Secangkir Sajak Buat Lelaki Terhebat
(Martina Felesia)
Pagi yang hangat
Lelaki itu membangunkan aku dengan keharuman secangkir kopi
Dalam tatap romansa ia bertanya
“pahit atau manis?”
sementara dalam kantuk
kupaksa diri membuka mata
mengangguk untuk secangkir kopi kental manis buatannya
lelaki itu masih tetap sama seperti bertahun lalu
tetap lembut demi mengalahkan kekerasanku
tetap santun demi menenangkan kebrangasanku
tetap lucu demi menghibur duka laraku
tetap bersahaja demi memenuhi ideliasmeku
tetap ”alon-alon waton kelakon” demi menekan egoku
dan tetap “slow down wae”
meskipun tiap hari mendengar celotehanku
lelaki itu tak bisa kuprediksi
ia bisa jadi ayah yang kuat
sekaligus ayah yang lemah bagi anak2nya
ia bisa jadi suami yang menyenangkan
sekaligus suami yang menyebalkan bagi istrinya
ia bisa menjadi sahabat
sekaligus menjadi lawan untuk berdebat
ia bisa jadi pengambil keputusan
sekaligus pelaksana sebuah keinginan
lelaki itu masih tetap sama seperti bertahun lalu
tidak sepenuhnya sempurna
dan tidak sepenuhnya bercela
tapi bagiku
ia adalah lelaki terhebat
yang pernah ada di hidupku












