang sekarang yang terserang demam pesbuk seringkali lupa untuk menyapa orang yang justru ada di depan matanya, dan lebih suka menyapa orang yang jauh dan entah ada di dunia mana.”

”Contohnya, tadi pagi waktu Mamang datang. Kalau Mamang tidak sapa Mbak, Mbak Lini pasti tidak akan sapa Mamang. Jangankan menyapa, tahu Mamang datang saja mungkin tidak, iya tho?”, jelasnya sambil tersenyum.

”hehe…iya ya Mang.” sahut Lini, tanpa tau apa lagi yang bisa dikatakannya, speechless kata orang bule mah… Hanya tatapan kagum yang bisa disuarakannya.

Kemudian Mang Iyus beranjak untuk mengambil sapu ijuk, tapi dengan cekatan Lini menahannya.

”Maaang!! Sini deh..”

”Kenapa Mbak Lini?” jawab Mang Yus sambil kemudian kembali berbalik ke arah Lini.

”Ini lho Mang, ada orang yang meminta saya jadi temannya di fesbuk, tapi fotonya gak jelas gini Mang, sok jagoan banget, padahal kayak preman, huh! Nih, liat deh Mang fotonya, terus baca juga statusnya.. kalo Mamang ngerti arti tulisan dia jago deh.” Kemudian diulurkannya telepon genggamnya itu ke arah Mang Iyus. Mang Iyus menerimanya dan mencoba meneliti apa yang tergambar di atas kotak kecil itu.

”Anak kecil Maang, anak es-em-a.. hanya karena tinggal di kota yang sama aja makanya dia minta aku untuk jadi temennya. Tapi yang aku gak suka sama anak-anak abg tuh bahasanya itu loh Mang.. bikin keriting deh!” gerutu Lini lagi.

”Bahasanya bagus kok Mbak, ’Sesuatu yang mustahil sebagian besar adalah karena sesuatu tersebut belum pernah dicoba’ katanya,” ucap Mang Iyus sambil terbata mencoba mengeja tulisan yang tidak terlalu jelas karena matanya yang sudah tidak normal.

”Ah, masa sih Mang..??” ditariknya telepon itu dari tangan Mang Yus.

”eh, iya yaah, bisa bener juga nih anak. Dan canggih juga ya kata-katanya,” sambil terheran-heran ditatapnya profil orang yang ada di layar telepon genggamnya.

”Ya, sudah… dijadikan teman saja. Tidak ada salahnya kan Mbak menambah teman. Orang yang tampangnya begajulan belum tentunya hatinya juga awur-awuran. Toh, nanti kalau ternyata dia bukan teman yang baik, Mbak Lini bisa hapus dia sebagai teman Mbak Lini tho..??” Mang Yus mencoba memberi masukan.

”Weiiizz, Mamang emang pinter niih, iya deh Mang, Lini jadi’in dia temen Lini,” jawab Lini yang semakin kagum dan bangga karena tukang kebunnya ternyata bukan tukang kebun biasa.

Kemudian Mang Iyus pun menarik diri sambil membawa sapu ijuk yang dari tadi sudah digenggamnya dan melangkah ke halaman belakang.

Sementara Lini kembali berkutat dengan teman barunya. Di ceknya nama, tanggal lahir, status dan Lini tergagap ketika membaca tulisan dalam kotak yang menjelaskan siapa orang itu. Disitu tertera tulisan ’Gwe bangga sma bokap gwe, Mang Yus si tuwkang kewbon’.

”hah?! Mamaaaaaaannnnngggg….!!!!!”

130809

Dikantor pas males kerja.. :’)

Tertarik dengan yang ini?

Comments (4)

LiniAugust 13th, 2009 at 12:07 pm

hwakakaaaakkk….
asliii lucuuuu…
kereeenn…
thx Na, u brighten my day!!
I love you full!!

WillyAugust 13th, 2009 at 12:58 pm

Another story about fesbuk, selain tukang baso, supir angkot, ternyata ada juga versi tukang kebon… hmmmm tulisan ini mempunyai pesan moral yang kuat… (cie ilaaaa kayak yang bisa nulis aja hehehehehe (kritikus mode : ON)

fekhiAugust 13th, 2009 at 5:06 pm

hihihihihi… keceleeeee

SunariAugust 13th, 2009 at 5:14 pm

Tulisan yang menghibur.. terima kasih..
Terbukti lagi adanya manfaat dan mudharat pada sesuatu hal, disisi lain FB membuat kita terhubung dengan dunia, disisi lainnya FB membuat kita terlepas dari dunia..

Leave a comment

Your comment


five − = 3