26 Desember

(Martina Felesia)

26 Desember

Bisa jadi adalah tanggal yang biasa2 saja bagi sebagian orang. Tapi menjadi tanggal yang tidak biasa2 saja bagiku. Selain berdekatan dengan hari Natal, tanggal 26 Desember menjadi tanggal yang amat istimewa karena pada tanggal itu aku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku. Ini adalah suatu keputusan yang amat sangat penting karena di sanalah masa depanku dipertaruhkan. Masa depan yang akan kujalani bersama orang yang disebut “belahan jiwa” seumur hidup dan sampai selama-lamanya.

26 Desember 1999

Desember menjadi hari2 yang penuh dengan taburan bulir2 hujan. Hampir setiap hari hujan turun dan tidak bisa diajak kompromi sedikitpun. Bukan karena ada something wrong kalau aku “kekeuh” untuk menikah di hari Minggu, tanggal 26 Desember 1999. Selain karena kesempatan cuti dari kantor yang sangat terbatas, hari itu adalah hari baik (menurutku) karena jatuh pada hari Minggu, bertepatan dengan pesta Keluarga Kudus menurut kalender liturgi gereja saat itu.

Meskipun pada awalnya penentuan tanggal tersebut membuat keluarga besar kedua belah pihak geleng2 kepala karena tanpa melalui kompromi terlebih dahulu dengan para sesepuh mengenai penentuan tanggal dan hari baik menurut mereka, toh akhirnya semua bisa dilaksanakan dengan senang hati meskipun dibumbui dengan sedikit keterpaksaan. Senang karena ada anggota keluarga yang mau menikah, terpaksa karena hari itu jatuh pada hari di mana sebagian saudara masih menjalani masa puasa menjelang hari raya Idul Fitri.

Aku ingat setelah menyelesaikan segala macam urusan administrasi antar pulau, baik secara gerejani maupun pemerintah, maka segala pernak-pernik urusan pernikahan akhirnya bisa kami selesaikan berdua. Memang tidak sempurna, tapi sedikit demi sedikit, berkat bantuan berbagai pihak, segala permasalahan mengenai detil2 pernikahan bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya, tanpa harus merepotkan terlalu banyak orang.

Romo paroki yang sedianya tidak mau memberikan pemberkatan pada hari Minggu, apalagi masih dalam suasana Natal, akhirnya luluh juga mendengar rayuan, yang sudah jelas bukan gombal, dari wajahku yang memelas kala itu. Akhirnya dikirimkannya satu orang romo untuk memberikan sakramen perkawinan, dengan catatan menikahnya tidak bisa di gereja paroki tapi di kapel kecil dekat rumahku (Sip! Memang itu adalah mimpiku sejak lama. Jika aku menikah aku mau menikah di kapel dekat rumah, di kampung di mana banyak sahabat dan teman2 masa kecilku tinggal).

Pada akhirnya, dari urusan menghias gereja sampai urusan koor menjadi sesuatu yang tidak terlalu rumit dan sulit meskipun aku tinggal di luar Jawa. Tinggal mengontak salah seorang sahabat lama yang kebetulan jadi pengurus lingkungan maka koor “dadakan” yang notabene penyanyinya adalah adik2 yang dulu pernah jadi murid2ku sekolah minggu bisa terlaksana. Beberapa lagu favorit dan buku panduan untuk misa sudah kukirim beberapa hari sebelumnya. Petugas liturginya adalah teman2 lama yang dengan senang hati membantu tanpa diminta. Dekorasi gereja tidak perlu menambah terlalu banyak karena masih menyisakan segala macam hiasan natal berikut miniatur gua dan kandang dombanya. Tinggal menambah beberapa rangkaian bunga hidup dan jadilah kapel kecil di kampungku menjadi suatu tempat untuk pesta pernikahan yang meriah.

Ditemani gerimis yang tidak kunjung habis, ditambah kehadiran beberapa sahabat dekat yang tinggalnya tidak dekat yaitu di luar kota, menambah semarak pesta pernikahanku. Kehadiran teman2 masa kecil yang diam2 menertawakan dandananku hari itu yang mirip putri keraton, dan dengan terang2an mengomentari gayaku yang harus berjalan pelan2 (sangat pelan malah) karena mengenakan jarit dan kebaya, membuatku harus menahan pipis sekaligus menahan tawa untuk menghindari make up yang bisa jadi rusak kalau dipakai cengengesan terlalu lama. Semua seolah tidak percaya bahwa akhirnya aku bisa menikah. Pandangan keheranan sekaligus meragukan muncul dari sahabat2 masa kecilku. Bagaimana mungkin ada mahkluk berjenis kelamin laki2 yang mau menikah dengan perempuan seperti ini? Nggak bisa dandan, nggak bisa masak, nggak bisa bergaya, dan yang parah lagi, nggak punya rok kecuali seragam sekolah.

Itu sepuluh tahun yang lalu.

Tahun ini adalah tahun ke-10 perjalanan rumah tangga kami. Tahun penuh berkat. Tahun penuh pelajaran berharga. Kadang pahit, kadang manis. Tahun di mana ikatan perasaan sebagai suami istri semakin erat dan dekat. Rasanya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Kedekatan kami lebih merupakan kedekatan seorang teman, seorang sahabat, daripada kedekatan sepasang suami istri.

Seorang sahabat akan rela melakukan apa saja untuk sahabat yang dicintainya. Seorang sahabat akan selalu ada di saat suka maupun duka. Seorang sahabat adalah mercuar di mana engkau bisa menemukan jalan pulang ketika mesti berjalan di kegelapan. Seorang sahabat adalah kepada siapa engkau bisa menyenderkan bebanmu di bahunya ketika sedang membutuhkan penghiburan. Seorang sahabat adalah lilin yang sewaktu-waktu bisa ditemukan ketika mati lampu.

Bagiku, belahan jiwaku adalah sahabatku dan akan tetap menjadi sahabatku untuk selama-lamanya, seumur hidupku.

Tertarik dengan yang ini?

  • Dear Mom
  • Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (1) Episode Melatih Chris Tidur di Kamarnya Sendiri
  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Mimpi Berhadiah
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • (Feels like) Stranger in My Own House Part 1
  • Bolu Kukus
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Lelaki Sepertimu………….

Comments (1)

fekhiDecember 29th, 2009 at 10:26 am

happy wedding anniversary yaaaa :)

Leave a comment

Your comment