Kenangan Lebaranku
Dulu, setiap kali lebaran datang, bisa dikatakan aku adalah salah satu orang yang sangat antusias menyambutnya. Sudah terbayang di depan mata serunya liburan dan mudik ke desa di mana nenek dan kakekku tinggal. Biarpun keluargaku tidak merayakan lebaran karena kami non muslim, tapi keluarga besarku hampir semua merayakannya. Yang jelas lebaran adalah saatnya mengumpulkan seluruh anggota keluarga yang tersebar di mana-mana.
Jika kebetulan tidak mudik ke tempat nenek, biasanya kami hanya berkumpul dengan saudara2 yang tinggal di kota yang sama. Aku senang karena ikutan mendapat jatah baju dan sepatu baru dari bapak ibu. Kata ibuku sih biar tidak malu2in kalau mesti “ngider” keliling dari rumah saudara yang satu ke rumah saudara yang lainnya. Sejak itu lebaran menjadi ritual khusus bagi aku dan saudara2ku untuk mengharapkan baju dan sepatu baru.
Selain mendapatkan baju dan sepatu baru, yang kusenangi dari lebaran adalah berlimpahnya makanan enak. Para “bude” dan “bulik” dari pihak bapak maupun ibu pagi2 sekali sudah mengirimkan ketupat dan “lepet” (makanan terbuat dari ketan yang dibungkus daun). Ada juga yang mengirimkan lontong. Dan ada pula yang mengirimkan kue2 lebaran. Ibuku tinggal memasak opor ayam dan kami bisa berpesta ria makan enak selama beberapa hari. Belum lagi kiriman makanan dari tetangga kiri kanan. Wah, pokoknya ditanggung bisa makan sampai muntah kalau mau.
Seingatku lebaran adalah saat di mana semua orang berbagi kegembiraan. Lebaran adalah saat berkumpul, bercanda ria dan berbagi tawa. Yang tua, yang muda, yang miskin, yang kaya, yang pemalu, yang ramah, semua ingin bergembira. Aku ingat, tidak ada yang pernah menyinggung tentang kepercayaan kami yang non muslim. Tidak ada yang mempersoalkan apakah aku Kristen atau tidak. Bahkan saat bagi2 “angpao” , aku juga mendapatkan bagian yang sama seperti sepupu2ku yang lain. Rasanya indah sekali berlebaran di kampung halaman. Sama indahnya ketika pada saat merayakan natal, semua saudara dan tetanggaku juga datang untuk berbagi kegembiraan dan kebahagiaan yang sama.
Saat ini aku hidup di tanah rantau. Herannya biarpun sama2 Indonesia, banyak masyarakatnya yang bersikap seperti bukan orang Indonesia. Rasa persaudaraan, kebersamaan, sepertinya hanya menjadi omong kosong belaka. Semua sibuk memikirkan dirinya sendiri. Semua sibuk menciptakan sekat2nya sendiri. Semua orang punya persepsi tentang surganya masing2. Seolah-olah Tuhan hanya memandang mereka saja. Seolah-olah Tuhan hanyalah punya mereka. Perbedaan adalah haram hukumnya. Betul2 berbalik seratus delapan puluh drajat dengan warga kampungku dulu.
Ah, aku rindu lebaran yang damai. Aku rindu lebaran yang ceria. Aku rindu lebaran yang gembira. Aku rindu lebaran yang menampung semua orang. Merangkul semua orang. Aku rindu lebaran yang tidak memandang bulu. Aku rindu lebaran yang penuh warna-warni. Aku rindu lebaran yang menyejukkan semua orang. Aku rindu lebaran di kampung halaman.
Aku rindu mengucapkan salam lebaran kepada para saudara, sahabat dan handai taulan. Tulus, tanpa beban. Sama rindunya pengharapanku akan mereka, untuk mengucapkan selamat pada saat aku merayakan natal.
Tapi inilah Batam….dengan segala realitanya. Bukankah kenyataan terkadang tidak sesuai dengan harapan? Dan akupun terpekur……sejenak membawa anganku melayang…menjenguk kampung halaman tercinta.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H buat para sahabatku yang merayakan.












