Interview

(Martina Felesia)

“Hai….! Maukah kamu jadi pacarku?”

“Ha? Apa? Jadi pacarmu? Yang bener aja…..! Emangnya kamu tahu siapa aku?”

“Ya pasti tahulah…..masak aku nawarin pacaran sama hantu? Hantu kan nggak ada wujudnya, sedangkan kamu ada wujudnya”.

“Ee…jangan kurang ajar ya….emang aku wanita apa’an?”

“Loh…emangnya kamu wanita apa’an? Wanita jadi-jadian? Bencos dong…..!”

“Huuh..nyebelin banget sih kamu!”

“Lha nyebelin apanya? Apakah tampangku mirip garong? Ato mirip penyamun? Kok kamu malah marah2 sama aku? Tapi, semakin marah kamu semakin manis kok. Suer!” (sambil gaya angkat dua jari).

“Kamu nyebelin karena belum kenal sama aku sudah ngajak pacaran. Jijay dan lebay tau…!”

“Wah…wah….kalo jijay aku tau artinya…tapi kalo lebay?”

“Nah….lebay aja kamu nggak tau artinya… kok berani2nya ngajakin aku pacaran?”

“Jadi kalo aku tau arti lebay….kamu mau jadi pacarku dong?!”

“Kata siapa?”

“Kataku!”

“Enak aja. Jadi pacarku itu susah tau. Banyak syaratnya!”

“Alah…paling2 juga syarat untuk rajin diapelin, diajak nonton, diajak makan……..!”

“Wooooo…..ndeso banget sih. Itu mah kuno……!”

“Lha yang nggak ndeso kayak mana?” (sambil garuk2 kepala yang terus terang saja nggak terasa gatel).

“Pertama, dia harus tahu namaku. Nama panjang dan nama pendek. Ini untuk memastikan bahwa dia berpacaran dengan aku. Bukan dengan orangtuaku, bukan dengan saudara2ku, bukan dengan anjingku, apalagi dengan tetanggaku”.

“Terus?”

“Yang kedua adalah, dia harus punya pekerjaan tetap dan penghasilan sendiri. Bukan minta sama mak bapaknya, saudaranya, apalagi minta tetangga. Jangan sampai setiap punya acara di luar aku yang mesti nombokin dulu. Bisa kacau dunia persilatan kalau begitu caranya”.

“Terus?”

“Ketiga dia harus pandai melucu. Kalau pacarku lucu aku nggak perlu ngundang pelawak setiap kesedihan datang menghampiriku. Tidak perlu menghabiskan duit ke psikiater karena sudah ada orang yang dengan sukarela menyembuhkan luka batinku. Cukup dengan melihatnya tersenyum dan tertawa, minimal umurku bisa awet muda”.

“Terus?”

“Lha dari tadi terus2 melulu? Pengalaman pernah jadi kenek, ya?”

“Lho ini kan bagian dari upaya diplomasi. Katanya harus menjadi pendengar yang baik jika tidak mau ditolak”.

“O begitu….! Yang ke empat. Ia harus penuh pengertian dan tidak egois. Baik hati dan tidak sombong!”. Satu lagi, ini yang terakhir. Ia tidak boleh memaksakan kehendak jika ada pendapatnya yang tidak kusukai dan musti menerima aku apa adanya”.

“Ngg…..sepertinya aku memenuhi syarat2 itu tuh!”

“Eits…..tunggu dulu…..satu lagi syarat yang ter-apdet. Pacarku harus punya email, punya pesbuk dan punya blog!”

“Blog? Makanan apa pula itu? Apa bedanya dengan oblog-oblog?” (tambah garuk2 kepala).

“Itu nama sayur untuk lauk makan siang tau!  Waduh, masak blog aja nggak ngerti sih? Itu tuh….mirip2 buku diari yang biasa kita tulisin apa saja setiap saat dan setiap hari. Hanya saja ini make internet…jadi orang lain bisa bisa ikutan baca”.

“Wah….terus terang persyaratanmu lumayan berat. Tapi nggak papalah. Daripada nggak bisa pacaran sama kamu. Khusus untuk syarat ter-apdet, nanti aku diajarin ya? Biarpun nggak bisa ngeblog, paling tidak aku bisa baca blogmu. Itu kan tandanya aku perhatian sama kamu gitu loh…!”

“Dasar sableng!”

“Jadi gimana? Diterima nggak ajakanku?”

“Ajakan yang mana?”

“Ajakan untuk jadi’in kamu pacarku!”

“Mmmmm……okelah kalo begitu……! Sekali-kali bolehlah dicoba pacaran sama orang tinggi. Lumayan untuk tempat ngumpet kalo kepanasen”.

* Sejak saat itu, maka terjadilah seperti yang dinubuatkan bahwa seorang pendekar akan menikah dengan seorang perempuan yang tidak dikenal. Dan akhirnya setelah melewati masa perjuangan panjang, keduanya berhasil sampai ke pelaminan, menikah dan memiliki anak yg lucu2 sekaligus bikin puyeng. Semoga biduk rumah tangga yang telah mereka bina bisa berhasil sampai akhir hayat nanti dan bisa menjadi teladan bagi keluarga2 yang lainnya. Semoga.

Note : dicopy dari my blog hhtp://puisidancerpenku.blogspot.com

Tertarik dengan yang ini?

  • Love’s Melody
  • Mimpi Berhadiah
  • Leaving on a Jet Plane
  • Pohon
  • Kasmaran
  • Getar cinta
  • indah Kau pertemukan kami
  • Kidung Rindu
  • merajai mimpi III
  • merajai mimpi II

Comments (3)

FonnyDecember 14th, 2009 at 9:10 am

Mbak Tina, kisah nyata bukannn? Hahaha…Lumayan….Cukup menghibur…:)

MartinaDecember 14th, 2009 at 10:13 am

@Fonny : mirip2 sih……jaman dulu kan blum ada pesbuk & blog….cuman kupikir-pikir memang Tuhan Maha adil banget. Itulah makanya dibilang jodoh di tangan Tuhan…..! Aku yg cuman 149cm tingginya dikasih jodoh 180cm. Yo wes….lumayan….utk memperbaiki keturunan…..wkwkwk….

FonnyDecember 15th, 2009 at 4:05 pm

@ Mbak Tina: Lho, cilik ya, sama kayak aku, tp aku msh mendingan dikit, msh di atas 150 wakakak…:) Ih, jadi ngobrolin tinggi badan di wall YN, hahaha…Iyalah, memperbaiki keturunan banget tuh wkwkwk…

Leave a comment

Your comment