Sepur
(Maria Rosa)
“Sepur….,” Pangil Mamak.
Yang dipanggil diam saja, malah bergegas pergi entah kemana. Mamak mengerutkan keningnya yang penuh kerutan. Tiap kerutan yang bermakna perjuangan untuk hidup, menghidupi dirinya dan menghidupi Sepur, anaknya.
Sejak setahun yang lalu Sepur membisu, ia tak mau berbicara pada Mamaknya yang mati-matian menghidupinya itu. Mamak hanya lulusan SD, ijazah dan surat keterangan lainnya pun sudah pergi terbawa arus banjir. Jadi tidak ada harapan bagi Mamak untuk melamar pekerjaan di tempat yang layak. Dan tak ada harapan lagi bagi dua manusia itu untuk hidup layak.
Ah, yang penting bisa baca-tulis. Bukankah kita belajar samapi SMP, SMA,S1, S2,S3, hingga eS teler pun yang dilakukan adalah membaca dan menulis. Toh kita tidak akan bisa terbang, tidak akan bisa menjadi manusia tanpa dosa dengan sekolah setinggi langit itu. Toh di atas langit masih ada langit, untuk apa kita mati-matian meninggikan segala kemampuan. Di atas langit memang masih ada langit namun di bawah tanah pun masih ada tanah, mungkin aku lebih cocok menggunakan ungkapan ini. Serendah-rendahnya manusia, masih ada yang lebih rendah. Aku.
“Sepur …..,”
Setelah suaranya serak, Mamak lesehan di tanah yang becek terguyur tangisan langit. Bibirnya yang mengering dijilatnya dengan lidah yang tak basah. Masih adakah air untuk membasahiku!
Sepur tengadah di langit yang merona senja. Sepertinya masih ada sisa cahaya untuk mencari ampas makanan di stasiun yang bau keringat. Dapur yang menyajikan berbagai rasa tercipta disana. Seulas Sepur menemukan senyuman dibalik besi padat nyawa, sebuah kereta tua melintas dihadapannya. Angkuh. Namun ia suka itu. Kereta yang angkuh dan sombong, padahal ia hanya besi tua yang tinggal menunggu waktu untuk dikebumikan di pabrik rongsokan.
Hari ini setengah nasi bungkus lengkap dengan tulang ayam kecil tersedia di pojok bangku panjang. Entah malaikat mana yang menyisakan makanan itu untuknya. Berkah hari ini. Perlukah disyukuri makanan sisa ini? Nikmat. Sekali.
Mamak masih menjilati bibirnya, ada tetesan embun di sana. Akhirnya ada ludah yang tersisa untuk basahi bibir yang pecah-pecah itu. Perlukah disyukuri ludah ini? Berkah. Mungkin.
***
“Ini anak saya, Sepur namanya, ia berumur 16 tahun.”
Yang sedang dibicarakan diam saja sambil diam-diam melinting roknya hingga tersingkap sedikit. Yang sedikit bukan berarti tak memiliki arti, justru yang sedikit ini yang membuat segalanya menjadi besar dan nanar.
“Hmmm…, boleh juga. Tapi apa tidak terlalu muda?”
Mamak menggeleng dengan pasti hingga pipinya yang montok bergoyang-goyang. Yang dibicarakan masih diam. Mulutnya terkatup dengan sedikit gembungan di pipi kiri, bekas tinju Mamak semalam.
“Bagaimana Tuan?”
Tuan gendut bermata bulat itu pun mengangguk pelan namun tegas. Dan ketegasannya berlanjut dengan uluran tangan penuh paksa pada Sepur.
Malam itu sunyi.
Hanya kreot… kreot… kreot….
Mamak tersenyum memaksa mendengar kreotan kasur di kamar sebelah. Sejak malam itu Sepur mulai membisu. Kreotan yang terdengar turun-naik menghilangkan suaranya entah kemana dan entah dimana ia dapat menemukan suaranya kembali.
***
Sepur kembali ke istana rombengnya diiringi suara malam yang hidup dan penuh. Sepur kembali ke rumah untuk diam. Di rumah, Mamak tengah menunggunya pulang sambil memeluk tangkai sapu. Satu pukulan dihadiahi Mamak di punggung Sepur. Cukup untuk hiburan penutup hari. Hari yang panjang.
Mulut yang terkatup belum mau menganga, bila terbuka nanti, cium sendiri aromanya.
Mamak, seandainya kau tahu, aku diam menyimpan caci, menyimpan duka, lara, dan cinta yang kau balut dengan dosa. Aku punya air mata, kau pun sama. Aku punya mata , kaupun sama. Aku punya hati, kaupun sama. Aku punya mata hati, tapi kau tidak.
“Sepur…,” Mamak memecah malam
Lagi-lagi hanya diam yang menyahut.
“Brengsek!” Mamak merobek malam.
Tak ada jawaban.
Mamak perlukah kujawab panggilanmu, perlukah kusahut umpatanmu? Aku cukup senang kau caci, dan aku menanti kau cuci aku. Bersihkanku dari lumpur yang kau basuh di tubuhku. Noda ini, menghancurkanku. Andai kau tahu, aku diam menyimpan caci yang masih ingin kusimpan sendiri. Esok, esok, dan esoknya lagi berlalu selalu begini. Selalu ada luka dan duka, tapi ku cinta kau. Mamak.
Pernah aku berjalan melintasi masjid, kudengar ceramah yang mengatakan bahwa surga di telapak kaki ibu. Ibu? Mamaku maksudnya? Masih adakah surga di jiwa yang hina seperti itu? Jika memang ya, Mamak! Mana telapakmu biar kuciumi, biar kujilati hingga aku menemukan surga. Surga yang kau bentuk dengan dosa.
***
Malam ini dingin. Angin menusuk-nusuk kulit yang kendur. Si kulit kendur tengah tidur di kasur yang pernah menjadi saksi penderitaan Sepur. Entah mengapa wanita tua itu sering menangis ketika tidur. Air matanya keluar begitu saja tanpa sebab yang bisa diketahui. Sepur selalu mengelap air mata yang mengucur dan luhur di matanya. Sepur tak pernah bisa benar-benar tidur sejak malam kreot… kreot… itu…, selalu saja ada yang mengganjal ketika mulai berbaring di kasur. Sepur pun menjaga malam tiap malam dan menantang siang tiap siang. Ia akan benar-benar tertidur beberapa saat sebelum hantaman piring, gelas, sendok, atau vas bunga terjun bebas di tubuh lembeknya. Seperti jam wekker yang terlalu berambisi.
Hari ini sebuah garpu menghantam muka, dan gigi garpu itu menggores bibir hambar Sepur. Asinnya darah menjadi menu pembuka hari ini. Setidaknya Mamak telah memenuhi kewajibannya untuk membangunkan dan memberikan anaknya sarapan.













pahit, tapi disajikan dengan amat bagus. Keep writing, Maria!
bagus!
@ Fonny: panggilannya Rosa, Fon
@ fony : makasih…
@lini : iya, kebanyakan temen panggil aku rosa,.. tapi maria juga gpp… hahaha…