Marmut Ireng
(Martina Felesia)
“Woiiii……marmutttt……!”
Suara-suara samber itu bersahut-sahutan meningkahi langkahku. Begitu tiap hari. Suara-suara yang kubenci sekaligus kukangeni jika satu hari saja aku tidak masuk sekolah. Suara-suara yang terkadang membuat aku naik darah. Dan semakin aku naik darah, semakin senang para pembuat suara bising itu. Iya, itu adalah nama panggilan kesayangan dari teman-teman SD ku dulu.
“Marmut ireng……! Heiiii…..tungguuu……!”belum lagi yang ini. Nyebelin banget nggak sih? Sudah panggil nama orang seenaknya, ditambah lagi dengan embel-embel “ireng” di belakangnya. Marmut artinya kelinci (sejenis hamster ?). Ireng artinya hitam. Marmut ireng. Kelinci hitam. Nah loh. Siapa yang nggak marah kalau begitu?
Ireng? Iya sih. Memang kuakui kalau aku ini ireng. Sudah ireng, ngeyelan pula. Plus keras kepala pula. Tapi kata bapakku nggak ireng-ireng banget kok. Masih lebih ireng wong Irian. Biarpun ireng, paling tidak bentuk wajahku proporsional. Pas. Semua serba pada tempatnya. Manis. Lagipula kata bapakku lagi, hidungku bangir. Lumayan. Biarpun ireng, hidungku masih bisa dipakai untuk “tongkrongan” kacamata. Jadi bukan nggak ada nilai tambahnya. (Biasanya sih kalau bapakku yang mengatakan itu, aku jadi percaya diri. Mungkin karena bapakku bukan tipe pembohong ya?)
Gara-gara kulitku yang legam aku jadi sering kena omelan ibu. Biasa. Urusan perempuan. Ibuku mau aku rajin berdandan. Luluran kek, maskeran kek. Jadi biarpun item paling tidak aku terlihat seperti anak gadis pada umumnya. Cantik manis dan sedap dipandang mata. Tapi karena kekeraskepalaanku usaha ibu untuk membuatku jadi cantik selalu kandas di tengah jalan.
Aku lebih suka klayapan dengan teman-teman. Main sepeda keliling kampung siang-siang. Atau dikejar-kejar pak tani, yang batang pohon di sawah miliknya kutebang diam-diam untuk keperluan tongkat pramuka. Atau paling tidak bersama beberapa “berandalan” yang seide berlagak sok tahu dengan menjadi petualang dadakan. Menyusur tepian sungai di siang bolong atau berteduh di bawah rindangnya pepohonan sambil membaca buku. Intinya memutihkan kulit tidak melegamkan iya.
Satu lagi kebiasaan yang membuat ibuku sebal. Aku dengan gampang tertawa di mana saja. Tanpa malu-malu. Tanpa sungkan-sungkan. Pokoknya ada yang lucu spontan langsung “ngekek” tanpa bisa ditahan. Minimal tersenyum memamerkan gigi yang tak seberapa ini. Menurut ibuku, tidak sopan anak gadis tertawa sembarangan. Tabu. Pamali. Nanti nggak ada cowok yang mau melirik.
Ah, masak sih? Masak hanya gara-gara suka tertawa terus nggak ada cowok yang mau sama aku sih? Ah, ibuku memang suka mendramatisir. Buktinya, kebanyakan teman mainku cowok. Nggak ada tuh yang anti dengan ketawaku. Malah kalau nggak ketawa satu hari saja, semua berpikir aku lagi sakit gigi. Dunia serasa sepi seperti di planet antah barata. Dengan semangat teman-teminku akan bersusah payah membuat aku tertawa lagi.
Biasanya sih seluruh petuah dan nasehat ibu selalu kuiyakan tanpa pernah kulaksanakan. Kalau aku sudah bilang iya, omelan ibuku berkaitan dengan masalah kecantikan dan kesopanan akan berhenti dengan sendirinya. Dan selamatlah aku dari segala macam pernak-pernik yang menurut aku serba bikin ribet dan mumet. Jadi aku lebih memilih bilang iya daripada memberikan bantahan dan sanggahan.
Aku memang tidak akan pernah jadi putih. Kulit legamku tidak akan pernah jadi kinclong seperti kulit teman-teman putriku kebanyakan. Sampai aku dewasa aku tetap berkulit legam. Tapi aku bisa belajar banyak hal. Aku belajar untuk bisa menghargai kekuranganku. Aku juga belajar untuk menghargai kekurangan orang lain. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Tuhan sudah memberikan cetakannya masing-masing. Tidak ada yang terlalu lebih. Dan tidak ada yang terlalu kurang. Seperti kata bapakku, semua serba pas. Tepat pada tempatnya. Sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Jadi mau ireng atau tidak, aku tetap akan menjadi diriku, yang punya hobi tersenyum dan tertawa di mana saja dan kapan saja. Yang penting tidak tertawa sendirian. Ntar dikira gokil.
(Marmut Ireng……I like this name)













Marmut Ireng, I like your writing…hehehe.. Terus menulis ya…:)
he he he, baca tulisanmu bikin jadi segar, ceria.
Aku jadi inget waktu kecil seneng banget nyuri mangga Inderamayu tetangga yang masih ‘mengkel’. Rasanya puuaaasss kalau dapat yang gede. Langsung deh di’cocol’ pake garam. Fuihh,……..
menjadi diri sendiri itulah kuncinya ya toh hehehe
(nice post nih bia bercerita dan sangat mudah simengerti……”saia sulit untuk melakukannya huft sedih ney”)
saia itu apa jon?
barusan buka KBBI ga ada kata itu
hiks
saia = saya hehehehe
(kebiasaan kalu chat sama anak seumuran,,,,padaha sekarang sudah tua juga saya) hehehe
(hmmmm benar benar berdedikasi ni mbak lini buat mendidik baku=bagus bukan kaku
semangat ya mbak……..
(lima watt ni jadi rancu heheheh)
jon,
5 watt masih lebih bagus daripada byar-pet
Lha itu ceritane emang beneran….jadi gampang saja diceritakan…..! Aku agak payoyeh kalau harus ngarang yang beneran….imajinasinya suka tersendat di jalan karena musti ngurus para kurcaci hiperaktif di rumah yg suka gangguin kalau aku dah mulai megang komputer….! Untung ada Lini……..salut dua jempol ya Lin…..!