Menali Mentari Menari
(Maria Rosa)
Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan karena sang pencahaya kian redup di ufuk barat. Selanjutnya kerlip bintang datang menyambangi kelokan langit. Berkelap dan berkelip memantau kehidupan dunia yang makin tak menyadari arti hadirnya nyawa, cahaya, dan cinta.
Nyawa, cahaya dan cinta. Ya, nyawa, cahaya, dan cinta kini terlarut dalam lengkungan langit yang memiliki berjuta bintang namun sarat akan kehidupan. Seperti sebuah lubang hitam yang menyerap semua nyawa, semua cahaya, dan semua cinta. Langit menyerap ketiganya hingga benar-benar habis dari bumi.
***
Aku adalah manusia pertama yang tak ingin menjadi orang pertama yang disia-siakan seperti manusia-manusia lainnya. Aku, namaku aku. Ya, perkenalkan namaku Aku. Ibuku memberikan nama yang indah itu agar aku bisa menjadi manusia yang dapat memegang teguh ke-akuan seorang manusia. Ibuku ingin aku dapat memanusiakan manusia, mengakukan aku, dan mengkamukan kamu. Singkatnya ibuku ingin aku dapat menjadi manusia pertama yang dapat memiliki sifat manusia.
Ibuku sedikit gila, ia mengaku padaku bahwa ia bukan manusia namun ia sangat ingin melahirkan manusia dan manusia itu adalah aku. Ibuku menyebut dirinya setan jalanan. Ia memang setan jalanan yang gentayangan di tengah malam mencari mangsa yang dapat memberikannya manusia-manusia baru seperti aku. Aku tak peduli akan manusia-manusia selanjutnya yang dilahirkan ibuku, namun yang pasti aku adalah manusia pertama yang dijadikan manusia oleh ibuku. Kini setan jalanan itu tak dapat menciptakan manusia lagi. Ia telah terbujur kaku. Mati. Kusebut mati bukan meninggal atau wafat karena seperti yang pernah ia katakan; ia bukan manusia.
***
Langit menepi, merapat, menggulung untaian nyawanya yang terbentang panjang. Malam datang lagi. Bintang bercahaya lagi. Cahayanya terlalu indah untuk dipandang oleh makhluk-makhluk yang mengaku manusia di luar sana. Aku sebagai manusia pertama yang benar-benar manusia, ingin menyimpan rapat-rapat cahaya bintang itu agar tak dapat dinikmati oleh manusia-manusia gadungan. Aku tak rela bintang ayu itu harus menyaksikan ribuan, jutaan, bahkan milyaran kejahanaman para manusia gadungan itu.
***
Kini aku hidup sendiri. Tanpa manusia sedarah yang disebut saudara, tanpa manusia terdekat yang disebut sahabat, tanpa siapa-siapa. Aku rasa mereka, manusia-manusiaan itu maksudku, tak pantas menjadi sahabatku, apalagi saudaraku. Mereka, Cih! Aku tak sudi memiliki hubungan apapun dengan mereka, mengenal mereka pun najis, haram bagiku.
Seperti yang pernah aku katakan, manusia yang benar-benar manusia adalah manusia yang lahir dari rahim ibuku, hanya dari rahim ibuku, rahim setan jalanan itu. Yang lainnya hanya manusia-manusiaan, manusia rekaan, manusia bohongan.
Mungkin dari tadi aku hanya membawa-bawa ibuku, tidak ayahku. Itu karena aku tidak tahu siapa ayahku, yang mana ayahku. Tukang bangunan kah, seorang guru kah, supir kah, mentri kah, presiden kah, kondektur kah, atau setan kah. Aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu. Yang aku tahu aku adalah manusia dan orang lain yang mengaku manusia, bukan manusia.
***
Pusaran bumiku kini terhenti di malam hari. Saat tak ada mentari dan yang lagi-lagi menari adalah bintang. Binatang-binatang jalang di bawahnya memandangnya dengan penuh ambisi dan nafsu. Mereka adalah menusia gadungan yang kusebu-sebut itu.
Air liur mereka menetes membasahi bumiku ini, menodai hijaunya alamku yang mereka babat habis sesuka hati. Kulihat disekelilingku banjir melanda lagi. Banjir darah. Aku senang menyaksikan manusia gadungan itu mengaduh, merintih, dan mati. Aku muak melihat tingkah polah mereka yang makin kejam. Mereka saling bunuh seperti binatang berebut mangsa, mereka saling merugikan bagai lintah yang kemarin menghisap pahaku. Mereka sangat memalukan, sebagai manusia aku malu melihat mereka mengaku-ngaku sebagai manusia.
Aku benci dengan semua makhluk yang mengaku bernama manusia itu, mereka mengaku sebagai manusia namun jiwa mereka adalah jiwa binatang. Mereka saling membunuh, menikam, mengkhianati, menipu, dan memeras. Aku benci akan kehadiran mereka semua. Aku benci mereka hingga aku ingin membunuh mereka satu per satu.
Ha…ha…, aku sudah membunuh salah satu dari mereka. Ia adalah setan jalanan, ibuku. Aku membenci ibuku karena ia pernah mengaku sebagai manusia.
-Maria Rosa-












