Tebak-Tebak Buah Manggis
(Martina Felesia)
Seperti biasa sebelum sekolah di mulai, aku dan gengku biasa nongkrong-nongkrong dulu di bangku panjang depan laboratorium biologi. Seperti biasa pula, meskipun kami dibedakan oleh jurusan yang berbeda-beda di kelas dua SMA, tapi kami dipersatukan oleh kebawelan dan keunikan kami masing-masing. Namanya juga geng Bawel. Tidak heran kalau pagi-pagi acaranya sudah membahas berbagai macam gosipan yang tengah hangat dibicarakan pada saat itu. Jangankan ada yang dibahas, nggak ada yang dibahas pun semua sibuk menyumbangkan idenya masing-masing dengan celotehan-celotehan yang seringkali membuat kami tertawa terbahak-bahak mirip para preman di Pasar Senggol (nama pasar di kota Malang yang ramenya pada saat malam hari sampai menjelang pagi saja).
Sedang asyik-asyiknya ngrumpi, kami melihat pemandangan yang tidak biasa. Bu Zer, ibu guru sejarah kami, terlihat turun dari boncengan sepeda motor. Sebenarnya sih bukan masalah dia turun dari sepeda motor, dari angkot, dari mobil mercedes keren atau apa. Yang bikin mata kami melotot adalah makhluk keren yang kami lihat memboncengkan Bu Zer saat itu.
Makhluk itu terlihat keren banget. Wajah manis. Rambut gondrong dikucir. Kalau dari tampilannya sih sepertinya ia adalah anak, atau kalau tidak keponakan Bu Zer. Yang jelas, dari sekilas pandangan mata, umurannya bisa jadi sedikit beberapa tahun berada di atas kami yang masih belasan tahun. Masalahnya adalah, apa bener Bu Zer punya anak seganteng dan sekeren itu?.
Oya, Bu Zer adalah guru yang mengajar pelajaran Sejarah di sekolahku. Orangnya sudah separuh baya, dengan tampilan menor dan dandanan yang tidak pernah tepat pada tempatnya. Dalam arti pemakaian antara bedak, pensil alis, perona mata dan pewarna bibir selalu membuat kami (diam-diam) terkikik setiap kali melihatnya. Gayanya anggun, cenderung klemak-klemek (Jawa = terlalu pelan), terseok di atas sepatu yang entah kekecilan atau malah kebesaran di bawah kakinya.
Dari cara bicaranya saat mengajar, terus terang Bu Zer bukanlah tokoh guru idolaku, dan (ternyata) bukan idola anggota gengku secara umum. Selain ia sanggup membikin kami sering menguap pada saat pelajaran sejarah, penampilannya juga membuat kami tambah “nggak enak bodi” setiap kali memandangnya. Secara keseluruhan, menurutku ia lebih cocok jadi guru penjaga buku diperpustakaan daripada menerangkan pelajaran Sejarah. Sejarah yang peristiwanya saja sudah susah dibayangkan karena terdiri dari rentetan kejadian yang sudah lama berlalu semakin susah dicerna dengan penjelasan panjang lebar yang seringkali tanpa tujuan. Jangankan dibayangkan, diimaginasikan pun susah. Intinya gaya mengajar Bu Zer tidak pernah tidak selalu membuat kami ingin terkapar di atas bangku sekolah, tidak peduli jam mengajarnya jatuh jam pagi atau siang.
Kembali kepada makhluk keren yang kami lihat memboncengkan beliau. Dengan gegap gempita kami saling berbisik dan bertanya antar sesama geng, siapa ya kira-kira makhluk itu? Rasa penasaran membuat kami sepakat untuk menuntaskannya dengan sebuah perjuangan dan kerja keras.
Keesokan harinya, dan keesokan harinya lagi, tiba-tiba saja kami jadi rajin menunggu kedatangan Bu Zer. Bukan untuk mengelu-elukannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa atau apa, tapi sekedar memuaskan rasa penasaran, dalam memastikan keberadaan si makhluk manis, yang ternyata setiap pagi rutin mengantar beliau ke sekolah.
“Pagi ibu……..!”
“Ibu seger sekali pagi ini……!”
”Wah, ibu kok makin hari makin oke saja ya?” (sambil kedip-kedip mata satu sama lain).
”Sini, Bu. Saya bawakan tasnya…..!” (dengan gaya norak membawakan tas).
Biasanya Bu Zer hanya senyum-senyum. Tentu saja dengan tatap mata curiga. (Walah, ada apa ini? Para biang kerok yang biasanya selalu bikin ribut di kelas kok tiba-tiba beramah tamah sama gue? Mungkin begitu pikirnya). Dan biasanya tanpa malu-malu kami mengekorinya sampai beliau masuk ke dalam ruang guru.
Hari pertama, hari kedua, hari ketiga dan hari-hari seterusnya ketika kami sudah mulai merasa bosan melakukan rutinitas yang itu-itu juga. Keesokan harinya, dengan semangat empat lima kami sepakat untuk menyampaikan uneg-uneg kami, yaitu dengan menitipkan salam untuk si Manis. Tentu saja salamnya salam manis. Lha wong yang mau disalami pun orangnya manis. Jadi mesti kompak dong.
“Selamat pagi, Bu………..!”. Besoknya tanpa malu-malu, kami cegat Bu Zer di pintu gerbang sekolah.
“Pagi……!”. Seperti biasa ia menjawab dengan jawaban yang tidak terlalu jelas di telinga.
“Ehem……..! Ibu…..boleh titip salam, nggak?” Sawer bertanya dengan senyum malu-malu kucing (sampai hari ini aku masih terheran-heran kenapa kok disebut malu-malu kucing, bukan malu-malu anjing? )
“Titip salam? Untuk siapa?” jidat Bu Zer berkerut.
“Tentu saja untuk anaknya Bu….yang itu tuh…yang setiap pagi nganterin ibu….!” Rencek menambahkan.
“Oooooo……….!” wajah Bu Zer langsung berubah kecut. “Itu bukan anak saya……!”
“Lho…..jadi itu siapa, Bu? Ponakannya?” Anet tetap mengejar sebelum dijawab tuntas.
“Itu suami saya……!” jawab Bu Zer dengan gusar. Dengan langkah tergesa ditinggalkannya kami yang seketika terbengong dan saling pandang satu sama lain.
Bajigur! Jadi itu suaminya? Langsung saja langkah kami menjadi gontai. Tidak disangka dan tidak diduga, bahwa ibu guru yang selama ini kami anggap norak dan sudah separuh baya, ternyata suaminya seumuran kami. Walah……! Mau mringis atau nangis kami susah menentukannya.
Dalam sepersekian detik, tawa kami langsung membahana. Menertawakan ketololan kami sendiri. Itulah kalau asal tebak. Bikin malu saja. Lebih malu lagi kenapa untuk urusan yang satu ini kami malah ketinggalan berita. Setahu kami Bu Zer janda. Mana tahu kalau ternyata dia baru saja menikah di usianya yang menginjak lima puluh tahun.
Masih dengan ha ha he he dan gaya slengean, kami putuskan hari itu untuk cuti bersama. Kabur ke suatu tempat di mana kami bisa menenangkan diri dan menguasai rasa hati yang masih bergejolak dan berkecamuk dengan rasa tidak percaya. Biar sajalah di buku absensi tercantum A (Alpa). Yang penting sejenak kami bisa menjernihkan otak dan hati yang sudah terlanjur terkontaminasi dengan harapan dan angan-angan untuk bisa menitip salam untuk si mahkluk manis meskipun nggak kesampaian.
Dasar sial………sial…….!!!
*senengnya pernah berusia tujuh belas tahun…..^ – ^













jiahhhh… ini cerita beneran kan…? saiiikkkk bgt deh bacanya lha wong ak jadi sambil bayangin cowok ganteng itu koq…
@Thilio : bener kok….suer…..^^. Itu namanya tebak-tebak buah manggis, salah tebak bikin mringis (nangis?)…wkwkwk
wekekekekeeee… eh aku juga pernah sih sama temen ngikutin satu mobil yang kelihatan dari luar cowo ganteng. sudah deket sama motorku, pas noleh… ealahhhhh dosenku sama anaknya. hiksssssss
hahaha… baru komen, Mbak Tina… lucu…lucu…
Jadi, bukan berarti ibu guru dengan dandanan gak oke dan udah ada umur gak mampu menggaet cowok muda dan ganteng…
pissss…:)