Bad Day (1)

(Martha Liumei)

Pulang ..gak..pulang..gak..pulang gak ya ? Kutatap langit – langit kamar kos ku yang sempit , berharap akan mendapat jawaban di sana. Ada keinginan untuk pulang, tapi aku malu karena baru seminggu yang lalu aku pulang kampung. Udah besar kok masih kolokan..pasti akan muncul kata – kata seperti itu dari mama. Pikiran iseng ku muncul,  kukeluarkan uang logam 500 rupiah yang ada di dompetku. Uang logam ini akan membantuku untuk ambil keputusan antara pulang dan tidak. Aku akan melemparkan koin itu dan jika gambar garuda yang di atas, berarti aku pulang. Tuing….plok…koin yang kulempar tadi , kini jatuh tepat di depanku. Segera kulihat sisi atas dari koin itu dan kudapati gambar burung garuda. Itu artinya besok aku pulang, hore…

Dengan semangat 45 kutunggu bus nasima yang akan membawaku ke Kalibanteng. Sebenarnya ada perasaan gak enak dihatiku sejak kutinggalkan kos tadi. Hati kecilku memintaku untuk tetap tinggal. Tetapi wajah mama dan papa membuatku mengabaikan perasaan itu. Bayangan wisata kuliner yang akan aku lakukan sesampainya di Tegal nanti membuatku ingin cepat – cepat sampai di sana.

‘Aduh…” teriakku refleks. Aku terkejut ketika tiba – tiba ada tangan yang menarik rambutku hingga aku terseret beberapa langkah dengan berjalan mundur.

“Siapa sih..sakit tau, tolong lepasin dong!” teriakku lagi sambil menahan sakit.

Tanpa menghiraukan teriakanku, sang penjambak terus saja menyeretku mengikuti langkahnya. Rasa sakit dan pedih semakin terasa dikepalaku. Aku berusaha minta tolong kepada beberapa orang yang aku lewati, tetapi mereka hanya menggelengkan kepala dengan ekspersi wajah yang aneh. Mengapa tidak ada satu orangpun yang mau menolongku ya? Siapa sebenarnya penjambak itu ?  kataku dalam hati. Dengan mengumpulkan semua keberanian ku, kuhentikan langkah dan kubalikkan badan . Tak kupedulikan rasa sakit di kepala yang semakin menjadi – jadi . Dan ..ops…Betapa kagetnya aku ketika kudapati seorang wanita dengan baju compang – camping, rambut yang entah sudah beberapa tahun tidak tersentuh shampoo, dan wajah yang jauh dari kriteria bersih tepat berada di depanku. Wanita itu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

Aku terdiam beberapa saat tanpa melakukan perlawanan. Aku takut kalau wanita itu akan semakin menyakitiku kalau aku melawannya. Pantas saja orang – orang itu tidak mau menolongku karena mereka juga sama takutnya denganku , kataku dalam hati. Kuputar otakku untuk mencari cara supaya dapat melepaskan diri.Permen, ya aku punya permen lolilop yang tadinya mau aku kasih ke adikku. Pelan – pelan tanpa menimbulkan gerakan yang berarti, kuambil permen itu dari saku. Kuacungkan permen itu ke hadapannya dengan harap – harap cemas. Kulihat senyum lebar menghiasi wajahnya seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.Dilepasnya tangannya dari rambutku dan diambilnya permen itu sambil pergi meninggalkanku.

Fuih…akhirnya aku bisa bernafas lega. Orang – orang disekelilingku masih menahan senyum setiap kali mereka melihatku, membuat wajahku menjadi merah menahan malu. Kuurungkan niatku untuk pulang ke Tegal dan kembali ke kos ku yang sempit. Coba tadi aku mendengarkan suara hati ku, tentu peristiwa memalukan ini tidak terjadi.



Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment