Memori Bulan September

(Martina Felesia)
Lomba Nulis Hari Aksara 2009

7 September.

Seperti tahun-tahun  lalu aku mengenangmu.  Tiada pernah bosan meskipun aku tak pernah tahu apakah engkau masih mengingatku atau tidak.  Hanya saja bagiku, 7 September selalu mengalirkan magma.  Kehangatan dan kenangan akan tawamu, jauh menusuk relung hati, dulu dan sampai saat ini.

Hari itu aku bertemu makhluk aneh.  Makhluk yang dibawa pulang Anas teman satu asramaku.  Makhluk sok jaim, yang senyumnya aduh, sungguh amat sangat mahal dan pelit sekali.  Padahal wajahnya nggak keren-keren amat.  Dengan kacamata minus begitu terus terang dia bukan tipikal cowok yang (bakalan) kusukai.  Pasti model serius dan nggak bisa diajak ”guyon”.  Minimal dari gayanya yang acuh tak acuh aku bisa menilai, dia pasti bukan tipe cowok yang menyenangkan.

”Ayo kenalan dulu.  Sekalian kamu temani ya, Tin.  Aku mau mandi.  Gerah!”  Seperti biasa teman satu kamarku itu (dengan sengaja) memerintahku dengan wajahnya yang syahdu dan suaranya yang mendayu-dayu.  Dan seperti biasa, aku tidak pernah bisa menolak.  Tipikal sahabat sejati seperti di buku-buku novel picisan.  Menyedihkan.

”Kris”.

”Tina”.

Begitu saja.  Datar dan tanpa basa basi.  Tidak ada senyum balasan untuk senyum termanis yang kuberikan.  Dan jabat tangan itu hanya sekedar formalitas.  Diam-diam kusumpahin mahkluk aneh itu.  Bikin ”tengsin” diriku aja.  Gimana nggak malu?  Aku yang sudah capek-capek tersenyum malah dicuekin begitu saja.  Padahal senyumku tulus.  Dan jabat tanganku bukan sekedar jabat tangan basa-basi.  Bukankah kita harus tulus dalam segala sesuatu?

Ah, nemu di mana sih si Anas?  Masak makhluk kayak ginian dibawa pulang?  Masih mending dianya ngajak aku ngobrol.  Ini malah sibuk membaca-baca majalah.    Aku jadi “bete”.  Diam-diam kuintip dan kuamati wajah yang sedang sibuk membalik-balik halaman majalah di depanku itu.

Lumayan.  Dapat poin enam setengahlah.  Kalau enam saja kasihan.   Kata guruku di SD dulu, nilai enam adalah nilai belas kasihan.  Untuk membantu mereka yang nilainya tipis, minimal harus dikasih nilai enam.  Dengan nilai enam, paling tidak sudah hemat biaya sekolah karena tidak perlu tinggal kelas.  Nah, makhluk ini, mendapat poin enam setengah.  Bagus kan?

Warna kulit kuning langsat (mendingan daripada kulit gosongku ini).  Hidung mancung.  Mata nggak lebar-lebar kali.  Sedang.  Badan proporsional.  Nggak kurus tapi nggak tambun juga.  Nggak tinggi tapi nggak pendek-pendek amat.  Sedanglah.  Tipe orang Asia pada umumnya.  Rambut tebal agak ikal. Ada bekas cukuran di dagunya.  Pasti pakai silet merek Goal.  Sampai nggak tersisa tuh jenggot.  Satu helaipun tidak.

”Ada yang aneh?”.  Suara itu mengagetkan aku.  Begitu tiba-tiba.  Makhluk itu mengajukan pertanyaan pada saat aku sedang sibuk melakukan pengamatan terhadap dirinya.  Ketangkep basah.  Walah, malu dua kali deh aku hari ini. Seperti biasa, aku menutupi rasa maluku dengan tertawa.

”Ah, nggak!  Hanya saja dari tadi kok serasa ngobrol sama patung.  Diam.  Hening.  Sunyi”. Aku mencoba berkilah.  Sedikit gelagapan.  Nggak nyangka kalau aksi ”nyolong-nyolong” and ngintip ketahuan.

Makhluk itu tersenyum.  Maniiiis banget.  Mirip ”gulali”.  Itu, jenis permen yang bentuknya lengket terbuat dari gula jawa (aku suka sekali dengan gulali waktu kanak-kanak).  Alamak.  Aku tahu yang bikin senyumnya terasa manis.  Ada lesung pipit di kedua pipinya.  Walah!  Kenapa nggak dari tadi-tadi dia tersenyum seperti itu.  Sekarang poinnya malah nambah.  Dari enam setengah menjadi tujuh setengah.  Hampir delapan.

”Saya bingung mau ngomong apa,”makhluk itu bersuara lagi.  ”Ke sini pun tadi ditodong sama Anas.  Disuruh nganter pulang,”ia menambahkan.

Ha, baru tahu dia kalau si Anas itu memang tukang perintah. Sudah banyak korban-korbannya di muka bumi ini (termasuk aku).  Dia pandai memanfaatkan wajahnya yang ”melas” untuk memanfaatkan orang lain demi kepentingannya.  That’s my friend, Anas.  Herannya aku kok ya betah berteman dengannya.  Mungkin karena kami seperti bumi dan langit.  Beda seratus delapan puluh derajad.  Kalau dua-duanya sama mungkin malah nggak klop ya?.

Sejak perkenalan yang memalukan , aku jadi lebih mengenal makhluk aneh itu.  Nama panggilan Kris.  Pekerjaan calon pastor.  Calon pastor?? Pantesan agak jaim.  Takut tergoda kali ya?.  Sial betul.  Apa wajahku tampang penggoda frater-frater?  Perasaan nggak deh.  Masih banyak kok di luar sana yang bisa di”kecengin” selain calon pastor.  Gila apa?  Gini-gini aku masih waras.  Ada pameo kalau orang sudah memutuskan diri jadi pastor, berarti dia sudah ada yang punya.   Jadi aku tidak berani main-main.  Apalagi jadi penggoda.

Tidak tahu asal muasalnya tiba-tiba saja kami menjadi dekat.  Dekat dalam arti aku bisa menjadi tempat curhatnya dan dia bisa menjadi tempat curhatku.  Ternyata dia tidak sesombong yang kukira.  Secara keseluruhan dia sungguh menyenangkan bagiku. Dan aku menjadi semacam tempat penghiburan baginya.  Secara tidak langsung, kami bisa saling mendukung dalam berbagai hal.

Entah angin apa yang membuat kami bisa dekat.  Aku bising mirip burung beo kepanasan sementara dia begitu hening diam menyejukkan.   Mungkin karena dia anak pertama dan tiga adiknya semua perempuan.  Itu sebabnya sikapnya begitu manis dan penuh kelembutan.  Dalam pandanganku ia selalu memperlakukan semua makhluk berjenis kelamin perempuan seperti dewi kahyangan.  Sopan.  Selalu penuh penghormatan.  Pokoknya aku merasa aman dan nyaman selama berteman dengan dirinya.

Sampai suatu hari ia membawa berita yang mengejutkan, ”Aku mau berhenti.  Mau keluar dari biara.  Mumpung belum tahbisan!”

”Serius kamu?”aku bagai disambar petir.  “Kenapa?”

“Nggak tahu.  Aku merasa gagal saja.  Tiba-tiba saja aku gamang mau dilanjutin atau tidak,”ia menambahkan lagi.  Kulihat suatu kedukaan yang mencoba untuk disembunyikan.  Mencoba untuk ditutup-tutupi.  Hanya saja semakin kudesak, semakin dia bungkam.

“Oke.  Nggak masalah.  Tapi paling tidak, jangan pernah tergesa-gesa mengambil keputusan dalam keadaan gamang.  Nanti menjadi penyesalan seumur hidup,”aku mencoba bijak.

”Engkau tidak kecewa, Na?”ia bertanya lirih.

”Tidak!  Mengapa harus kecewa?  Meskipun jujur saja, aku sangat berharap kamu bisa ditahbiskan menjadi seorang pastor suatu saat nanti”, aku tersenyum.  ”Engkau tahu, Kris?  Apapun adanya engkau, entah menjadi pastor atau tidak, engkau tetap yang terbaik bagiku,”aku menyentuh jemarinya sekilas.

Ia tercenung.  Entah karena kata-kataku.  Entah karena sedang berdiri dalam kebimbangan.  Matanya memancarkan duka.  Senyum manisnya yang menawan hilang entah kemana.  Ah, bagaimana mungkin aku memaksanya mengatakan sesuatu sementara ia sedang berusaha untuk tidak mengatakan sesuatu?  Hari itu aku merasa bahwa sebagian dari jiwaku ikut tercerabut dari akarnya.  Aku ikut sedih melihatnya sesedih itu.  Tanpa bisa berbuat apa-apa.  Tanpa bisa melakukan apa-apa.

Hari demi hari berlalu.  Berbulan-bulan.  Bertahun-tahun.  Sampai suatu hari kuterima sepucuk surat dari jauh.  Sepucuk surat undangan tahbisan imamat.  Disertai dengan selembar kertas warna biru bertuliskan tulisan tangan makhluk itu:

Dear Na,

Pada saat kau membaca ini, aku sudah sampai pada keputusan  yang paling penting dalam hidupku.  Suatu keputusan yang aku yakin akan mengubah jalan hidupku sampai akhir hayat nanti.  Suatu keputusan yang terasa amat sangat berat bebannya, sementara aku hanyalah seorang manusia biasa.

Terimakasih karena telah sudi menjadi teman, sahabat, adik dan penghiburan dalam hidupku.  Suatu berkat boleh mengenalmu secara pribadi dan mendalam. Suatu berkat karena dalam kesepian dan kegamangan panggilanku engkau tiba-tiba saja hadir.  Engkau dengan segala apa adanya dirimu.  Manis.  Bawel.  Suka merajuk.  Ngeyelan.  Tuhan sungguh amat baik karena mengirimkan engkau padaku di tempat dan di saat yang tepat.

Sesungguhnya waktu itu, ada yang  ingin kukatakan padamu.  Tapi aku takut merusak suasana hati kita berdua.  Aku takut merusak pertemanan yang terlanjur kita bina.  Aku takut merusak keindahan yang terlanjur kita cipta.  Engkau dan segala yang ada di dirimu adalah mimpi-mimpiku.  Engkau adalah sumber inspirasi sekaligus batu sandungan bagiku.

Setiap bersamamu, kusadari betapa dunia ikut tersenyum dan tertawa ketika engkau bersuka.  Kusadari dunia ikut terpuruk dalam kepedihan ketika engkau berduka.  Engkau adalah matahari di saat banyak orang berkubang dalam payungan mendung.Ceriamu membuat dunia girang riang ikut tersenyum dan tertawa.

Terimakasih karena sempat menjadi tempat sampahku.  Tempat kukeluarkan segala uneg-uneg hidup yang mendera sepanjang hari-hariku.  Engkau satu-satunya yang tahu dan mau memahami, betapa seorang imam tidak hanya perlu mendengar, tapi juga perlu didengar.  Engkau satu-satunyaorang  yang menganggapku ada apakah aku seorang imam atau bukan.

Akhirnya, setelah masa-masa kelabu, aku bisa juga sampai ke altar Tuhan. Terima kasih untuk semua yang pernah terjadi dan boleh kulalui bersamamu.  Engkau adalah semangatku yang pada akhirnya membuat aku bertahan.  Semoga engkau bahagia di manapun engkau berada. Tuhan mencintaimu.

Salam manis,

Kris

NB :  Undangan ini sebagai bukti bahwa akhirnya aku bisa sampai di depan altarNya.

Surat itu kubaca berulang-ulang.  Setengah tidak percaya dengan apa yang ditulisnya.  Bahagia bercampur haru.  Kertas warna biru itu lusuh dalam buraian air mata yang menetes jatuh.  Ah, Kris.  Seperti kataku dulu, apapun adanya engkau, engkau tetap sahabat terbaikku.  Tuhan akan menjagamu, di manapun engkau berada.

(Selamat Ulang Tahun Pastor)



Tertarik dengan yang ini?

Comments (17)

FonnySeptember 8th, 2009 at 12:33 am

Love it… Bagus Tin…:)

DewiSeptember 8th, 2009 at 6:08 am

Bagus banget tulisannya…simple but great..

shinta mirandaSeptember 8th, 2009 at 8:40 am

enak dibacanya…pilihan kata-kata ada yang bagus…pokoknya, ada bintang deh ..he he!!

RetnoSeptember 8th, 2009 at 12:14 pm

Ooouuw… so sweet…. aku sampai terhanyut…

fekhiSeptember 9th, 2009 at 9:12 am

bikin nangis hiks…

Dyana FsmSeptember 9th, 2009 at 3:38 pm

Luar biasa mbak Martina…mantapzzzz banget deeeeh ….. seperti gulali yg mbak tulis ….. sebuah ceriat yg simple tapi membuat kita mampu terhanyut saat menikmatinya …Good job …LANJUTKAAAAN …hehehehehhh

LiniSeptember 14th, 2009 at 7:28 am

bagus!

LiaSeptember 18th, 2009 at 1:46 pm

Great… bagus banged!!! I love it!!

anitaSeptember 18th, 2009 at 1:46 pm

woooooooooowwwwwwwwww

LiniSeptember 23rd, 2009 at 4:19 am

Komen dari mercy sitanggang (karna rollback kmaren jadi kehapus):
Sederhana tapi mengena…khususnya bagi pembaca katolik seperti aku… GBU

And The Winner Is…November 5th, 2009 at 5:26 pm

[...] Memori Bulan September (Martina Felesia) [...]

MaxiNovember 18th, 2009 at 11:05 am

Wow, bagus… rasanya seperti kembali ke masa lalu nih, hahahaha… What a sweet memory…

Shandra SyailendraDecember 2nd, 2009 at 6:50 pm

saya suka judulnya, suka bulan september, suka alur ceritanya. saya suka…(***** lima bintang utk mabk tina)

StefDecember 9th, 2009 at 12:31 pm

bagus….benaran atau ??

MartinaDecember 10th, 2009 at 12:03 pm

@Stef : generally beneran…tinggal di”rekayasa” biar jadi cerita yg enak dibaca….^=^

agatha meissiJanuary 9th, 2010 at 3:24 pm

bagus banget…
benar-benar menyentuh ceritanya

[...] Memori Bulan September (Martina Felesia) [...]

Leave a comment

Your comment