Sepatu Hitam

(Maria Marselina)

Semilir angin mulai memasuki celah-celah kaca nako. Merambat masuk membelai lembut wajahku yang tengah terlelap persis di bawahnya. Ahh… sudah mulai sore pikirku. Rasa kantuk masih belum hilang, mata masih enak dengan posisinya yang terpejam, dengan guling kelempes yang pasrah saat kupeluk, dialasi kasur kapuk keras yang sudah bertahun-tahun isinya tak pernah diregenerasi.

“Ceelll…!! Bangun kau!” Mingming teriak dari depan jendela nako sambil membuka pintu kamarku tanpa permisi dan tanpa perasaan..gedubraakk..!!

Aiiih..berisik kali kawanku satu ini.. Kutarik bantal dari bawah kepalaku dan kupindahkan ke atas kepalaku untuk menutupi kuping.

”Cel! Bangun, Cel! Sudah sore inii.. iih, kayak kerbau kau niih!” suara Mingming menggelegar seperti mercon tengah hari, dengan logat Bangka dan kosa kata yang dicampur bahasa jawa.

“hehe..masih ngantuk neeeh… whooaaaa….”, ujarku sambil menggeliat merubah posisi tidur.

“Ceeelll….banguuuun…!! jemuran kau sudah kering tuuuh…” , rentetan suara Mingming tak berhenti, bicara soal jemuran, cucian, setrikaan sambil tangannya juga tak berhenti mengambil cemilan, atau lebih tepatnya remah-remah yang tersisa di dalam stoples di meja kamarku.

”Cel, kau bangun lah… ayo temani aku ke Beringharjo yook..?! aku mau cari sepatu hitam buat acara dikampusku”, ucap Mingming menderu sambil mengguncang badanku yang masih meringkuk di atas peraduan.

”hah?! Kapan? Pake apa?” tanyaku sambil menggeliat dan menguap.

”Ahh, manja kali kau niih… naik motor Bo’i, aku sudah bilang dia tadi… sekarang yook, mumpung masih jam 2 niih.. ayo, Cel!” katanya sambil menarik lenganku hingga terduduk.

”whooaaa….tunggu bentar yaa.. aku cuci muka dulu”. Ku paksa diriku berdiri, mengambil handuk yang kujemur di depan kamar dan melangkah ke arah kamar mandi.

Mingming memiliki nama asli Merry, salah satu teman kos ku yang ku anggap paling mengerti apa artinya kerja keras.  Setiap hari di sela-sela kuliahnya, dia memacu sepeda kumbangnya ke rental komputer tempat dia bekerja, demi untuk mencukupi kebutuhannya selama di Yogya.

Setelah selesai kami bersiap, Mingming mengeluarkan motor Bo’i dari garasi sementara aku membuka pintu gerbang dari besi yang hanya memiliki satu lubang persegi tempat Pak Pos memasukan surat-surat dan biasanya juga digunakan anak-anak kos untuk mengintip.

Kemudian kami pun melaju menuju Jl. Malioboro melewati jalan berdebu dan keluar di Jl. Gejayan, berbelok ke kanan dan melewati Monumen Tugu yang menjadi kebanggaan sekaligus maskot kota Yogyakarta. Setelah berbelok ke kiri kami pun memasuki wilayah Malioboro dan di ujung Jl. Malioboro itulah letak pasar Beringharjo.

Setelah memarkir motor, kami berjalan masuk menyusuri deretan kios yang menjual batik, dengan bau kain baru yang menyeruak, teriakan para pedagang dengan logat jawanya yang kental dan senyum ramah orang-orang memberikan kekhasan tersendiri pada kota yang masih sangat kental budayanya ini.

Kami susuri setiap gang di dalam pasar mencoba mencari kios yang menjual sepatu, tapi tidak ada, para penjual sepatu di disini hanya menjual sendal dan sepatu kulit warna coklat yang khas Yogya.

Aku dan Mingming pun bergegas keluar dari pasar dan berjalan ke belakang menembus kesibukan pasar. Di belakang pasar ada toko serba ada yang menyediakan berbagai macam kebutuhan sehari-hari termasuk sepatu. Kami pun masuk ke Toserba, melangkah menaiki tangga menuju ke lantai 2 dan bergerak ke sebelah kiri tempat beraneka macam sepatu dan sendal berjejer mencoba menarik hati manusia yang melewatinya.

”Ming, yang ini bagus niih.. coba deh..,” ujarku sambil menaruh sepatu pilihanku ke bawah dekat kaki Mingming.

”Iya, bagus cel..pas di kakiku,” sambil dilepaskannya sepatu tersebut dari kakinya dan dibaliknya sepatu tersebut untuk melihat label harganya.

”Lho, kok di taruh lagi..?? katanya pas..?” heranku saat melihat Mingming menaruh kembali sepatu tersebut ke raknya.

”Harganya yang gak pas, Cel.”

Kuraih sepatu itu dan kulihat label harga di baliknya. Hmm…Rp 29.900,-. Harga tersebut saat itu memang terasa cukup mahal untuk ukuran anak kos seperti kami yang biasa makan nasi telur seharga seribu rupiah.

Kami pun melanjutkan pencarian, tapi harga rata-rata sepatu disana memang berkisar pada harga 30.000-an.

”Ming, kau bawa uang berapa?” tanyaku tiba-tiba, mengagetkan Mingming yang tengah melirik ke arah sepatu yang sama-sama kami sukai.

Mingming pun mengeluarkan beberapa lembar uangnya, total ada 23.600. Kurang sedikit, pikirku. Maka aku pun merogoh kantung celanaku, mengeluarkan semua recehan yang ada. Seribu… dua ribu… tiga ribu.. kami mulai berhitung penuh harap.

”Ahh, kurang Cel. Uang kau hanya 4.700, belum lagi kita harus sisihkan 500 untuk bayar parkir motor,” ujar Mingming kecewa.

”Ming, kita pulang aja dulu, aku masih ada sedikit uang di kos. Besok kita kembali kesini, gimana..??” sahutku dengan penuh keyakinan.

”Tak usah lah, Cel.. aku tak mau merepotkan kau. Kita pulang saja, sudah sore.. yuuk..” ditariknya tanganku dan kami pun berlalu meninggalkan deretan sepatu dan sendal yang bertumpuk.

”Ming, kita coba cari di tempat lain aja, gimana?”

”Kau yakin toko lain menjual sepatu lebih murah dari toko ini..??” sanggahnya meleburkan keyakinanku.

”hehe..enggak sih,” kataku sambil tertawa mencoba menghapus sedikit kekecewaan yang menutupi wajah kami.

Mingming mengarahkan langkahku ke bagian lain dari toko, tempat sayur, buah, minyak dan kebutuhan sehari-hari lainnya di pampang. Aku mengikutinya mendekati area buah dan sayur, mencari kesegaran dari pendingin yang sebenarnya diperuntukan untuk sayuran dan buah agar tetap segar. Tak lama kami disana, dan kami pun keluar turun dan berjalan kembali ke arah parkiran motor.

Sore itu matahari masih menyisakan sinarnya, semburat merah di langit seolah memberi tanda bahwa sang surya akan pergi. Udara panas Yogya masih menguasai kami yang sedari tadi berjalan kaki.

”Cel, kau mau yang segar-segar tidak?” tanya Mingming saat langkah kami sudah semakin mendekati parkiran motor.

”Mauu… yuuk, kita beli es dawet di depan situ,” ujarku semangat sambil membayangkan kesegaran es yang akan membasuh kelelahan kami.

”Tak usah,” dikeluarkannya serenteng anggur ungu dari kantung celananya. Kurang lebih ada 7 anggur ditangan Mingming.

”hiyaa…kau ambil dari toko tadi itu yaa..??”

”ssst, makan saja!” tawa busuk membuncah dari wajahnya. Kemudian kami pun berbagi anggur yang jelas tak berlabel halal.

Sesampainya di tempat kos, kami duduk diteras depan kamarku. Keramaian sudah mulai mewarnai kos-kosan kami. Kegaduhan dan tawa gadis-gadis kos mengumbar seluruh ruang kos kami.

Mingming mengajakku ke belakang menuju kamarnya, setelah sebelumnya meminjam semir sepatu hitam punyaku.

Dikeluarkannya sepatu coklat yang sudah patah bagian bawahnya dan sikat gigi bekas yang sudah menghitam.

Diulurkannya sikat sepatu ke arahku, ”Nih Cel, kau semir sepatu yg sebelah kanan ya, kita hitamkan sepatu ini.. harus benar-benar hitam Cel, jangan sampai ada warna coklat yang masih terlihat,” sambil menatap sepatu coklatnya dengan mata berbinar dan mulai menyemir sepatu sebelah kiri dengan sikat gigi bekas.

”Ming, kau yakin mau pakai sepatu hitaco ini..?? Kau tak malu..??” tanyaku sambil menyemir sepatu hitaconya, sepatu hitam tapi coklat.

”Malu sama siapa? Sama kalian? Ahh, tidaklah. Aku lebih malu kalau harus menyusahkan orangtuaku hanya demi sepatu hitam. Mereka kirim aku untuk kuliah disini saja aku sudah bersyukur banget, Cel. Aku tak mau tambah beban mereka untuk hal remeh temeh macam sepatu ini,” terangnya dengan logat Bangka yang kental.

Sejenak aku tertegun menatapnya, kata-katanya seolah telah menamparku untuk kembali pada realita yang sebenar-benarnya.

Ahh.. Mingming… dia bukan saja menghargai kerja keras, tapi juga mengajari aku makna terdalam dari bersyukur. Dan juga mengajari aku untuk tidak ikut mengutil hehe…

Jakarta, 4sep09

Pringgondani 13 dalam kenangan…

Baca juga

  • BELAJAR FIKSI MINI KETIGA
  • Tentang Kamu
  • suatu sore saat kita bercerita dalam diam
  • HAMBA YANG JAHAT
  • Sebuah Harapan Seorang Gadis Mungil
  • SESUKAKU (DONG!)
  • Malam Terakhir
  • Pulau Onrust, Cipir dan Kelor Dalam Sejarah
  • Letih Ragaku
  • Kata dan Angin

Comments (1)

shinta mirandaSeptember 4th, 2009 at 3:40 pm

kreatif, ya..siapapun kita bila dalam keadaan mendesak(yang positif, tentunya)…
cerita yang positif dan membangun…terimakasih,ya !!

Leave a comment

Your comment