Marahan Sama Tuhan
(Martina Felesia)
Beberapa bulan ini aku lagi marahan sama Tuhan. Lagi ngambek. Lagi nggak pengin menyapaNya walau hanya sepatah kata. Doa komunitas banyak absennya. Misa hari Minggu banyak bolongnya. Misa Jumat Pertama datang kalau ingat saja. Doa pribadi apalagi. Jangankan membuka buku ibadat harian (brevir), berdoa yang paling sederhana saja otakku suka error. Doa yang kudaraskan hanyalah doa ala anak-anakku menjelang mau tidur. Doa yang itu-itu juga. Tapi kurasa lebih menjiwai daripada doa yang manapun juga.
Selamat Malam ya Yesus
Terima kasih atas berkatMu hari ini
Sekarang Pilar, Altar, Lunar, Ayah, Bunda mau tidur
Berkatilah dan jagalah kami
Supaya besok boleh bangun
Dengan tenaga dan semangat yang baru
Dan kami boleh bermain kembali
Amin
Aku tidak ingat sejak kapan tepatnya aku marahan sama Tuhan. Aku juga tidak ingat mengapa aku mesti marahan sama Dia. Yang jelas semangat doaku telah terbang entah kemana. Tidak ada antusiasku. Tidak ada rasa cintaku. Semua terasa garing. Kosong. Seolah Ia begitu jauh dan tak tergapai oleh jiwaku. Padahal dulu aku merasa begitu sangat akrab denganNya. Begitu sangat dekat. Sampai-sampai sesibuk apapun Dia, Ia akan selalu ada untuk mendengarkan keluh kesahku.
Tapi itu dulu. Dulu sewaktu dengan mudah ia mendatangi aku. Dulu ketika acara-acara di televisi belum begitu banyak dan sebagus sekarang ini. Dulu ketika aku belum kenal banyak teknologi canggih seperti sekarang ini (chatting, Facebook, games online, de el el…de el el…). Dulu ketika aku tidak terlalu banyak klayapan ke mall-mall. Dulu ketika aku tidak terlalu merasa capek karena harus ikut memikirkan sekolahnya anak-anak yang makin hari makin memusingkan kepala. Dulu ketika belahan jiwaku nggak terlalu banyak lembur di kantor dan selalu ada untuk aku dan anak-anak pada waktunya. Dulu ketika aku tidak gampang marah dan ngambek kepadaNya. Dan ada banyak dulu ketika dengan mudah kujawil tangan Tuhan dan kuminta Ia untuk sebentr mampir ke rumahku.
Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku harus marah sama Tuhan. Toh bukan salahNya kalau hidup doaku jadi garing. Toh bukan mauNya kalau aku lebih suka nongkrongin film depan televisi atau sibuk online di internet daripada sekedar ber ”say hello” kepadaNya. Juga bukan tanggungjawabNya kalau aku selalu mencari-cari alasan biar bisa pensiun dari kegiatan gereja atau kegiatan rutin di komunitas. Kalau direnungkan kembali, kesalahan sepenuhnya bukan pada Dia. Kesalahan sepenuhnya ada dan sepatutnya kutanggung di atas pundakku. Dan seharusnya jika aku berani berkaca diri maka aku pun harus berani berkata :
Mengapa aku mesti marahan denganMu tanpa sebab yang jelas ya, Tuhan? Kalau bukan karena hatiku yang error pasti karena aku terlalu mudah tenggelam dalam kesenangan duniawi. Jadi, maukah engkau memaafkan aku? Mengampuni khilafku dan semua kenakalanku yang tidak mampu mensyukuri semua anugerahMu.
Terlepas dari Tuhan mau memaafkan dan menyapaKu lagi atau tidak, yang pasti aku bisa belajar satu hal bahwa Ia tidak akan pernah berubah. Manusia boleh berubah. Aku boleh berubah. Tapi Tuhanku tidak akan pernah berubah. Meskipun aku nakal, meskipun aku menyebalkan, meskipun aku menjijikkan, meskipun aku pantas untuk dilempari batu, tapi bagiNya, aku adalah anakNya. Dan akan tetap menjadi anakNya, apapun bentuk kenakalan yang telah kulakukan.
Tuhanku yang sekaligus adalah Sahabatku,
Sekali lagi maafkan aku yang begajulan ini
Karena setiap kali Engkau memanggil dan mengetuk pintu,
Aku berusaha menutupnya rapat-rapat
Hari ini dan esok hari,
Akan kuusahakan untuk menjadi manusia Yang lebih baik lagi
Mungkin tidak seperti saat sebelum aku marah denganMu
Tapi aku janji, Aku tidak akan membeli rantai atau gembok
Sebagai pengunci pintu
Jadi ketika Engkau datang
Tidak perlu lagi berteriak-teriak sampai sakit tenggrokan
Karena pintu sudah terbuka lebar untukMu
Tuhanku yang sekaligus adalah sahabatku,
Aku tahu Engkau sibuk sekali,
Tapi jika lewat depan rumahku
Jangan lupa mampir lagi
Supaya kembali kita bisa berbincang
Tentang hidup dan kehidupan
Terima kasih,
karena di tengah kesibukanMu,
Engkau masih sudi jadi Sahabat,
yang tidak akan pernah bosan mendengarkan
Segala uneg-uneg dan ocehanku
- Batam, November 2009 ; * ketika kulihat Engkau menangis darah untukku













walah, kok jadi marahan juga sama Tuhan
anak Tuhan yang pemarah jadi ada dua dong?
aku menangisss…hikssss….*yang juga lagi marahan sama Tuhan*
Mbuh Lin….kayaknya kalo marah nggak jelas emang malah bikin pusing ya……hiks
Baru aja baikan lg sm Dia . .
.memang betul ya teknologi mengganggu jam doa
Mungkin bukan sedang marah sama Tuhan….tapi tanpa disadari kita sedang marah sama diri sendiri….jadi selama belum bisa berdamai dgn diri sendiri bagaimana mungkin bisa berkomunikasi baik dengan Tuhan……
Whatever…Tuhan itu selalu bisa mengerti Anak-anak baik dlm keadaan senang..sedih apalagi kalo sedang marah….Tuhan selalu setia menanti kita kembali bicara sama Dia lewat Doa..
*mendadak merasa bersalah karena mempelopori tulisan senada*
@Lini : hiks lagi…..(ini gara2 Danny yg mo ngaku dosa kali ya?)
Aku sudah sembuh..
Kemaren sempet seperti itu, tapi malah gak dapat apa2, yang ada malah di “sentil habis-habisan”..
:’(
Tapi sekarang udah enggak lagi..
Makasih Tuhan..
=)
@ Tina: whoaaa…
woa…makasih mbak tina,T_T
seperti aku dipukul pake bata…hiks..mau dekat lagi ma Tuhan
@lini mm..mbak lini yg ada di milis gereja katolik bukan ya?