Fixing A Broken Heart

(Martina Felesia)

Laki-laki itu kukenal sejak masih ingusan.  Usianya empat atau lima tahun di atasku.  Bagiku ia adalah satu-satunya laki-laki yang menarik waktu itu.  Bukan karena berwajah tampan karena menurutku ia bertampang biasa-biasa saja.  Atau kaya raya banyak uang.  Tapi karena dia bertampang menyejukkan.  Dan menurutku ia adalah laki-laki paling lucu sedunia, karena di dekatnya aku selalu merasa gembira dan ingin tertawa.  Bisa jadi ia  adalah duplikat Charlie Caplin yang dikirimkan Tuhan untukku.

Waktu itu menjelang SMA.  Laki-laki itu begitu saja menyatakan cintanya. Tanpa kata.  Tanpa lagu.  Dalam diam ia merengkuh pundakku di bawah payung ketika hujan menderai-derai mengantar kami berangkat ke gereja sore itu.  Aku senang bercampur takut.  Diakah malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku?

Bertahun aku dan laki-laki itu  dekat dalam kediaman.  Aku tahu ia mencintaiku.  Sangat mencintaiku.  Aku bisa merasakannya.  Tatapannya.  Genggamannya  di tanganku.  Dan seluruh perhatiannya.  Di depannya aku luruh sekaligus ragu.  Apakah cintaku sama besar seperti cintanya padaku?

Ketika perjalanan cinta semakin samar dan aku semakin hampa.  Dengan ragu aku katakan pada laki-laki itu :  ”Sebaiknya kita berpisah!  Karena aku sungguh tidak tahu, apakah aku mencintaimu, atau sekedar berpura-pura mencintaimu.  Jadi kalau kau tanya alasannya, aku tak tahu.  Aku hanya ingin kita berpisah”.

Laki-laki itu tergugu.  Ia yang dulu kupikir begitu ceria dan setegar karang.  Wajahnya yang sejuk meneteskan air mata untuk kali kedua.  Pertama waktu Ayahnya meninggal dunia.  Kedua waktu kuucapkan kata pisah.

Hari itu aku belajar satu hal :  Adalah seorang perempuan yang bisa membuat seorang laki-laki tegar meneteskan air mata.

Laki-laki itu kemudian menghilang.  Angin rantau membawanya pergi.  Membawa kenangan di antara awan-awan.  Di mana ia sekarang aku tak tahu.  Aku bahkan tidak mau tahu.  Bisa jadi hanya Tuhan yang tahu.  Yang kutahu adalah :  Seorang  malaikat pernah dikirimkan Tuhan untukku.   Malaikat baik hati yang dengan kesadaran penuh kusakiti hatinya.  Malaikat yang selalu memberi cinta namun tak pernah menuntut cinta.

Laki-laki itu adalah gambaran angin kembara, yang berbagi kesejukan di padang gersang.  Ia adalah gambaran cinta tanpa pamrih.  Cinta yang telah menemukan kesejatian sesungguhnya.  Cinta yang rela mati untuk orang yang dicintai.  Bukankah  cinta memang tidak harus memiliki?



Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment