Intermezo Hari Kartini

(Martina Felesia)
“Bunda, Siapakah ibu Kartini itu?” tiba-tiba si Sulungku bertanya ketika kami sedang asyik menonton TV sore itu. Tangannya sibuk memegang remote control sambil memilih-milih channel yang disukainya.
“Loh….bukankah di sekolah sudah diajarkan?” aku balik bertanya. “Setahu Bunda ia merupakan salah satu pahlawan wanita yang dimiliki oleh Indonesia!” aku menjelaskan secara umum.
“Iya sih….aku tahu kalau dia itu pahlawan. Tapi pahlawan apa? Yang namanya pahlawan itu kan orang yang berperang membela tanah air dan berjuang sampai mati?!” ia bertanya lagi masih dengan gayanya yang cuek.
Aku sedikit bingung. Bukan karena tidak tahu apa maksud pertanyaannya. Tapi bingung bagaimana hendak menjelaskan arti pahlawan kepada seorang anak kelas 4 SD yang baru berumur sembilan tahun, supaya jawabannya tidak menjadi semakin membingungkan.
”Yang namanya pahlawan adalah orang yang berjuang untuk membela tanah airnya. Membela bangsanya. Intinya pahlawan adalah orang -orang yang membela kebenaran dan berjuang bagi orang lain terutama bagi mereka yang yang tertindas!” aku berusaha memberikan penjelasan.
Ia menoleh.  ”Apakah ibu Kartini berjuang membela tanah air sampai mati? Apakah ia ikut berperang? Bagaimana ia bisa berperang dengan memakai sanggul dan berpakaian seperti itu? Bagaimana caranya?” anakku masih juga mengajukan tanya.  Rupanya jawabanku kurang memuaskan hatinya.
“Yang Bunda tahu, Ibu Kartini tidak ikut berperang dengan menggunakan senjata. Tidak juga dengan menggunakan sanggul! Emang sanggulnya mau dipakai untuk melempar penjajah?” aku tersenyum lebar. Si Sulung ikutan terkekeh. ”Beliau berperang dengan cara yang lain. Berjuang melawan kebodohan. Pada jaman penjajahan dulu kan tidak semua perempuan bisa sekolah. Yang bisa sekolah hanya beberapa orang saja. Nah, ibu Kartini salah satu di antaranya. Karena beliau sekolah, maka ia ingin membagikannya kepada orang lain juga! Caranya dengan menulis buku dan memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak perempuan pada masa itu!”
”Kalau begitu teacher Yati dan teacher Etha pahlawan dong.  Mereka kan yang mengajar aku supaya pintar!” ia menyebutkan nama dua orang guru di sekolahnya.  Satu wali kelasnya sekarang, yang satu lagi mantan wali kelas.
”Lha itu Kakak tahu…..! Semua orang bisa jadi pahlawan, Kak. Dengan caranya masing-masing. Pahlawan bagi keluarganya, pahlawan bagi teman-temannya, pahlawan bagi masyarakatnya, pahlawan bagi macam-macam deh pokoknya!” aku menambahkan lagi.
”Kembali lagi ke ibu Kartini, mengapa ia diperingati setiap tanggal 21 April, Bunda?”
”Karena beliau dilahirkan pada tanggal 21 April. Mungkin kalau ia lahir di tanggal yang lain, hari Kartini tidak akan diperingati tanggal 21 April.  Betul tidak?” aku bertanya dengan gaya A’a Gym.  Iacengengesan.
”Satu lagi, mengapa di sekolah mesti pakai sanggul dan kebaya untuk memperingati hari Kartini?” lagi-lagi ia mengajukan tanya yang membuatku sakit kepala.
Sejujurnya pertanyaannya adalah pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku pada tahun-tahun yang telah lampau. Sebuah pertanyaan yang menurutku sungguh tak masuk akal. Jika mau dipertanyakan lagi, apa yang mau kita kenang dari ibu Kartini? Penampilannya atau semangatnya? Mengapa dari tahun ke tahun perayaannya hanya difokuskan pada gaya dan penampilan saja? Mengapa tidak pernah terpikir untuk memperingati Hari Kartini dengan kegiatan yang lebih positif lagi? Mengarang kek, membuat blog kek, memberikan kursus gratis kek, dll….dll….dll… kek..!
”Bunda rasa sekolah punya tujuan tertentu. Mungkin supaya murid-murid lebih mencintai kebudayaan masing-masing!” aku mencoba berkilah. Padahal dalam hati aku sendiri tidak setuju dengan peringatan hari Kartini yang itu-itu saja dari tahun ke tahun. Kalau tidak lomba berkebaya, lomba merias wajah. Kalau tidak lomba masak memasak, lomba merangkai bunga.
”Jadi ibu Kartini pahlawan budaya dong! Bukan pahlawan kebodohan. Buktinya, di sekolah-sekolah murid-murid disuruh pakai baju daerah!” si Sulung berkata lagi. Kali ini benar-benar membuat kepalaku pening.
”Bukan begitu, Kak. Baju daerah hanyalah sarana untuk mengingatkan saja.  Yang penting adalah, berkat perjuangan ibu Kartini, banyak wanita di Indonesia  boleh sekolah. Tidak duduk di rumah saja. Dan mereka pintar-pintar loh. Bisa membuktikan bahwa mereka sama pintarnya dengan laki-laki.  Ada yang jadi dokter, ada yang jadi astronout, insinyur, dosen, guru dan banyak lagi yang lainnya.  Kalau dulu ibu Kartini tidak memberi contoh, mungkin sampai sekarang kaum perempuan tidak bisa sekolah!” panjang lebar aku menjelaskan.  Berharap dia mengerti dan  tidak ada pertanyaan lagi.  Terus terang  pelajaran Sejarah sudah banyak yang kulupa.
“Kalau Bunda jadi ibu Kartini sekarang, apa yang akan Bunda lakukan?” tiba-tiba saja ia bertanya lagi.
“Bunda?  Bunda akan menjadi apa saja supaya keluarga Bunda bahagia!” dengan santai aku menjawab.
“Contohnya?”
“Bunda akan jadi koki supaya anak-anak bisa makan enak tiap hari.  Bunda akan jadi guru supaya anak-anak tidak kesulitan belajar setiap hari.  Bunda akan jadi dokter pada saat ada yang sakit di rumah ini.  Bunda akan jadi tukang cat jika rumah perlu dicat.  Bunda akan jadi pengarang jika anak-anak perlu cerita pengantar tidur.  Pokoknya Bunda siap jadi apa saja!”
“Wah….kalau begitu Bunda juga pahlawan dong….!”
“Semua ibu adalah pahlawan.  Yang penting bukan pahlawan kesiangan. Pahlawan yang bangunnya siang-siang!” aku menambahkan sambil terkekeh.  Hidungku kembang-kempis mendengar pujiannya.  Dan kepalaku terasa mengembang seperti balon.  Gak papalah dipuji anak sendiri.  Daripada nggak ada yang muji???  Betul tidak???

Artikel asli ada di sini.

Tertarik dengan yang ini?

  • Kartini ini adalah isteri, ibu dan juga teman
  • Wangi, tak lagi semerbak
  • ibuku, kartiniku
  • Kartini ( Hanya Milik ) Ku
  • Kartini ( Hanya Milik ) Ku
  • Seorang Istri bernama Ida Laksmiwati
  • Kartini(ku)
  • Kartini(ku)
  • Karena Kartini?
  • Karena Kartini?

Comments (1)

FemikhiranaApril 24th, 2010 at 9:55 am

yg ini ikutan di vote kan?
vote for mbak Tina.
karena tulisan ini selain cocok buat hari kartini, cocok juga buat hari pahlawan hihihi…
pokoknya top ajalah :D

Leave a comment

Your comment