CeM-CeMan
(Martina Felesia)
Jika ada yang mengatakan bahwa masa muda adalah masa yang paling indah, maka aku adalah salah satu orang yang akan menyetujuinya 100%. Tidak kurang dan tidak lebih. Bagiku ia bukan hanya menjadi masa paling indah, tapi juga menjadi masa penuh dengan berjuta cerita.
Hari itu aku berkenalan dengan seseorang. Tinggi, jangkung dan berparas lumayan. Senyumnya manis dan jabat tangannya erat tanpa basa-basi.
”Dion!” ia menyebutkan namanya.
Untuk ukuran tubuhku yang cenderung mungil ia tampak begitu tinggi menjulang. Tinggiku hanya sampai sebatas lengannya. Kukira-kira tingginya minimal 170-an cm atau lebih di atas itu.
”Tina!” aku menyambut uluran tangannya. Senyumku langsung mengembang begitu melihat keramahan yang ditunjukkannya.
”Dari paroki mana?” ia mengajukan tanya.
”Hati Kudus! Kamu?”
”Salvator!” ia menjawab. ”Kebetulan lagi libur, jadi bisa ikutan camping tahun ini. Sekalian cuci mata,” tanpa kutanya ia memperjelas jawaban.
”Oooo……!” aku mengangguk. Sama seperti dia aku juga ikutan camping karena kebetulan sedang libur sekolah. Beberapa minggu yang lalu Romo Iyus sudah mengejar-ngejarku untuk ikut. Daripada berjamur di rumah mending ikutan camping…..siapa tahu bisa dapat cem-ceman, itu alasannya.
Kurapatkan jaket. Udara dingin terasa mengilukan tulang-belulang. Tempat camping rohani kali ini lokasinya memang terletak di dataran tinggi. Dikelola oleh salah satu kongregasi susteran di Indonesia ia difokuskan untuk mengadakan acara-acara bagi kaum muda seperti kami. Lingkungan yang asri, dingin dan jauh dari keramaian sangat cocok sebagai tempat camping rohani.
Dengan cepat aku dan Dion menjadi akrab. Sifatnya yang agak pendiam klop banget dengan aku yang slenge’an. Intinya tiada hari tanpa senyum dan tawanya, jika aku sudah mulai bertingkah dengan banyolan-banyolan lucu ala Srimulat. Sementara aku sendiri begitu menikmati suara baritonnya yang terdengar hanya sepatah-sepatah setiap kali menjawab pertanyaan dalam ajang diskusi. Pipi dan hatiku terasa hangat setiap pandangan matanya tertuju padaku. Wahai, gejala apa pula ini?
Kami juga sudah tidak malu-malu lagi untuk sekedar duduk berdua, minum kopi, atau hanya terdiam memandang kabut dan dingin pegunungan yang menggigit-gigit rasa. Bagiku kehadirannya sudah lebih dari cukup meskipun ia tidak terlalu banyak berkomentar. Terkadang tanpa sadar tangannya mengacak-acak rambut kepalaku dengan sayang tanpa mengatakan apapun juga. Hanya senyum dan tawa. Serta tatapan mata yang membuatku mau tak mau diam-diam tersipu.
Hari terakhir setelah seminggu berkutat dengan acara refleksi diri, doa harian, sharing, diskusi kelompok dan lain sebagainya. Romo Iyus sibuk mempersiapkan misa penutup sore itu. Beberapa teman sibuk membantu mempersiapkan pernak-pernik misa sementara aku dan Dion mendapat tugas mencari bunga di sepanjang taman yang ada di susteran . Tentu saja aku dan Dion harus minta ijin dulu kepada suster penjaga jika ingin memetik bunga-bunga yang ada di situ.
Dion membawa dua vas bunga sekaligus. Aku membawa sebilah pisau untuk memotong bunga. Dengan lincah aku memilih bunga mana yang cocok untuk misa penutup camping rohani kali ini. Yang jelas bukan bunga mawar. Aku alergi dengan bunga mawar. Menurutku ia terlalu angkuh dan terlalu percaya diri. Jadi kupilih saja bunga-bunga aster sederhana dan beberapa daun sebagai penunjang. Pasti Romo Iyus suka.
Dion hanya memandangku. Sesekali senyumnya mengembang jika dilihatnya tubuh kecilku dengan tinggi yang tak seberapa itu, susah payah menggapai bunga-bunga di tempat agak tinggi. Dengan segera ia akan meraihkannya untukku. Dengan gampang tanpa perlu jinjit-jinjit kaki.
Tanpa sadar tubuh tingginya sering tersentuh olehku. Wangi. Bau sabun mandi. Diam-diam kuhirup dengan romansa pendekatan yang tak terucapkan. Hanya tatap mata. Hanya senyuman. Ditambah sedikit sentuhan. Dan kurasa itu sudah cukup. Toh kami berdua sebentar lagi akan berpisah? Sejujurnya aku memang tidak berharap untuk mengenalnya lebih jauh lagi.
Pisah? Ternyata tidak semudah itu. Setelah pendekatan beraroma cinta yang disuguhkannya padaku kala itu ia jadi seperti hantu yang dengan mudah bisa kutemui di mana saja.
Kami jadi sering bertemu di gereja. Sering bertemu di acara-acara Mudika. Di Gramedia. Di perpustakaan kota. Bahkan di teras rumah ketika tiba-tiba saja ia muncul di rumahku.
“Kamu kenal, Dion?” Imel sahabat karibku bertanya sambil lalu. Tangannya sedang sibuk memilah-milah deretan buku di toko buku Gramedia sore itu. Kami baru pulang gereja.
“Iya…! Kenapa?” aku menjawab sambil membaca Lima Sekawannya Enid Blyton. Sinopsisnya saja sudah menggugah selera, apalagi isinya?.
“Kalian pacaran?” ia bertanya lagi.
”Ha?? Pacaran? Nggak tahu!” dengan tampang tak berdosa aku menjawab. Mulutku tetap mengunyah permen karet yang dibagikannya waktu keluar dari gereja tadi. Disebut pacaran atau tidak sebenarnya aku tidak peduli. Yang penting aku dan Dion bisa saling mengisi satu sama lain.
”Lha, gimana sih? Tapi kalian dekat banget kelihatannya?!” Imel menatapku aneh.
”Ya nggak tahu saja. Yang jelas dia manis. Itu yang pertama. Terus dia tinggi. Jago basket lagi. Itu yang kedua. Dan yang penting adalah, dia menyukaiku, itu saja!” dengan enteng aku menjawab.
“Tapi Tin….,” kalimat Imel tergantung. ”Kamu kan alergi dengan daun muda?!” eskpresinya membuatku menghentikan langkah.
”Maksudmu?”
”Maksudku kamu tahu nggak kalau dia masih SMP? Sementara kamu? Badan dan wajahmu saja yang SMP. Sebentar lagi kita ujian akhir SMA Nona….!” Imel geleng-geleng kepala. ”Masih kelas dua lagi!” ia memperjelas posisi Dion.
”What?? Apa??? Masak sih?” aku hampir terkena serangan jantung. Untung jantungku kuat terpasang pada cangkoknya. Jadi aku tidak perlu menjadi tontonan di toko buku gara-gara pingsan mendadak.
”Iya….dia kan satu sekolah sama adikku. Santa Maria I….!”
Tiba-tiba saja aku kehilangan gairah. Semangatku menguap begitu saja, pergi entah kemana. Aku memang tidak pernah menanyakan sekolah Dion. Ukuran tubuhnya sudah cukup menyatakan kalau dia juga satu angkatan dengan aku. Dan wawasannya tentang berbagai hal tidak menunjukkan kalau dia beberapa tahun ada di bawahku. Wadoh….gimana ini ya? Ternyata oh ternyata…….!
Sejak mendengar pengakuan Imel, aku berusaha menghilang dari hadapan Dion. Aku tidak berani untuk menatap wajahnya. Aku takut menyakiti hatinya. Jalan satu-satunya memang harus menghindar dan melarikan diri untuk sementara waktu.
Dear Dion,
Maafkan jika beberapa hari terakhir aku terkesan menghindarimu. Maafkan juga jika dengan tiba-tiba aku berubah sikap terhadapmu. Terus terang saja aku memang tidak siap bertemu denganmu (karena suatu alasan yang suatu hari nanti engkau pasti mengerti).
Engkau boleh marah padaku. Boleh memakiku sesuka hatimu. Tapi kuharap kau tahu, bahwa aku akan tetap menjadikanmu seorang sahabat di relung hatiku.
Tetaplah menjadi Dion yang kukenal….karena jika suatu saat nanti Tuhan berkenan, kita pasti bertemu lagi.
= Salam hangat dari seorang sahabat =
Dan selesailah sudah cerita indah yang hampir saja dimulai bersama seorang sahabat yang disebut Romo Iyus sebagai cem-ceman *=*
(Cerita jadul sekitar 90-an)











