Nyanyian Ibu (cerpen anak yg kurang anak2..?!)
(Maria Marselina)
Nyanyian Ibu
Halo teman, apakah kalian suka menyanyi? Waah, aku juga suka sekali menyanyi, Ibuku bercerita bahwa waktu aku masih bayi, Ibu selalu menyanyikan lagu-lagu indah untukku. Sekarang pun Ibuku masih suka bernyanyi tapi bedanya sekarang Ibuku kalau bernyanyi nyariiiing sekali. Aku rasa banyak diantara kalian juga sering mendengar Ibu atau Ayah kalian bernyanyi untuk menghibur kita atau sekedar menghibur diri mereka sendiri bukan? Tapi nyanyian Ibuku bukan nyanyian biasa, beliau tidak menyanyikan lagu seperti yang diajarkan Ibu guru di sekolah, bukan juga nyanyian nina bobo yang bisa membawa kita ke alam mimpi yang indah. Syair lagunya pun tidak panjang, dengan intonasi yang semakin tinggi di setiap ujung kalimatnya dan memperpanjang pengucapan untuk suku kata terakhir pada setiap kalimatnya. Aku beri contoh beberapa yaa…
“Ochaa…, kok makannya tidak dihabiskan, naaak..???”
”Kalau makan jangan diemut dong sayaaang..nanti giginya rusaaak!”
”Aduuuh, Ocha kok makannya lama sekaliii..?? lihat tuh kuahnya sampai habis diserap nasiii..”
Ya, benar! Namaku Ocha, sekarang aku bersekolah di taman kanak-kanak dan aku paling susah kalau disuruh makan. Aku sering mendengar Ibu mengeluh kepada Ayah karena sulit sekali menyuruh aku makan. Ayahku yang pendiam biasanya hanya meminta Ibu agar lebih sabar menghadapiku dan meminta Ibu untuk lebih kreatif membuat makanan biasa menjadi menarik. Dan aku tahu sudah banyak yang Ibu lakukan untuk mengubah kebiasaan makanku yang buruk. Mulai dari nasi yang di cetak menjadi aneka bentuk lucu, mie yang diolah menjadi beraneka makanan seperti keroket dan pizza, atau sayuran yang dibentuk bunga dan beraneka macam bentuk.
Tapi itu semua tidak mengubah keenggananku untuk menyantapnya. Kalian pasti setuju dengan ku bahwa jajanan diluar mempunyai rasa yang lebih enak. Tapi Ibu dan Ayah bilang bahwa makanan di luar sana belum tentu sehat. Seperti minuman beraneka warna seringkali tidak menggunakan bahan pewarna makanan tapi memakai pewarna pakaian, belum lagi penggunaan penyedap rasa yang berlebihan yang kata Ibu bisa membuat anak-anak pintar seperti kita menjadi bodoh.
Untuk mengatasi ini, Ayah dan Ibu biasanya mengajak aku untuk makan di luar setiap hari minggu. Tapi jangan mengira bahwa kami pergi ke rumah makan yaa, karena kami hanyalah keluarga sederhana, jadi biasanya Ayah dan Ibu mengajak aku pergi ke taman kota, mencari tempat yang cukup teduh disana dan memakan makanan yang Ibu bawa dari rumah. Sebenarnya aku sangat menikmati kebersamaan kami tapi lama-lama Ibu merasa capai karena di taman aku justru lebih leluasa untuk bermain dan berlari menghindar dan biasanya Ibu mengejarku untuk menyuapi makanan sambil bernyanyi nyariiing sekali memanggil namaku.
Pada suatu hari minggu, Ayah dan Ibu kembali mengajakku berjalan-jalan tapi kali ini selain membawa bekal makan siang yang banyak, Ibu juga menyiapkan beberapa buku pelajaran dan bacaan milikku yang sudah tidak aku pakai, mereka juga membawa beberapa baju bekas layak pakai punyaku yang sudah kekecilan.
”wah, kita akan pergi kemana hari ini Ayah? Mengapa Ibu menyiapkan begitu banyak bekal makan hari ini? Aku tidak mungkin menghabiskan semuanya, Ayah.”
”Kita akan pergi ke suatu tempat dimana kamu akan menemukan banyak sekali teman sebaya.” jawab Ayah menjelaskan.
”Banyak sekali? Sebanyak temanku di sekolah kah?”
”Tidak sebanyak itu sayang..” jawab Ibu dengan senyum sambil mengusap kepalaku.
”Lalu buku dan pakaianku akan dikemanakan, Bu?”
”Kita akan membawa ini semua untuk mereka, mereka pasti senang!”
”Tapi Bu, ini semua kan barang bekas? Nanti mereka tersinggung. Kalau mereka marah bagaimana?” tanyaku cemas memikirkan reaksi teman-teman baruku nanti.
”haha..baru kali ini Ayah lihat gadis kecil pemberani ini cemas”, goda Ayah.
”Ya, dan baru kali ini juga aku lihat Ayahku tertawa lepas!” balasku. Ibu tertawa dan terlihat bahagia melihat aku dan Ayah bercanda.
Setelah semuanya siap kami pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Agak sulit memang karena banyaknya barang-barang yang harus kami bawa. Tapi Ibu seperti sudah terlatih untuk mengatur semuanya, kami tetap merasa nyaman dan terasa lebih aman helm yang kami pakai.
Setengah jam kemudian kami tiba disebuah rumah kecil dan sederhana, ada tulisan Panti Asuhan Sinar Terang di depan rumah itu. Aku lihat beberapa anak dan seorang perempuan yang sudah lebih tua dari Ibuku datang menghampiri kami. Ibuku sempat memberitahuku dengan berbisik bahwa beliau adalah Ibu Panti. Ada gambaran sukacita di wajah mereka ketika melihat kami datang. Ibuku turun dari motor, membantu aku turun dan memberikan pakaian dan buku-buku tersebut ke Ibu Panti sementara Ayah memarkir motornya.
Ibu Panti mengucapkan banyak terima kasih dan meminta anak-anak untuk membawa barang-barang tersebut kedalam. Kemudian Ibu mengenalkan aku dengan Ibu Panti, ternyata beliau bernama Ibu Sari. Beliau adalah Ibu Kepala Panti Asuhan Sinar Terang. Beliau tidak sendiri mengurus panti asuhan ini, ada dua perempuan dewasa yang membantu Ibu Sari mengurus panti ini dengan sukarela.
Ibu Sari juga mengenalkan aku dengan anak-anak yang tinggal di panti asuhan tersebut, jumlah anak yang tinggal disitu ada 15 orang. Lima orang diantaranya sebaya denganku hanya mereka belum bersekolah. Ibu Sari bilang panti asuhan tidak punya biaya untuk menyekolahkan mereka di taman kanak-kanak, jadi Ibu Sari sendirilah yang mengajarkan anak-anak itu belajar membaca, berhitung dan bernyanyi agar ketika masuk sekolah dasar nanti mereka tidak kalah dengan anak-anak yang bersekolah di taman kanak-kanak. Sementara 10 anak lainnya lebih besar dari aku, mereka semua sudah duduk di bangku sekolah dasar.
Tidak perlu waktu lama bagiku untuk bisa bergabung dan bermain dengan mereka. Mereka terlihat berbeda, semangat mereka dan harapan yang terpancar dari wajah mereka menyatu dengan kegembiraan yang tidak dibuat-buat. Aku senang sekali.
Sampai tibalah waktu makan siang, Ibu dan Ibu Sari membuka bekal makanan kami dan menyiapkannya diatas tikar yang sudah digelar. Kami duduk membentuk lingkaran. Ayah memimpin doa makan untuk kami semua dan kami pun makan dengan gembira. Aku lihat anak-anak itu makan dengan lahapnya dan mereka sangat menghargai setiap makanan dan setiap pemberian yang mereka terima. Dan tidak lama setelah selesai makan kami pun pamit pulang.
Ketika tiba waktunya makan malam, aku menghabiskan seluruh makanmalamku tanpa menunggu teriakan dari Ibu. Ayah dan Ibu tersenyum sambil melihat ke arahku.
”Kok tumben makannya kamu habiskan? tidak pakai lama dan tidak pakai dipaksa lagi..” kata Ibu tersenyum. Aku pun tersenyum malu, ”aku hanya ingin menghargai setiap pemberian Tuhan seperti teman-temanku di panti asuhan tadi, Ibu.”
Dan sejak itu aku pun selalu menghabiskan makananku yang sudah disiapkan Ibu dan terjamin kebersihannya. Dan sejak itu pula Ibuku mengganti nyanyian nyaringnya dengan lagu-lagu merdu.
Tertarik dengan yang ini?











