Suatu Hari

(Martina Felesia)

Suatu hari, ketika aku membuka profile seorang teman di salah satu jejaring pertemanan dunia maya.  Aku melihatnya.  Fotonya terpampang sebagai salah satu bagian dari teman yang kubuka profilenya.  Aku melihatnya setelah bertahun-tahun kami kehilangan kata-kata.  Kehilangan secercah sinar penunjuk arah, yang pernah menjadi penghantar hari-hari kami dalam sebuah persahabatan menyejukkan.

Yap.  Tiba-tiba saja semua gambar itu terbayang kembali dengan jelas di benakku.  Gambar-gambar manis masa lalu, yang jujur saja sudah mulai kubuang satu persatu dari ingatan.  Bukannya aku tak mau menyimpannya.  Hanya saja bagiku, cerita itu telah usai, meskipun perjalanan belum lagi selesai.  Dan tidak mesti harus selesai dalam sepersekian detik ketika waktu memisahkan segalanya.  Kusadari pasti, aku dan dia bukanlah kami yang dulu lagi.

*******

Aku dan lelaki itu tidak pernah menyangka bahwa kami akan dipertemukan oleh waktu.  Tidak pernah menyangka bahwa sang Yudistira yang berperangai lembut dan halus budi pekerti harus terkontaminasi dengan sang Srikandi yang biaya’an (opo ya bahasa Indonesianya biaya’an?) kayak aku ini.  Semuanya terjadi begitu saja. Tanpa ada alur cerita dan jenis adegan yang harus diperankan sesuai dengan perintah sang sutradara.  Tanpa ada paksaan.  Tanpa ada rekayasa.  Aku dan lelaki itu, sepakat untuk menikmati bentuk sebuah pertemanan yang kami sebut persahabatan.

Betul kata sebagian orang.  Sedikit banyak yang namanya sahabat berbeda dengan teman biasa.  Sahabat tidak pernah mempertanyakan mengapa engkau begini atau begitu.  Tidak pernah mempersoalkan apakah kau secantik rembulan atau seburuk itik di comberan.  Sahabat selalu rela memasang mata dan telinga untuk sekedar menjadi pemerhati yang baik atau pendengar yang rela untuk tidak dibayar.  Seorang sahabat adalah dia yang akan selalu menerima dirimu, apa adanya engkau.

Tidak pernah tahu mengapa aku begitu menyayangi lelaki itu.  Begitu mengasihinya.  Aku selalu merasa bahwa dia adalah bagian dari jiwaku.   Begitu juga sebaliknya.  Apa yang dia rasakan, secara naluri aku ikut merasakannya.  Apa yang kurasakan, otomatis ia akan ikut merasakan juga.  Senang atau susah, kami saling mencari untuk sekedar berbagi cerita.

Ini bukan nafsu. Ini juga bukan pertemanan semu.  Aku dan lelaki itu setuju untuk tetap setia pada jalur masing-masing.  Tidak ada tuntutan.  Tidak ada paksaan.  Persahabatan tanpa embel-embel apapun juga.  Ia biasa memeluk pundakku hangat.  Dan aku biasa menyenderkan keluh kesahku di dadanya yang bidang. Tidak ada nafsu.  Tidak ada embel-embel apapun juga.  Hanya ada rasa sayang.  Rasa berbunga.  Rasa yang membahagiakan.

Hanya saja aku dan lelaki itu barangkali lupa.  Aku dan dia bukanlah kami ketika mesti berpijak pada kenyataan.  Kenyataan yang dibuat oleh sepersekian persen orang di dunia ini, lengkap dengan aturan-aturan yang terlalu rumit dan membingungkan.  Untuk sebuah persahabatan tanpa embel-embel apapun, peraturan-peraturan itu begitu menyakitkan.

Bagiku, adalah suatu kesalahan jika mesti bersikukuh mempertahankan sebuah persahabatan yang tidak layak di mata para hakim dunia.  Mereka adalah para pemerhati etika yang (terkadang) kurasa malah tidak beretika sama sekali.  Bagi mereka, aku adalah batu sandungan bagi lelaki itu.  Lelaki yang telah dipilih Tuhan untuk menjadi alat di kebun anggurNya.

Begitu sempitkah nilai persahabatan jika mesti dipilah-pilih waktu dan tempatnya?  Begitu sempitkah nilai persahabatan jika harus ditentukan dengan siapa mesti menjalin rasa?  Bukankah persahabatan tercipta dari sebuah irama waktu dan kesempatan yang tidak disangka-sangka?  Yang tidak setiap orang mampu untuk meraihnya dalam hiruk pikuk dunia yang serba abu-abu ini?

******

Suatu hari, ketika aku melihat fotonya di tampilan profile seorang teman. Bisa jadi lelaki itu telah melupakan warna-warni persahabatan yang pernah kami jalani.  Tapi bagiku, yang namanya sahabat, kapanpun itu, siapapun itu, akan tetap menjadi kenangan abadi.  Tidak peduli di manapun ia berada kini.  Tidak peduli apakah dia juga akan mengenangku dengan pemikiran yang sama, jika suatu saat ia melihat fotoku di profile temannya nanti.

Wahai sahabat, apapun adanya engkau, di manapun kini engkau berada, engkau akan tetap menjadi sahabat terbaikku.  Karena engkau pasti tahu, persahabatan sejati tidak pernah diukur dari jauhnya jarak dan waktu.

Tuhan mencintaimu.

Tertarik dengan yang ini?

  • SAtu HAdiah heBAT..
  • Na, Jaga Diri Lu (2)
  • Kembali
  • “Apa kabar, Non?”
  • Sahabatku
  • Kita dan Teman Sejati
  • Ulang Taon
  • Sajak untuk Kota Lahirku : Langsa
  • Gebetan Baru
  • Siapa Sahabatmu?

Comments (9)

fekhiOctober 28th, 2009 at 8:11 pm

Masih seseorang yang kemarin ditulis buat lombakah? hehehe

Bertha SoerijantiOctober 28th, 2009 at 11:01 pm

iya emang susah kalo masih beredar di dunia yah, terlalu banyak hakim yang kadang2 di rumahnya ga punya kaca gitu…..
buat yang mengalami : yang penting rasa yang baik & indah itu tetap ada di hati, cukup kali yah ….

YennyOctober 29th, 2009 at 7:42 am

Aku suka cerita ini. Apakah kisah nyata atau tidak, cerita ini telah mengingatkan aku pada kedua sahabatku yang lagi bermusuhan. Seandainya mereka mau mengerti arti kata sahabat. Saat ini peperangan ini telah membuat aku dengan salah satu sahabatku itu menjadi jauh juga. Mungkin karena aku terlalu ngotot menyatukan kembali mereka, sehingga akupun kebagian getahnya. Tapi aku mengerti jika mereka tidak bisa menerima teori persahabatanku. Aku hanya berharap, dengan berlalunya waktu, dengan bertambahnya kedewasaan, mereka bisa menyadari dan kembali merindukan persahabatan kami. Dan akhirnya saling mengalah dan kembali berbaikan. Dan akupun berharap, jika saat itu tiba, semoga tidak ada kata gengsi memulai meminta maaf.

TinaOctober 29th, 2009 at 8:40 am

@Femi : wakakakak………jujur aku jadi takut add dia as my friend di Pesbuk…..^_*
@Bertha : iya…terkadang hanya sedikit org yang mengerti bahwa persahabatan itu adalah sesuatu yg tidak perlu diperdebatkan……:)
@ Yenny : Semoga…I pray for you….!

MartinaOctober 29th, 2009 at 8:44 am

@Femi : wkwkwk……….membuatku gentar utk add friend dia di pesbuk…..^_*
@Bertha : iya…..sometimes org suka menilai dari bungkusnya doang….!
@Yenny : I will pray for you…..:)

shinta mirandaOctober 29th, 2009 at 9:14 am

kadang, suka iseng juga nyari-nyari nama bekas pacar di friends…he he

MartinaOctober 29th, 2009 at 9:24 am

@ femi : Walah kok komennya jadi dobel2 ya? kirain yg sebelumnya nggak masuk…hihihi…busek’in dong Fem…..!
@ SM : walah mbak……yg mantan2 aku ora wani add…ntar GR….wakakakak…..

LiniOctober 29th, 2009 at 5:21 pm

@ Tina: yang pertama lagi pending udah masuk yang kedua hehehe…
@ Shinta: gue yang dicari-cari mantan. HALAH!!

mcDecember 9th, 2009 at 3:07 pm

sama dengan yg kualami,,,tapi bagiku prsahabtan itu ibarat teman satu bis,
dmn kita bersama dengan sahabat kita mnuju ke suatu tujuan. ada saatnya dimana dia akan turun dan kmdn naik dengn org yg baru dan tidak mengenal kita sama sekali,
tapi bukan brarti persahabatan itu hilang..dia hanya sedang asyik menemukan dunia barunya…

dan apabila dia turun dengan temn barunya dan naik seorang diri ^_^,
kita sebagai sahbat kembali bertugas,

itu mnrtku sih..

nice blog ^_^

Leave a comment

Your comment