Mau U-U

(Martina Felesia)

Malam itu seperti biasa aku mengantarkan anak-anak tidur dengan iming-iming bahwa mereka akan mendapatkan sebuah cerita sebagai pengantar tidur.  Jadi jam sembilan tepat setelah semua selesai menggosok gigi dan mencuci kaki, merekapun menagih janji yang sudah kuucapkan beberapa menit sebelumnya.

”Sudah siap semua? Nah, sekarang Bunda mau mulai bercerita.  Ceritanya mengenai seekor anjing, si Kingkong (ini nyomot nama anjing temenku yang meskipun kupikir nggak nyambung banget dengan Kingkong beneran, tapi tetep kupakai sebagai tokoh utama ceritaku) dan seekor kucing namanya Manis…..”

“Bukan Anis, Buda….. Miong,” kata anak tengahku Altar dengan ucapan yang (seperti biasa) susah untuk diterjemahkan.

“Oke….si Meong,” aku segera meralat salah satu tokoh utamanya.

“Wuaaaah……!” tiba-tiba saja si bungsu Lunar menangis kencang-kencang.

“Lho….kenapa sayang?  Kenapa nangis?  Bunda kan lagi cerita ?” aku mencoba menenangkan.   Kutepok-tepok pantatnya seperti biasa jika ia mau tidur.  Tapi dianya malah makin kenceng nangisnya.

”Wuaaaaah……! Tak mau……!” tangisan dan teriakannya sudah seperti perang dunia ketiga saja.  Untung tetangga sebelah lagi pulang kampung.  Jadi tidak sempat mendengar kehebohan yang terjadi di kamar anak-anak malam itu.

”Jadi adik mau apa?” aku bertanya lagi.

”Mau uu…..!” ia mencoba menjelaskan dengan lidah cadelnya.  Maklum baru saja usianya menginjak dua tahun bulan kemarin.

”U-u?” aku bingung tidak mengerti.  ”U-u siapa?” tanyaku lagi sambil mencoba tetap bertahan dalam kelemahlembutan (ceile….^^)

”Adek mau u-u………! Uda ata u’uh,” sambil tetap menangis dan menendang-nendangkan kaki mungilnya.

“U-u apa ya, kak?” dengan bingung dan nyaris putus asa kutanya anak sulungku yang sudah separuh merem matanya.

“Pilar nggak tau…….!” ia menjawab sambil menutup kuping.  Jawabannya tidak memberikan penjelasan sama sekali.  Ngambang.

Halah….piye sih iki?” aku mulai erosi jiwa. ”Mas tahu adik mau apa?” aku mencoba melempar tanya pada anak lelakiku.  Diapun hanya menggelengkan kepala.  Tidak bisa menjawab karena sebotol susu sedang bertengger di dalam mulutnya.

”Wadoh……!” aku garuk-garuk kepala yang tidak gatal.  Lumayan pening ini.  Si bungsuku ini agak nyentrik soalnya.  Setiap kali nangis pasti susah berhentinya.  Kalau tangisannya nggak cepet dihentikan pasti ujung-ujungnya muntah.  Nah, yang repot pasti aku lagi.

Jadi aku mulai berpikir ala Sherlock Holmes.  U-U.  Siapa atau benda apa yang yang mirip-mirip  dengan kata u-u?  Kutu?  Ah, bukan.  Susu? Apalagi ini.  Lucu?  Bukannya aku sudah lucu?  Buku? Ah, ya…..!

”Adik mau buku?” kembali aku bertanya pada si bungsu yang masih sibuk memberikan irama naik turun pada tangisannya.  Sejak berlangganan majalah anak-anak biasanya aku memang suka memakainya sebagai referensi cerita menjelang tidur.

Tiba-tiba tangisannya berhenti.  Kepalanya mengangguk.  Pipi gembulnya dengan cepat mengembangkan senyum.

”Oooo…..adik mau buku…….!  Bunda ambilkan dulu bukunya, ya?” aku merasa lega.  Ternyata tebakanku betul.  Dengan segera aku mencari buku atau majalah yang dia maksud.  Karena sudah malam, akhirnya yang ketemu malah buku kakaknya, si Pilar, yang berjudul Cerita Anak Untuk 365 Hari.   Dan aku pun mulai bercerita sesuai dengan referensi yang diberikan oleh anak-anakku (mereka yang memilih ceritanya dengan cara menunjuk gambar yang mereka mau).  Dan masalah U-U pun dengan segera bisa diselesaikan.

Ternyata oh ternyata, punya anak tiga tidak menjamin aku bisa cepat mengerti dan memahami bahasa mereka.  Padahal dibanding dengan bapaknya, aku jauh lebih mengerti dan paham bahasa anak-anakku.  Buktinya si Ayah selalu minta translation jika salah satu dari dua anak yang masih balita ini sibuk bercerita dengan gaya bahasa mereka masing-masing.

Ternyata masih banyak yang harus kupelajari sebagai seorang ibu.  Harus selalu siap dengan kamus berjalan di otakku dan selalu menyediakan waktu untuk menjawab jika sewaktu-waktu mereka mengajukan banyak pertanyaan dari banyak hal yang terjadi di sekeliling mereka.

(Berbahagialah mereka yang tidak henti berusaha menjadi ibu yang  baik bagi anak-anaknya meskipun itu tidak mudah.  Berbahagialah anak-anak yang memiliki ibu yang tidak malu untuk selalu belajar, meskipun anak-anak terkadang  menyusahkan mereka)

Tertarik dengan yang ini?

  • Anak-anak
  • Aku belajar dari anjingku
  • Disiplin pada Anak
  • Aku Tidak Bodoh, Ma
  • Dear Mom
  • Mimpi Berhadiah
  • (Feels like) Stranger in My Own House Part 1
  • Aku vs Menulis
  • Bolu Kukus
  • Lelaki Sepertimu………….

Comments (1)

fekhiDecember 3rd, 2009 at 12:45 am

wehehehehe… lucu bangettt…

Leave a comment

Your comment