Sesak :’(
(Maria Marselina)
triing..
sms masuk.. aku baca pesan dari Abangku,
“MOHON DOA: untuk kesembuhan Rm. Harda Pr (Pastor Paroki Gereja Perbatasan) yang saat ini sedang koma dan sudah menerima sakaramen perminyakan di ICU RS. Mulia Cibubur Hayam. Mohon disebarkan ke umat yang lain.”
aku terdiam… mendung di luar menambah suram suasana…
“gak mungkin!”, sergahku… baru sebulan lalu aku datang ke Gereja Perbatasan dan kulihat Romoku masih sangat sehat dan terlihat sibuk menabur benih panggilan. Beliau tidak pernah sakit berat sebelumnya. Aku tahu banget, beliau selalu jaga kesehatannya!
Tapi kenapa saat itu aku tidak menemuinya? mengatakan yang perlu dikatakan…
tentang tulisan itu… tentang buku itu…
beberapa minggu belakangan aku malah sibuk dengan pikiranku, bagaimana jika buku itu nanti terbit? bagaimana aku memberitahukannya bahwa salah satu tulisan yang ada di dalamnya adalah tentangnya? bagaimana kalau Romo tidak berkenan?
aku menangis… bersama hujan yang membasahi semuanya…
“Tuhan… beri aku waktu…” isakku.
Segera aku menyelesaikan pekerjaan yang tersisa dan bergegas pulang. Hujan sudah berhenti, tapi basah masih menyelimuti.
Bersama teman aku mengejar bis metro mini menuju stasiun. Tapi kereta datang terlambat 15 menit dari yang seharusnya. Aku terdiam dalam kepasrahan. Melihat sekelilingku seperti berjalan melambat.
Pukul 19.00 kereta akhirnya tiba di Bogor. Gerimis kecil dan lembut masih terasa. Aku langkahkan kaki cepat, berjalan ke arah Gereja berharap pintu masih terbuka…
Tapi lagi-lagi harapan itu tak terpenuhi. Ku sebrangi jalan dan aku memutuskan pulang…
Aku berhambur memasuki rumah, “Buu.., Romo Harda koma!”
“hah?! tadi memang didoakan di Gereja, tapi gak dibilang kalau koma, hanya di bilang sakit.”
“kamu dengar dari siapa..??” tanya Ibuku panik.
“Si Tinong tadi sore sms ina, katanya Rm Harda koma.”
Kutinggalkan Ibu yang sibuk membahas Romo Harda dengan kakak perempuanku.
Ku masuki kamar dan ku bongkar album foto lama kami. Kulihat-lihat lagi foto-foto Romo Harda…
Saat itu akhir tahun 70-an. Baru beberapa minggu aku ada di dunia. Kulihat Ibu memangku aku, sementara Romo Harda merangkul Abangku yang tertua.
“Itu foto syukuran atas pembaptisan kamu. Romo Harda yang memimpin misanya waktu itu”, kata Ibu menjelaskan beberapa tahun lalu.
Kulihat juga beberapa foto waktu Romo Harda ditahbiskan dan foto waktu aku menerima Sakramen Krisma, Romo ada disana mendampingi Bapak Uskup kami.
Kubuka lagi lembaran foto yang lain, dan kulihat foto perayaan Natal Lingkungan. Aku sedang menari bersama beberapa kawan dan Romo Harda melihat kami sambil tertawa. Aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar waktu itu.
Di foto yang lainnya lagi, aku lihat Romo Harda berfoto bersama teman-teman SMA-ku. Pertengahan tahun 90-an, Romo Harda membantuku mengisi acara Retret SMA.
Aku ingat, sempat berkirim surat dengan Romo Harda sehubungan dengan acara Retret sekolah. Aku tarik laci lemari dengan tergesa. Kubuka semua amplop coklat yang berisi ijasah sekolah. Dan di amplop paling bawah, aku temukan surat-surat dari Romo Harda yang masih aku simpan.
Ada 12 surat semuanya, tertanggal antara tahun 1994 – 1996.
aku baca kembali semuanya. Sebagian di ketik, sebagian lainnya di tulis tangan. Tulisan tangan yang bagus jika dibandingkan tulisan tangan Ibuku.
Setiap suratnya selalu dibuka dengan kalimat yang standar, “Lin, suratmu sudah Romo terima…” selanjutnya beliau akan memberikan tanggapannya secara keseluruhan atas suratku sebelumnya, kemudian merincinya dalam bagian-bagian yang lebih detail. Selalu ada nasihat di dalamnya. Nasihat seorang Bapak kepada anaknya.
“Kan Romo sudah bilang, jadilah dewasa meskipun memang gendut dan anak bungsu, belajar yang baik, biar pinter, gak boleh nakal atau rewel saja yah ………..”
Ku dekap tumpukan surat itu. Dalam isakan tangis yang tertahan aku membawa semua kenangan dalam tidurku malam itu.
Minggu pagi, kami sekeluarga bersiap untuk ke Gereja. Dan lagi, doa untuk Romo Harda masih didengungkan.
Kuberjalan menuju Patung Bunda dan Hati Kudus Sang Putera, setelah usai peribadatan. Kunyalakan sebatang lilin sebagai persembahan…
Bapa,
dengan perantaraan Bunda dan Sang Putera
Aku mohon kesembuhan bagi Romo Harda
Beri aku kesempatan untuk membuatnya bangga melihatku
Beri Romoku kesempatan untuk bisa membaca tulisanku dan menanggapinya dengan kebijaksanaan yang beliau miliki…
Aku juga ingin dia melihatku ketika aku sudah mengenakan seragam pelayananku
Ikut menjadi saksi atas ikrar kesetiaanku
Untuk semuanya itu, Kau boleh lakukan apapun yang kau mau atas diriku
Biarlah penghuni surga menjadi saksi atas doaku ini.
Amin.
Dedicated to my Lovely Father, Rm. Yosef Hardjono Pr…













jadilah kehendak-Mu
amiinn…
info menarik, berguna banget, teruslah menulis terimakasih